Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Ramadhan: Bulannya Kekasih Allah


Ramdhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Hal ini karena terdapat banyak sekali fadhilah yang dapat diperoleh di dalamnya. Di antaranya bahwa di bulan Ramadhan amalan wajib dilipatgandakan pahalanya sebanyak tujuh puluh kali lipat sedangkan amalan sunnah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan. Padahal di luar bulan Ramadhan, setiap kebajikan pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Rasulullah SAW menyebutkan, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu pada umumnya umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya di bulan Ramadhan. Ramadhan juga ibaratnya adalah sebagai madrosah, sedangkan orang mukmin adalah muridnya, puasa adalah pelajarannya kemudian derajat taqwa adalah nilai rapornya. Baik buruknya nilai tersebut tentu tergantung dari baik buruk ibadah yang dikerjakan selama bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan, puasa merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang mu’min. Ia tidak bisa dikerjakan di bulan lain selain di bulan Ramadhan. Kecuali kalau ada halangan syar’i yang membolehkannya berbuka. Karena itu, bulan Ramadhan juga disebut sebagai syahru shiyam (bulan puasa). Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah [2]: 183, “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Rasulullah SAW juga telah bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunahkan shalat pada malam harinya. (HR. Ahmad).

Dalam surat al-Baqarah [2]: 183 disebutkan bahwa panggilan untuk menjalankan ibadah puasa ditujukan bagi orang-orang yang beriman. Iman sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW kepada para sahabat, ketika malaikat Jibril a.s. datang menyerupai manusia mengajarkan agama Islam, menyebutkan, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada Qadar baik dan buruknya. (HR. Muslim). Jadi barang siapa yang telah meyakini hal-hal di atas dengan sepenuh hati dan diamalkan dalam perbuatan maka ia bisa dikatakan sebagai orang yang beriman. Dalam surat al-Hujurat [49]: 15 Allah SWT menyebutkan, “Sesungguhnya orang mukmin sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Sedangkan di akhir bulan Ramadhan, seorang mukmin yang telah menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya akan mendapatkan nilai. Hasil dari ibadah yang telah dilakukan selama sebulan penuh. Predikat tersebut adalah derajat taqwa. sebagaimana disebutkan di akhir ayat dalam surat al-Baqarah [2]:183.

Secara bahasa, taqwa berarti takut, takut bukan dalam rangka menghindar, tapi mendekatkan diri kepada Allah. Ada juga yang menafsirkan taqwa dari huruf-huruf penyusunnya yaitu ‘ta’, tawadhu’ (rendah hati); ‘qaf’, qona’ah (rela dengan apapun yang diberikan Allah), wira’i (menahan diri dari segala sesuatu yang haram dan yang dapat menjauhkan diri dari Allah), dan ‘ya’, yaqin (yakin bahwa kesusahan dan kepahitan hidup ini tidak akan berlangsung selama-lamanya). Kajian mengenai taqwa sangatlah luas. Namun secara sederhana, taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Dengan mendapatkan predikat ini seorang mukmin akan menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah SWT karena yang menjadikan seseorang mulia di sisi Allah adalah ketakwaannya. Dalam surat al-Hujurat [49]: 13 yang artinya, “sesungguhnya yang menjadikan kamu mulia di hadapan Allah adalah ketakwaanmu”.

Di akhir Ramadhan nanti kita bisa mengevaluasi diri. Apakah kita sudah mendapatkan predikat taqwa sebagaimana yang dijanjikan Allah. Predikat tersebut tidaklah datang dengan sendirinya melainkan dengan usaha dan kerja keras selama satu bulan berperang melawan hawa nafsu. Jika belum tergapai, mungkin karena ketika Ramadhan kita belum mengisi hari-hari kita dengan penuh rasa keimanan dan mengharap ridha Allah SWT.

Sedangkan orang-orang yang dalam dirinya bersemayam ketaqwaan akan menjadi kekasih Allah SWT. Begitu tegas Allah menyatakan dalam surat Ali Imran [3]: 76, “maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa”. Innallaha yuhibbul muttaqin, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, petikan ini juga termaktub dalam surah at-Taubah [9] ayat 4 dan 7. Dari sini dapat dipahami bahwa bulan Ramadhan merupakan bulannya kekasih Allah. Wallahu a’lam bishshowab.
Share:

Pesan Rasul untuk Umat Islam Abad 21

Dalam membaca zaman tentang perihal fase kehidupan umat manusia khususnya umat Islam, minimal ada 2 (dua) dalil hadits yang dapat dijadikan sebagai petunjuk. Hadits ini mungkin sudah populer di dengar oleh Umat Islam, hanya saja tidak terlalu banyak yang mau memahaminya secara mendalam atau mungkin hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Padahal jika dilihat secara mendalam hadits tersebut dapat dijadikan sebagai sandaran untuk membaca zaman yang sedang berlangsung khususunya kita yang hidup di abad 21 ini. Dalam hadits tersebut dengan jelas disebutkan apa pesan Rasul untuk kita yang hidup di abad ini.


Hadits pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. “Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan ‘aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.”


Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa priode kehidupan kaum muslimin atau umat manusia terbagi menjadi 5 fase, mulai dari fase kenabian, khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah, fase mulkan ‘aadhdhan, mulkan jabbriyan, dan fase khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Sebagian besar kaum muslimin bersepakat bahwa hari ini kita berada pada fase mulkan jabbriyan. Artinya 3 fase telah terjadi, dan 1 fase sedang berlangsung. Maka fase yang ke-empat ini tinggal menunggu waktu berakhirnya. Dan akan hadir fase yang ke-5 yaitu kembali kepada fase kekhilafahan berdasarkan manhaj kenabian.


Fase yang ke-5 ini adalah merupakan fase yang memiliki nilai yang positif sama halnya seperti fase kedua yaitu persatuan umat Islam yang dipimpin oleh pemimpin yang mendapatkan petunjuk (al-khalifah ar-rasyidah). Maka pada fase ini tatanan kehidupan umat Islam akan kembali seperti dulu para sahabat yang mulia memimpin kaum muslimin. Dan fase ini niscaya akan terjadi, karena sudah disebutkan dalam hadits. Dan kita kaum muslimin harus yakin dengan hal ini, jika kita ragu maka patut juga diragukan keimanan kita. Perwujudan fase yang ke-5 ini lah yang merupakan salah satu pesan Rasul untuk kita yang hidup di abad 21 ini. Sehingga kita harus ikut andil dalam mewujudkan fase ini meskipun dengan peran yang berbeda-beda. Yang penting tujuannya mengarah pada penegakan kekhilafahan atas manhaj kenabian. Meskipun mungkin bukan kita yang akan mewujudkannya hari ini, tapi kita bisa mengambil peran menjadi orang yang membuat jembatan bagi generasi setelah kita untuk mewujudkannya.


Pesan Rasul yang kedua dapat dilihat dalam hadits tentang pembukaan kota Konstantinpel dan Kota Roma. Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: "Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?” Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: “Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: ‘Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/ Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)


Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa Konstantinopel sudah dibuka oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453. Sekitar 8 abad setelah hadits tersebut diucapkan oleh Rasulullah baru kemudian Konstantinopel dapat ditaklukkan oleh umat Islam. Dan masih ada satu kota yang disebutkan dalam hadits itu yang belum dibuka yaitu Roma. Hadits ini juga menunjukkan bahwa ada pesan Rasul untuk kita yang hidup di abad 21 ini yaitu penakhlukan Kota Roma. Hadits ini pun niscaya akan terjadi karena sudah disebutkan oleh Rasulullah. Jika kita meragukannya maka iman kita pun patut diragukan karena meragukan yang sudah disampaikan oleh Rasul.


Konstantinopel sudah dibuka, sedangkan Roma belum. Oleh karena itu tentu tidak terlalu berlebihan jika dikatakan Roma sedang menanti kita. Tingga kita apakah mau mengambil peran dalam pembukaan Roma seperti yang pernah dipesankan Rasulullah. Sama seperti penegakan kekhilafahan, mungkin bukan kita yang akan membuka Roma tapi ada usaha untuk menuju ke sana. Apakah nanti akan dibuka oleh anak kita, cucu kita, atau oleh anak cucu kita atau entah kapan. Tapi kita hendaklah memiliki andil untuk merakit jembata menuju pembukaan Roma.


Ada hadits lain yang cukup masyhur tentang penakhlukan Konstantinopel yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. "Konstantinopel akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin, tentaranya adalah sebaik-baik tentara". Di hadits ini disebutkan kata pemimpin dan pasukan. Ada isyarat bahwa Roma akan ditaklukkan dengan peperangan, dan seperti itulah yang telah terjadi. Sedangkan dalam penakhlukan Roma tidak disebutkan tentang pemimpin dan pasukan. Maka bisa jadi dalam penakhukan Roma tidak dilakukan dengan jalan peperangan, tapi dengan cara lain.


Dari dua hadits di atas dapat dipahami dua pesan yang diperuntukkan bagi umat Islam yang hidup di abad 21 ini, penegakan khilafah atas manhaj kenabian, dan pembukaan Roma. Kedua hal tersebut niscaya akan terjadi. Sekarang keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau terlibat di dalamnya atau hanya akan menjadi penonton saja. Kita bisa mengambil segala bentuk peran yang bisa kita lakukan. Dan meskipun tidak terjadi di zaman kita di abad 21 satu ini, minimal kita membutkan jembatan yang akan dititi oleh generasi-generasi setelah kita. Semoga Allah ridhai dan Allah mudahkan. Amin.


Semarang, 27 April 2017
Share:

Cara Membuat Shortcut Shutdown, Restart, Sleep, Lock dan Hibernate


Cara Membuat Shortcut Shutdown, Restart, Sleep, Lock dan Hibernate di Komputer/Laptop. Ada beberapa tahap yang akan dilakukan untuk membuat hal tersebut, yaitu:

1. Langkah awal ialah klik kanan pada Desktop lalu pilih *New* > *Shortcut*.

2. Kemudian akan muncul jendela baru. Pada kolom yang ditampilkan masukkan salah satu kode di bawah ini sesuai fungsi yang anda inginkan.

*Untuk shutdown*
/Shutdown.exe -s -t 00/

*Untuk restart*
/Shutdown.exe -r -t 00/

*Untuk beralih ke mode sleep*
/rundll32.exe powrprof.dll,SetSuspendState 0,1,0/

*Untuk mengunci/lock*
/Rundll32.exe User32.dll,LockWorkStation/

*Untuk melakukan hibernate*
/rundll32.exe PowrProf.dll,SetSuspendState/

Setelah kodenya dipaste ke kolom klik *Next* > *Finish*.

3. Makan akan muncul shortcut baru di layar komputer anda. Jika merasa kurang puas dengan icon shortcut tersebut, silahkan ganti ikonnya dengan cara klik kanan *Properties* > *Change icon…* > *Ok *> pilih icon yang disukai.

4. Untuk menyelesaikan pergantian ikon, klik *Apply* > *Ok*, selesai.
Share:

Menjadi Muslim yang Beruntung

“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1-3)


Ketika mendengar kata ‘beruntung’, maka pikiran kita cenderung akan tertuju pada jual beli. Ya, memang tidaklah salah karena kata ‘beruntung’ identik dengan laba, selisih nilai antara nilai beli yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai jual. Jika demikian, maka orang yang melakukan perniagaan disebut orang yang beruntung. Namun sebaliknya, jika nilai jual lebih kecil dari nilai beli maka si penjual termasuk orang yang merugi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa kata beruntung memiliki tiga arti, yaitu: 1) berlaba; mendapat laba; 2) bernasib baik; mujur; bahagia; dan 3) berhasil (maksudnya, usahanya, dan sebagainya); tidak gagal. Lawan kata dari ‘beruntung’ adalah merugi. Dalam KBBI disebutkan bahwa ‘merugi’ memiliki arti, 1) (terjual) kurang dari harga beli; 2) kurang dari modal; 3) tidak mendapat faedah (manfaat); dan 4) sesuatu yang kurang baik. Jika dilihat dari pengertian-pengertian tersebut maka kata untung atau rugi tidaklah sepenuhnya berkaitan dengan perniagaan, tetapi juga bisa masuk dalam hal yang diperoleh oleh manusia baik yang bernilai positif atau negatif.

Jika kita ditanya, mau jadi orang yang beruntung atau merugi? Maka tentunya tidak ada satu manusia pun di dunia yang mau menjadi orang yang merugi. Tapi, pada kenyataannya, apakah semua orang beruntung? Kita pasti bisa menjawabnya bahwa tidak semua manusia yang hidup di muka bumi ini beruntung. Banyak di antara manusia yang dapat digolongkan sebagai orang yang merugi. Lantas di mana posisi kita? Semoga kita menjadi orang yang beruntung.

Untuk mengetahui pengertian dari “beruntung” atau “merugi”, maka perlu kiranya kita merujuk pada Al-Qur’an atau Al-Hadits sehingga kita terhindar dari pemahaman yang sempit,  bias, dan subjektif. Makna hakiki dari beruntung dapat dilihat seperti yang difirmankan oleh Allah subhanahuwata’ala dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ashr ayat 1-3 yang artinya, “Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Berdasarkan surat tersebut dapat ditadabburi bahwa ada empat golongan manusia yang tidak akan merugi. Mereka itu adalah orang yang beriman, orang yang beramal saleh, orang yang saling menasihati dalam kebenaran, dan orang yang saling menasihati agar selalu bersabar. Mereka adalah orang yang sepantasnya disebut beruntung. Dan sebaliknya, empat golongan manusia yang merugi yaitu mereka yang tidak beriman, yang tidak beramal saleh, yang tidak saling menasihati dalam kebenaran, dan yang tidak saling menasihati agar selalu bersabar.

Jika dilihat dari golongan yang disebutkan, maka terlihat dengan jelas bahwa keberuntungan yang dimaksudkan memiliki dimensi duniawi dan ukhrawi. Keimanan, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan juga kesabaran memiliki pengaruh terhadap kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Yang mana antara yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Orang yang beriman seyogianya dia akan beramal saleh, amal pun haruslah berdasarkan pada keimanan. Serta untuk menjaga agar tidak keluar dari jalur yang seharusnya, dituntut untuk saling menasihati dalam kebenaran. Dan dibutuhkan kesabaran dalam saling menasihati, karena dalam menasihati itu terkadang tidak cukup hanya dalam satu kali saja.

Selain dari Al-Qur’an, sumber utama hukum Islam, perlu juga kita melihat bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan untung dan rugi. Dalam sebuah hadis masyhur namun periwayatan diketahui lemah, disebutkan, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung; barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang celaka”.

Meskipun hadis ini lemah dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah dalam mengambil hukum, namun bisa digunakan sebagai motivasi diri dan tazkiyatunnafs untuk pengembangan diri untuk selalu menjadikan lebih baik dari hari ke hari. Dan hadis ini dapat dijadikan untuk mengukur diri apakah kita termasuk orang yang untung, rugi, atau celaka.

Ambillah kegiatan harian yang kita lakukan setiap hari sebagai contoh. Dalam hal ibadah, kita dapat melihat pada shalat kita. Kalau kemarin yang shalat kita masih bolong-bolong, maka hari ini kita usahakan untuk kita sempurnakan. Kalau kemarin kita shalat jama’ah di masjid hanya satu atau dua waktu, maka hari ini mari kita usahakan untuk disempurnakan genap lima waktu. Yang lain, misalkan dalam hal  bangun di pagi hari. Jika kemarin kita bangun ketika iqamah subuh, maka hari ini kita usahakan bangun ketika adzan atau bahkan sebelumnya sehingga kita bisa melakukan shalat sunnah fajr dan shalat berjama’ah di masjid.

Semoga kita termasuk orang yang beruntung seperti yang disampaikan pada hadits di atas, yaitu orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Mulai memperbaiki diri dari hal-hal kecil yang sederhana. Shalat kita, baca Al-Qur’an kita, bangun tidur kita, pola makan kita, membaca buku,  kebersihan, kesehatan, dan lain-lain baik yang berupa ibadah mahdhah maupun yang bukan mahdhah. Karena segala sesuatu yang kita lakukan tentunya bisa bernilai ibadah bila dilakukan ikhlas karena mengharap ridha Allah. Jangan mau kalau hari ini sama dengan hari kemarin sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang merugi apalagi jika lebih buruk dari sebelumnya sehingga kita bisa masuk pada golongan orang yang celaka.
Share:

Siroh Nabi (4): Dakwah Jahriyah

Review Sesi IV Akademi Siroh (Ahad, 24 Januari 2016)
Dakwah Jahriyah bersama Ust. Budi Ashari, Lc
Oleh: Syah Azis Perangin Angin
Kuttab Al-Fatih Semarang

Setelah tiga tahun Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berdakwah secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) akhirnya Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengakhiri metode dakwah tersebut dan mulai melakukan dakwah secara Jahriyah (terang-terangan). Dakwah sirriyah ini berakhir dengan diturunkannya ayat Allah surat Al-Hijr ayat 94 yang artinya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.
Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan kata terang-terangan dari bahasa Arab yang berasal dari kata “shada’a” yang secara bahasa berarti “retak”. Artinya bahwa setelah Rasulullah melakukan dakwah secara terang-terangan maka segalanya akan retak termasuk hubungan keluarga dan akan muncul banyak masalah sehingga akan mengakibatkan kepusingan bagi umat muslim. Kendati demikian, sesungguhnya yang pusing terlebih dahulu adalah orang kafir Quraisy setelah melihat dakwah jahriyah Nabi Muhammad dan kaum muslimin.
Dengan berakhirnya dakwah sirriyah maka dimulailah dakwah Jahriyah. Awal dari dakwah Jahriyah ditandai dengan turunnya wahyu Allah surat Asy-Syu’ara ayat 214 yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”. Ayat ini sekaligus sebagai teknis bagaimana Rasulullah melakukan dakwah secara terang-terangan. Rasulullah kemudian mengumpulkan keluarga beliau dengan melakukan jamuan makan untuk memberi peringatan kepada mereka. Namun pada jamuan makan ini Rasulullah belum sempat memberi peringatan, tapi jamuan makan sudah selesai, kemudian Rasulullah berencana melakukan jamuan makan yang kedua.
Kisah yang terkenal adalah ketika Rasulullah berdiri dan berteriak di atas bukit Shofa memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul hingga semuanya berkumpul atau minimal mengirim utusan. Kemudian mengajak mereka untuk bertauhid kepada Allah dan beriman risalah yang dibawanya dan hari Akhir.  Lalu Rasulullah berbicara, “Bagaimana  menurut pendapat kalian kalau aku beri tahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?”. Mereka menjawab, “Ya. Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran.” Beliau berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan azab yang amat pedih”. Lalu Abu Lahab menanggapi, “Celakalah engkau sepanjang hari! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?” maka ketika itu turunlah surat Al-Lahab.
Dalam rangka menghalangi Dakwah Rasulullah orang-orang kafir Quraisy berusaha melakukan pendekatan kepada paman Rasulullah, Abu Thalib. Abu Thalib dianggap memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap  Rasulullah. Memang benar beliau memiliki pengaruh, sehingga Abu Thalib selalu meminta Rasulullah untuk menghentikan dakwah beliau. Hanya saja Rasulullah bersikukuh dengan dakwahnya dan pamannya juga mau melindungi Rasulullah dari perlakuan buruk orang kafir Quraisy.
Selama dakwah Jahriyah ini banyak sekali perlakuan buruk yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy baik berupa kata-kata maupun yang sifatnya fisik kepada Rasulullah dan umat muslim. Mereka melakukan negosiasi-negosiasi dan juga intimidasi hingga akhirnya umat Muslim benar-benar dibuat pusing seperti isyarat yang ada pada Surat Al-Hijr ayat 94. Hingga akhirnya umat Muslim harus Hijrah ke Habasyah, Intimidasi dan penyiksaan yang dilakukan juga mengabatkan Sumayyah syahid atas perlakuan keji meraka. Dan yang sangat berat bagi Rasulullah dan Ummat Muslim adalah ketika dilakukan pemboikotan terharap mereka.
Sebenarnya ada satu tokoh yang sangat berpengaruh pada suku Quraisy yaitu Walid bin Mughiroh, yang apabila beliau beriman maka bisa jadi semua orang Quraisy ikut beriman. Karena beliau termasuk pucuk pimpinan suku Quraisy di Makkah. Namun Allah berkehendak lain, beliau tetap tidak beriman dan memusuhi umat Islam.
Tekanan-tekanan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy ternyata tidak melemahkan kaum muslimin. Bahkan sebaliknya, umat Muslim menjadi semakin kuat. Pada Hijrah ke Habaasyah yang pertama yang berangkat hanya 15 orang namun pada Hijarah yang ke-2 yang berangkat mencapai 100 orang. Jumlah yang semakin banyak ini mengakibatkan kafir Quraisy menjadi berang dan meminta Raja Najasy, raja negeri Habasyah agar mengembalikan mereka. Bahkan Amr bin ‘Ash yang ketika itu belum memeluk Islam berusaha meyakinkan raja Najasy agar menyiksa mereka dengan menghadirkan dialog seputar nabi Isa karena negeri Habasyah penganut agama Nasrani. Hanya saja usaha itu gagal dan umat Muslim tetap aman tinggal di Habasyah.
Penindasan-penindasan ini terus terjadi bahkan ketika Nabi Muhammad sudah putus asa dan ingin berdakwah ke luar Mekkah yaitu ke Thaif. Dan itu pun Gagal, bahkan Rasulullah dilempari oleh penduduk Thaif. Beliau juga berdakwah kepada orang-orang yang melakukan haji ke Makkah baik kepada personal maupun individu. Hingga akhirnya ketika Rasulullah dan umat muslim berada pada posisi paling terendah, muncul enam orang bibit unggul dari Yatsrib yang ketika mereka pulang ke kampungnya, mereka mengemban risalah Islam sehingga tidak ada satu rumah pun yang dihuni oleh orang-orang di Yatsrib kecuali memperbincangkan Rasulullah.  Yang mana hal tersebut akan menjadi cikal bakal umat muslim untuk berhijar ke Yatsrib.

Dakwah secara terang-terangan ini baik yang di Mekah dan ke luar Mekah dilakun selam 13 tahun. Hingga akhirnya Rasulullah dan Umat Muslim berhijrah ke Madinah karena semakin kuatnya penyiksaan yang dilakukan oleh musyrikin Mekah. Yang di sisi lain, orang-orang Yatsrib sudah siap menyambut kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib.
Share: