Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Membangun Rasa

Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya dalam benak kita sering muncul “perasaan”. Wajar, karena pada hakikatnya manusia diciptakan dengan memiliki rasa. Atau dalam sehari-hari kita sering mendengar atau bahkan kita sendiri yang berucap, “kalau seperti ini rasanya kok tidak pas ya?” atau “perasaanku kok tidak enak ya?” atau bahkan “dasar ! Manusia tidak punya perasaan!” Itulah rasa.

Membangun rasa itu bukanlah perkara yang mudah. Ia membutuhkan latihan spiritual/ruhiyah yang serius sehingga kita benar-benar bisa mengelola rasa itu dengan baik. Namun jika dilatih secara terus-menerus, maka atas izin Allah Swt maka rasa itu pasti bisa diasah seperti kita mengasah pisau. Meski awalnya tumpul namun jika diasah dengan baik, maka pisau itu pada akhirnya akan tajam juga. Betapa tidak sedikit manusia yang disinggung sedikit bahkan tanpa kata-kata pun bisa langsung merasa. Sebaliknya, tidak sedikit juga orang, meski sudah “dipalu” tapi tetap juga tidak merasa. Hingga akhirnya dalam istilah sehari-hari kita mendengar ada istilah “mati rasa” gelar yang disematkan bagi orang-orang yang tidak memeliki perasaan.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk membangun rasa itu adalah dengan cara berempati yaitu mencoba memposisikan diri seperti posisi yang sedang dirasakan orang lain. Meski kita seorang yang kaya, cobalah sesekali merasakan bagaimana seandainya kita menjadi orang miskin; meski kita jadi mahasisiwa, cobalah sesekali kita merasakan bagaimana rasanya jika kita yang menjadi dosennya; jika kita seorang atasan, bagaimana rasanya seandainya jika kita yang menjadi bawahan; jika kita seorang anak, bagaimana rasanya seandainya kita yang menjadi orang tua; jika kita seorang suami, bagaimana rasanya seandanya kita yang menjadi istri .

Betapa susuahnya menjadi orang miskin namun setiap hari dituntut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dengan biaya yang tidak sedikit. Betapa repotnya seorang dosen yang setiap hari selalu berfikir keras bagaimana untuk mencerdaskan mahasiswanya selain harus terus berkreasi untuk memunculkan ilmu-ilmu baru. Bagaimana tidak enaknya menjadi bawahan jika selalu dituntut mengerjakan ini mengerjakan yang itu. Bagaimana kerja keras orang tua untuk mendidik dan memenuhi kebutuhan putra-putrinya. Bagaimana beratnya menjadi seorang istri dengan dengan segala upaya berusaha membahagiakan seorang suami dan anak-anaknya dengan segala tuntutan pekerjaan, belum lagi kalau istri kita adalah seorang pekerja yang juga pasti mendapatkan beban pekaerjaan yang tidak sedikit.

Dengan cara seperti itu, paling tidak kita bisa merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain. Sehingga tidak mudah bagi kita untuk selalu menyalah-nyalahkan orang lain atau bahkan samapai mengumpat orang yang mungkin tidak sesuai seperti yang kita harapkan. Barangkali ada alasan lain yang menyebabkan orang itu melakukan sesuatu yang menurut kita tidak pas. Dengan begitu mudah-mudahan kita bisa mengasah rasa dalam diri sehingga tidak menjadi orang yang “mati rasa” atau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "ora ndue roso". Jika rasa sudah tertanam dengan baik pada diri, tentu kita akan dengan mudah bisa memposisikan diri dan tahu apa yang seharusnya kita lakukan. Wallahu A'lam


Manajemen Rasa #1
Bukit Kencana, 11 April 2014
Pkl. 06.03 Wib
Share:

KUTTAB AL-FATIH: Melahirkan Genarasi Gemilang di Usia Belia.


Seribu tahun lebih peradaban Islam menjadi guru bagi seluruh manusia seluruh wilayah di bumi. Hanya saja keadaan hari ini terbalik. Kini kita hanya menjadi murid, obyek bahkan korban peradaban ini. Tidakkah muncul pertanyaan, bagaimanakah konsep dan system pendidikan Islam di zaman kebesaran itu?

Ya, karenanya kami memunculkan kembali sesuatu yang telah sengaja dikubur itu. Muslimin bahkan sudah jarang mendengar sekedar namanya. KUTTAB, begitulah lembaga pendidikan di usia 5-12 tahun itu disebut. Tentu bukan hanya nama yang kami munculkan. Tetapi hingga konsep dan sistemnya. Berharap, hasil didiknya sama atau setidaknya mendekati. Generasi peradaban kebesaran Islam.

Sahabat mulia Jundub bin Abdullah radhiallahu’anhu mengungkap dengan sangat terang tentang substansi pendidikan Nabi, “Kami belajar Iman sebelum kami belajar Al-Qur’an. Ketika kami belajar Al-Qur’an maka Iman kami semakin bertambah.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).

Inilah jawaban atas kegundahan kita akan upaya yang belum kunjung dapat menghadirkan hasil yang maksimal. Ada yang perlu kita coba. Ada yang perlu kita benahi. Iman bukan suatu yang abstrak. Memang benar dimulai dari hati, tetapi secara aplikasi dapat dirasakan. Bukankah kebersihan bukti iman. Bakti orang tua bukti iman. Meringankan beban orang lain bukti iman.

Imam Al-Baihaqi, seorang ulama hadits (w: 458 H) mengumpulkan 77 aplikasi Iman dalam Al-Jami’ li Syu’abil Iman, mencakup 10.756 hadits. Salah satu kurikulum agung bagi pendidikan Islam.

Al-Qur’an bekerja dengan cara yang sangat dahsyat dalam diri generasi. Kandungannya adalah petunjuk dan panduan seluruh ilmu yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Maka lahirlah Asy-Syafi’I, An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Khaldun, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Umar bin Abdul Aziz, Muhammad Al-Fatih. Ulama, ilmuwan, pemimpin, yang rata-rata hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun dan kemudian menggalinya sebagai sumber utama ilmu.

Selanjutnya, segala ilmu alat juga terus diajarkan; bahasa, teknologi informasi, keahlian hidup, keterampilan, olah fisisk, dan seterusnya.

Tentu bukan hanya ilmu teoritis. Tetapi mereka perlu disadarkan, dicoba, dilatih, dan dibiasakan.

Sebuah keutamaan kurikulum yang benar-benar menyiapkan kelahiran generasi peradaban masa depan.

Dengan semangat lahirnya kembali generasi di usia belia, kami berusaha melahirkan kembali keutuhan konsepnya. Kami menamainya KUTTAB Al-FATIH (Sang Pembuka).

Ya Allah bimbing kami …

Situs Resmi Kuttab Al-Fatih klik di SINI
Share:

Akhirnya dapat SIM A: Semoga Berkah dan Bermanfaat


Tidak disangka, pada hari Sabtu tanggal 29 Maret 2014 aku mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) jenis A. SIM tersebut dikeluarkan oleh Polres Kendal, Jawa Tengah. Proses pembuatan SIM tersebut menurut aku tidak terlalu sulit apalagi kalau ada orang yang bisa mengarahkan kita untuk mengikuti tahapan-tahapan yang harus dilewati. Proses –proses yang dijalani antara lain ujian kesehatan, ujian tertulis, ujian praktek, dan photo. Saya sendiri mengawalinya dengan kursus strir mobil di lembaga kursus stir mobil kemudian mengajukan ke Polres untuk pembuatan SIM A hingga akhirnya SIM tersebut dikeluarkan.

Keinginan untuk memiliki SIM A sebenarnya sudah ada di benakku sejak lama terutama setelah menikah, menjalani bisnis jual beli mobil, dan setelah menjadi guru di Kuttab Al-Fatih Semarang. Dalam bathin aku selelau berkata aku harus bisa seperti Bapak mertua dan suami dari kakak ipar yang lincah dalam menyetir mobil. Ketika menjalani bisnis jual mobil bersama mertua dan suami dari kakak ipar, aku mulalai terpacu untuk segera memiliki SIM A biar bisa mengendarai sendiri. Masak juragan mobil tidak bisa nyetir mobil, kata-kata itu kerap dikeluarkan istri sehingga aku terpikir untuk segera memiliki SIM A. Terutama ditambah lagi ketika bekerja di Kuttab Al-Fatih Semarang. Beberapa kali ketika kegiatan outing anak-anak, kita sering kekurangan sopir padahal mobil ada.

Meski sudah berkeinginan sejak lama, namun jika tidak disempatkan maka keinginan untuk memiliki SIM tersebut tentu lama akan terwujud. Di sela-sela kegiatan mengajar di Kuttab Al-Fatih aku sempat-sempatkan untuk kursus stir mobil baik di sore hari maupun ketika hari libur dengan tujuan agar bisa segera mengendarai mobil. Bisa dibilang kursusuku sangat singkat, hanya 5 jam dalam empat kali latihan karena pada pertemuan keempat aku langsung ngambil 2 (dua) jam. Menurut instruktur kursus, aku sudah bisa mengaplikasikan teknik-teknik dasar menyetir meski masih harus terus latihan biar lancar.

Atas masukan bapak mertua dan istri tersayang untuk segera memiliki SIM A, maka keinginan tersebut pun aku usahakan untuk segera mengurusnya. Karena sekarang KTPku sudah KTP Kendal maka aku cukup mudah untuk mengurusnya. Dan akhirnya di akhir bulan Maret 2014 ini SIM A tersebut bisa dikeluarkan oleh Polres Kendal.

Jujur, aku merasa sebenarnya belum begitu lancar mengendarai mobil. Menurut bapak mertua pun aku masih agak kaku. Kelihatan ketika aku muter-muter Kota Kenda dengan KUDA kesayangan Bapak. Namun jika terus berlatih dan berlatih, lama-lama insya Allah akan lancer. Aku sering melihat ibu-ibu, mba’-mba’, bahkan orang tua banyak yang menyetir mobil. Dalam benak aku berkata, mereka saja bisa, masa’ aku ga bisa. Dengan keyakinan tersebut aku yakin insya Allah bisa.

Namun juga aku tidak lupa berdoa, semoga keterampilan mengendarai mobil ini bisa diberkahi oleh Allah SWT dan bermanfat baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Bukit Kencana, 01 April 2014
Pkl. 22.56 WIB.
Share: