Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Perayaan Tahun Baru (Masehi) ?

Banyak yang beranggapan bahwa perayaan tahun baru adalah urusan duniawi yang tidak ada kaitannya dengan akidah. Padahal secara historis, perayaan tahun baru Masehi tidak bisa dipisahkan dari tradisi dan ritual penyembahan dewa Janus dalam agama paganisme (agama kafir penyembah berhala).

Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke-46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu. (The World Book Encyclopedia, 1984, volume 14 hlm. 237).

Ke dalam agama Kristen, tradisi pagan ini diadopsi dengan menjadikan hari Dewa Janus tanggal 1 Januari menjadi Tahun Baru Masehi, sehingga muncullah pemisahan masa sebelum Yesus lahir pun (Sebelum Masehi/SM) dan sesudah Yesus lahir (Tahun Masehi/M).

Di Persia yang beragama Majusi (penyembah api), tanggal 1 Januari juga dijadikan sebagai hari raya yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus. Dalam perayaan itu, mereka menyalakan api dan mengagungkannya, kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan minuman keras (khamr). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.

Shahabat Abdullah bin ’Amr RA memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi IX/234: ”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Semoga kita tidak bersikap latah dengan ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi atau sekedar mengucapkan "Selamat Tahun Baru". Wallahul musta'an.
Share:

Selamat Hari Natal ?

Muslimin : bagaimana natalmu ?

Kristian : baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?

Muslimin : tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi toleransi trhadap akidah dan ibadah, agama saya melarangnya.

Kristian : tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?

Muslimin : mungkin mereka belum mengetahuinya, apa kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat?

Kristian : oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya.­­.. Itu akan mengganggu kepercayaan saya…

Muslimin : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah …

Kristian : sekarang, saya mengerti..

Dialog di atas saya hanya logika sederhana agar kita tidak sembarang mengucapkan “Selamat Hari Natal kepada umat Kristiani.

Memang Allah Swt. memerintahkankan kepada kita untuk membalas penghormatan yang diberikan orang lain (selain muslim) dengan yang lebih baik dari padanya, atau dengan yang serupa (lihat QS An Nisaa : 86). Tapi tidak dengan mengucapkan "Selamat Hari Natal". Sebagaimana mereka mengucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri. Walapun pengucapan ini berkaitan dengan aspek sosial (mu'amalah) tapi di dalamnya didasari pada aspek keyakinan (keimanan).

Bukankah Hari Natal adalah bagian dari prinsip-prinsip agama Nasrani, mereka meyakini bahwa di hari inilah Yesus Kristus dilahirkan dan Kristus menurut keyakinan mereka adalah Allah yang mejelma.  Dan pengucapan Selamat Hari Natal adalah simbol dalam peringatan tersebut. Pantaskah seorang muslim ikut-ikutan dalam mensyiarkan simbol keyakinan agama lain. Betapa kita sudah diperingatkan oleh Allah Swt. bahwa orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan pernah ridho kepada kita hingga kita mau ikut-ikutan seperti mereka (lihat QS Al-Baqarah: 120).

Dan kita, yang menyatakan diri sebagai seorang muslim ini, perlu hati-hati terhadap apa yang kita lakukan terutama perkara-perkara yang sifatnya syubhat yang belum jelas antara boleh dan tidaknya apalagi ini berkaitan dengan budaya agama orang lain. Berbuat kebaikan kepada mereka dalam hal ini adalah bukan dengan ikut-ikutan memberikan selamat Hari Natal akan tetapi dengan tidak mengganggu mereka didalam merayakannya.  Bukankah Rasulullah juga sudah memperingatkan, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Smoga kita tidak menjadi bagian dari mereka. Wallahul musta’an.
Share: