Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

‘HARAP-CEMAS’ PENDIDIKAN KITA (Republika, Jumat, 25 Oktober 2019)


Oleh: Dr. Adian Husaini
(Ketua Program Doktor Pendidikan Islam –
Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Begitu Nadiem Makarim (35 tahun) diumumkan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dunia warganet heboh. Ini kejutan luar biasa! Meskipun banyak kritikan, tapi ada juga beberapa warganet berharap, Menteri Nadiem melakukan ‘sesuatu’ yang tidak biasa-biasa saja untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia.

Toh, Kabinet sudah diumumkan. Bahasa agamanya, itu sudah takdir! Mungkin, Nadiem pun tak pernah bermimpi menduduki pos Menteri Pendidikan, yang biasanya termasuk ‘kursi elite’ dalam jajaran kabinet di banyak negara. 

Bagi orang Islam, suatu peristiwa pasti ada hikmahnya. Mungkin, siapa tahu, lewat ‘tangan’ Nadiem Makarim, dunia pendidikan Indonesia akan dipaksa untuk berpikir serius, lalu berubah secara mendasar! Itu mungkin! Bisa terjadi, bisa juga tidak!

Dan memang, faktanya, pendidikan Indonesia kini perlu perubahan mendasar, dalam berbagai aspeknya. Pertama, fokus utama pada tujuan pendidikan akhlak!  UUD 1945 pasal 31 (3) mengamanahkan, pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa!
Itu amanah konstitusi. Itu pula amanah UU Sisdiknas No 20/2003 dan UU Perguruan Tinggi No 12/2012. Orang muslim sangat akrab dengan misi utama Nabi Muhammad saw, yakni beliau diutus untuk  ‘menyempurnakan akhlak manusia’ (buitstu li-utammima makarim al-akhlaq).

Misi penyempurnaan akhlak peserta didik inilah yang sepatutnya menjadi perhatian utama Menteri Nadiem. Nabi Muhammad saw menyebutkan, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. Orang yang berakhlak mulia, pasti menjadi orang hebat dan berguna!
Nabi mengajarkan suatu doa: “Ya Allah, hindarkan aku dari sifat malas dan lemah!” Nabi mengajar dan memberi contoh, bagaimana menjadi orang jujur, pekerja keras, terpercaya, rendah hati, penyayang, peduli kebersihan, tidak sombong, tidak pendengki, tidak pesimis apalagi putus asa!
Jangan sampai dunia pendidikan Indonesia melahirkan manusia-manusia yang pintar cari makan, tetapi jahat, serakah, dan tidak peduli pada sesama insan. Apalagi, melahirkan manusia tidak professional, tidak berguna, dan buruk pula akhlaknya. Na’udzubillah!

Pakar pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir (77 tahun), beberapa kali menceritakan kepada saya, bahwa sejak era 1980-an, beliau ingatkan pemerintah, agar pendidikan kita berbasis kepada pendidikan Akhlak Mulia, bukan kepada sains dan teknologi! Menurut Ahmad Tafsir, jika tidak punya teknologi, kita masih bisa beli. Tapi, kalau tidak punya akhlak, kemana membelinya? Dan pemikiran itu logis, sebab bangsa rusak, karena akhlak rusak.

Kedua,  reformasi sistem dan kurikulum pendidikan. Dalam buku “Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi” (YPI at-Taqwa:2019), saya mengisahkan hasil dialog saya dengan Prof. Nanang Fattah (68 tahun), guru besar UPI Bandung, pada 28 Januari 2019. Penulis menikmati ide-ide segar Prof. Nanang Fattah tentang reformasi pendidikan.

Salah satu yang menarik adalah gagasannya tentang standar pendidikan. Menurutnya, pendidikan sebaiknya berpegang pada satu standar kompetensi, yaitu standar kompetensi lulusan. “Pendidikan itu based on result, bukan based on process,” katanya.

Bahkan, pada awal reformasi, beliau sudah usulkan, agar pendidikan tingkat SD cukup 4 tahun, SMP 2 tahun, dan SMA 2 tahun! Tapi, kurikulumnya harus bersifat dinamis, mengikuti dinamika sosial.  Gagasan Prof. Nanang Fattah ini, menarik, rasional, dan kontekstual.

Saat berbicara dalam satu seminar oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), bersama Dr. Yudi Latif dan Dr. Marzuki Ali, saya pernah sampaikan, agar ada perubahan mendasar dalam sistem dan kurikulum Pendidikan Tinggi. Contoh, menurut penulis, untuk menjadi wartawan profesional, tidak perlu pendidikan tingkat S-1 sampai 4 tahun. Begitu juga untuk menjadi guru TK, perawat, dan sebagainya! Profesionalisme tidak diukur dari berapa lama dan berapa banyak materi kuliah yang ia pelajari. Tapi, kompetensi apa yang ia sudah kuasai!

Pada 17 Oktober 2019, melalui akun instagramnya, cendekiawan Indonesia,  Yudi Latif menulis, bahwa banyak negara kini telah mengubah kurikulum pembelajaran dari spesialisasi menuju penyiapan pembelajar generalis yang mampu berpikir independen dan inovatif. Ia merujuk pada buku berjudul Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, karya David Epstein (2019).

Tahun 2017, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan buku berjudul “Era Disrupsi: Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia”. Buku ini mengingatkan dunia Perguruan Tinggi untuk berubah secara mendasar dalam model pendidikannya, karena mulai merebaknya MOOCs (Massive Open Online Courses). Juga, perlunya penyiapan model pembelajaran yang multi dan interdisiplin, bukan lagi bersifat linier.

Itulah sedikit diantara masalah besar dunia pendidikan kita. Masih banyak yang lainnya! Salah satunya, peningkatan kualitas guru. Dalam acara Rountable Discussion di Lembaga Pengkajian MPR, 24 Oktober 2017, mantan Dirjen Dikti, Satryo Soemantri Brodjonegoro, menulis makalah berjudul: “Mempertanyakan Cetak Biru Pendidikan Indonesia”.  Prof. Satryo termasuk diantara pakar dan praktisi pendidikan yang prihatin dan mengkhawatirkan masa depan pendidikan kita.

Jadi, bagaimana masa depan pendidikan kita di era Menteri Nadiem? Silakan cemas, tapi jangan putus asa! Harapan dan peluang perbaikan itu selalu ada! Siapa pun menterinya! Apalagi, sebagian besar lembaga pendidikan kita tidak bergantung kepada pemerintah. Wallahu A’lam bish-shawab! (Opini Harian Republika, 25 Oktober 2019).
Share:

Sosok yang Mengusulkan MERAH PUTIH sebagai Warna Bendera Indonesia

Habib Idrus Salim Al Jufri
Kita pasti sudah terbiasa dgn Merah Putih, warna bendera Indonesia. Sejak kecil hingga dewasa, kita menyaksikan Merah Putih berkibar. Namun, tahukah kamu jika pemilihan warna bendera Indonesia, ternyata memiliki sejarah yg sangat dekat dgn Islam? Semua berawal dari Ulama besar, Habib Idrus Salim Al Jufri. Dialah sosok yg pertama kali mengusulkan Merah Putih menjadi warna bendera Indonesia.

Usulan ini tidak mentah2 ia layangkan, melainkan berdasarkan pesan dari Rasulullah dalam mimpinya, yakni jika Indonesia merdeka, maka warna benderanya adalah Merah Putih. Pendiri Al Khairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah ini juga adik kelas dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari.

Pada Muktamar NU tahun 1937 silam, Mbah Hasyim Asyari mengusulkan Merah Putih untuk menjadi warna bendera Indonesia, dan Soekarno adalah pemimpinnya, sesuai pesan yg disampaikan oleh Habib Idrus Salim Al Jufri kepadanya.

Dikenal dgn Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri ini lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892. Dan saat usianya masih 12 tahun, ia telah berhasil menghafal Alquran, 30 Juz. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969, tepatnya di usia 77 tahun.

Habib Idrus merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah, dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ia juga akrab disapa Guru Tua, dan dikenal sbg sosok yg sangat cinta ilmu.

Hal ini terlihat jelas saat ia mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat, sebagai tanda kasih nyata Habib Idrus, kepada Islam. Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, saat usia Habib Idrus menginjak 41 tahun.

Ia juga yg menginspirasi terbentuknya sekolah di berbagai jenis serta tingkatan di Sulawesi Tengah, yg dinaungi organisasi Alkhairaat. Dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

Habib Idrus merupakan keturunan Rasulullah dgn silsilah sebagai berikut: As-Sayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW.

Inilah Syiar Kemerdekaan Republik Indonesia yg disusun oleh Al Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, ketika menyambut Proklamasi, 17 Agustus 1945:

Bendera kemuliaan berkibar di angkasa, hijau daratan dan gunung-gunungnya
Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan, orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan, muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

Wahai Sukarno! Telah kau jadikan hidup kami bahagia, dengan obat darimu hilang sudah penyakit kami
Wahai Presiden yang penuh berkah bagi kami, engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul, telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak, demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan, tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan, dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual, buktikan kepada masyarakat bahwa engkau mampu
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu, dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh...
Share:

7 Tips Langkah Awal Buat Kamu yang Lagi Belajar Menulis

Oleh:
Just an ordinary girl who writes perfect moments at perfect time

"Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go." -E.L. Doctorow-
 
Menulis merupakan suatu aktivitas yang dianggap membosankan oleh sebagian orang. Tapi ketika kamu sudah terjun dalam dunia ini, kamu akan merasakan betapa asyiknya menuangkan ide dan pengalamanmu dalam tinta. Dengan menulis, kamu juga bisa memperkaya pengetahuanmu dan memberikan informasi kepada banyak orang. Nah, bagi kamu yang tertarik dan ingin belajar menulis, kamu bisa mengikuti tujuh langkah di bawah ini:

1. Pilih topik yang kamu kuasai

Kunci ketika kita belajar menulis untuk pertama kalinya ialah pilih topik yang kita kuasai. Misalnya saja kamu suka memasak. Tulislah tips dan resep-resep yang pernah kamu coba di rumah. Bagi kamu yang suka membaca, kamu bisa menuliskan resensi buku terbaru yang menarik dan bermanfaat. Kamu suka bersepeda atau hiking? Rekomendasikan lokasi hiking pilihanmu melalui tulisan. Ya, menuliskan hal-hal yang kita sukai atau kuasai akan membuat kita semakin menikmati proses tulis menulis. Kita jadi lebih bersemangat karena kita menuangkan pengetahuan kita secara langsung dalam tulisan.

2. Tulislah kerangka tulisan

Setelah memilih topik, kamu bisa langsung menuliskan kerangka tulisanmu. Kerangka tulisan adalah bagian dari perencanaan untuk eksekusi tulisanmu nantinya. Catat kira-kira apa saja yang ingin kamu tuliskan.
Contoh: Kamu ingin menulis tentang tempat-tempat wisata di Banyuwangi. Dalam paragraf pertama, kamu ingin membahas tentang lokasi Banyuwangi dan berapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana. Lalu di paragraf kedua, kamu ingin membahas tentang pantai A. Lakukan seterusnya hingga paragraf terakhir tulisan.
Menuliskan kerangka tulisan akan banyak membantumu dalam mengingat apa saja yang ingin kamu tuangkan. Kamu juga bisa menggunakan kerangka untuk mengumpulkan data yang akan melengkapi tulisanmu nantinya.

3. Cari data

Tulisan tanpa data sama seperti sayur tanpa garam. Tanpa data, kita nggak akan bisa membuat tulisan yang kredibel. Padahal, informasi yang kita berikan nantinya bakal dibaca banyak orang. Nah, kalau datanya nggak bener gimana dong? Kita bisa menyesatkan pembaca dengan tulisan kita. Oleh karena itulah, data menjadi salah satu unsur terpenting dalam tulisan.
Terdapat dua jenis data yang bisa kamu temukan untuk melengkapi tulisanmu. Pertama yakni data primer. Data primer diperoleh dari narasumber secara langsung. Untuk memperoleh data primer, tentunya kamu harus melalui proses wawancara dengan narasumber. Kedua yakni data sekunder. Data sekunder bisa kamu peroleh dari literatur seperti buku, jurnal online, surat kabar, majalah atau media online. Jangan lupa tuliskan body note dan daftar pustaka jika kamu mengambil data sekunder dan mencantumkannya dalam tulisanmu. Apabila data sekundermu berbentuk gambar atau foto, cantumkan sumber dokumentasi gambar tersebut beserta nama situsnya. Mencantumkan sumber akan melatih kamu menjadi penulis profesional dan kamu nggak akan dicap plagiasi karya orang.
Lanjutkan membaca artikel di bawah

4. Tuangkan tulisanmu

Setelah semua data terkumpul, kini saatnya kamu menulis! Temukan tempat yang tenang di mana kamu bisa menggali ide dengan optimal. Manfaatkan kembali kerangka tulisan yang telah kamu buat. Jangan terburu-buru. Apabila kamu lagi blank alias kehilangan inspirasi, berhentilah sejenak dan lakukan aktivitas ringan seperti mendengarkan musik, ngemil, main game atau nonton satu episode drama kesayanganmu di layar laptop (hehe...). Setelah rileks, kamu bisa kembali melanjutkan tulisanmu.

5. Saatnya menjadi editor!

Salah satu bagian terasyik dalam proses tulis menulis adalah saat kamu menjadi editor untuk karyamu sendiri. Setelah kamu selesai menulis, baca ulang tulisanmu dari awal hingga akhir. Perhatikan penempatan tanda baca, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), margin, penggunaan kalimat majemuk, penulisan body note, footnote, daftar pustaka dan cara penulisan kata-kata asing yang harus dimiringkan (italic). Kamu bisa menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk membantu mengecek EYD dalam tulisanmu.
Perhatikan juga kesinambungan antar kalimat. Apakah kalimat pertama sudah nyambung dengan kalimat kedua atau justru meloncat dari topik di kalimat pertama? Apakah tulisanmu sudah sistematis sehingga mudah dibaca dan dimengerti? Jangan sampai tulisanmu justru membuat pembaca kebingungan dengan apa yang ingin kamu sampaikan. Nah, dengan mengecek semua hal di atas, kamu akan semakin paham tentang tata cara penulisan sesuai EYD serta bagaimana cara menulis yang baik dan sistematis.

6. Pilihlah media yang tepat

Menjadi penulis membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, manfaatkanlah media-media di sekitarmu untuk membantu kamu menyebarluaskan tulisan yang telah kamu buat. Kamu bisa memanfaatkan blog media nasional khusus citizen journalism atau membuat blogmu sendiri. Kamu juga bisa memanfaatkan situs-situs yang membuka kesempatan bagi para penulis untuk memasukkan karya-karyanya. Nah, banyak banget ‘kan? Yang terpenting adalah tetap tekun, rajin dan selalu berusaha memberikan tulisan terbaikmu!

7. Bagikan tulisanmu via media sosial

Langkah terakhir setelah kamu menuangkan tulisan melalui media yang kamu pilih adalah membagikan (share) tulisanmu melalui media sosial. Kamu bisa memanfaatkan Facebook, Line, Instagram, BBM, Twitter atau bahkan Path untuk membuat orang lain ingin membaca tulisanmu. Sederhana tapi dijamin manjur karena hampir semua orang aktif menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi. Membagikan tulisan lewat media sosial juga bisa membuka kritik dan saran dari para pembaca sehingga kamu bisa belajar lebih jauh tentang kekuranganmu dalam proses tulis menulis.
Tujuh langkah di atas bisa kamu terapkan setiap kali kamu ingin kembali menulis. Dan tentunya, langkah-langkah di atas harus terus didukung dengan kemauan kita untuk menulis dan tekun berlatih. Semakin sering kita berlatih, kita akan semakin terdorong untuk menghasilkan tulisan terbaik dan terus belajar dari kekurangan kita sebagai penulis. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa dalam tulisan saya berikutnya! (cyn)

Sumber tulisan klik di: https://www.idntimes.com/life/inspiration/irene-cynthia-hadi-1/7-langkah-awal-buat-kamu-yang-lagi-belajar-menulis-c1c2/full 
Share:

Khutbah Jum’at: Tiga Ciri Orang yang Dicintai Allah




Khutbah Pertama:
الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ta’ala. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dengan senantiasa mengingat Allah dalam banyak kesempatan.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Di dalam sebuah hadits yang shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ
“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka telah Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah diluar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari).
Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Lantas bagaimana Allah mencintai hamba-Nya? Adakalanya, seseorang sering melakukan kemaksiatan, namun rezekinya lapang. Ia lalu beranggapan bahwa Allah tidak murka kepadanya, Allah tidak marah kepadanya. Allah masih mencintainya karena Allah masih melapangkan rezekinya.
Al-Hakim dalam Mustadraknya yang disetujui oleh Imam Adz-dzahabi akan kesahihannya, menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”.
Orang seperti itu mirip dengan orang kafir yang Allah sebut dalam surat Ar-Rum:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Lantas apa ciri-ciri orang yang dicintai Allah? Pertama, dia dibimbing oleh Allah. Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka hamba tersebut akan berada dalam tuntunan Allah Ta’ala. Allah Arahkan dia dalam kebaikan. Allah tidak ridho langkahnya menuju hal yang dibenci Allah. Allah tidak Ridho matanya melihat apa yang dibenci oleh Allah. Allah tidak Ridha pendengarannya mendengar apa yang dibenci Allah ta’ala. Apakah artinya dia maksum?
Dia tidak maksum. Dosa adalah sebuah keniscayaan, tetapi orang yang dicintai oleh Allah ketika melakukan perbuatan dosa, dengan tuntunan Allah yang baik, kepadanya diarahkan kepada kebaikan, maka dia dipercepat. Dia akan dibimbing oleh Allah untuk mudah sadar dan kembali kepada-Nya dengan bertobat.
Lihatlah Bagaimana Allah ta’ala menjaga sahabat Ma’iz radiallahu anhu, sahabat yang dia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia mengatakan, “Ya Rasulullah sucikan aku!” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menanyakan kepada para sahabat apakah sahabat Maiz sudah gila? Para sahabat mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia dalam keadaan waras.”
Ma’iz disuruh pulang, namun hari berikutnya datang kembali kepada Rasulullah seraya mengatakan “Ya Rasulullah, sucikan aku.” Ia berkata begitu karena telah melakukan perbuatan zina. Rasulullah masih belum yakin dan memastikan apakah ia berbicara secara sadar.
Setelah tiga kali datang dan dipastikan, maka Ma’iz dihukum rajam. Setelah kematiannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لقد تاب توبة لو قسمت بين أمة لوسعتهم
“Maiz betul-betul telah bertaubat yang sempurna. Seandainya taubat Maiz dapat dibagi-bagikan di tengah-tengah ummat niscaya mencukupi buat mereka”.
Jadi, ciri pertama adalah dibimbing oleh Allah pada kebaikan. Ketika berbuat dosa, ia tidak kebablasan, tetapi dibimbing untuk sadar dan bertobat kepada-Nya.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah 
Kemudian ciri yang kedua dari orang yang dicintai Allah ta’ala adalah Allah Ta’ala akan mengumpulkannya dengan orang yang mencintai dirinya karena Allah dan dia mencintai mereka karena Allah Ta’ala
Cinta karena Allah Ta’ala adalah faktor yang menyebabkan kecintaan Allah kepada seseorang. Oleh karena itu hati yang dipadu cinta bersama saudaranya karena Allah Ta’ala, akan mudah melekat. Seiring dengan berjalannya waktu dia akan tetap melekat. berbeda dengan kecintaan yang dibangun bukan atas dasar Allah ta’ala. Oleh karena itu dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan antipati karena Allah, serta cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabarani)
Contoh dalam masalah ini adalah Saad bin Muadz Radiallahu anhu. Ibnu Al Jauzi mengisahkan ketika Saad bin Muadz sedang menderita sakit, maka beliau menangis karena melihat banyak temannya yang dekat dengan dirinya tidak menjenguk, sehingga kemudian dia bertanya kepada pembantunya, “Ada apa dengan teman-temanku ini? kenapa mereka tidak menjengukku?”
Maka pembantunya diminta untuk mencari sebabnya. Kemudian diketahui bahwa mereka tidak menjenguk Saad bin Muadz Karena mereka malu akibat memiliki hutang kepadanya. Maka Saad bin Muadz mengatakan, “Sungguh dunia telah memisahkan antara diriku dan para sahabatku yang membangun cinta karena Allah Ta’ala.”
Saat kemudian memerintahkan pembantunya untuk mengumpulkan kantong sebanyak orang yang berhutang kepadanya, kemudian kantong itu diisi dinar dan dirham. Kantong-kantong itu kemudian dibagikan kepada orang yang berhutang kepadanya dan dia mengatakan semua utang mereka bebas karena Allah Ta’ala.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Kecintaan karena Allah Ta’ala tidak akan pudar dan sesungguhnya kecintaan kepada Allah Ta’ala akan menyebabkan kecintaan dari Allah Azza wa Jalla. Kemudian ciri berikutnya di antara tanda cinta Allah kepada hamba, yaitu diberi ujian oleh Allah.
Jangan memandang ujian sebagai hal yang negatif, karena ada di antara ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya itu baik untuk dirinya. Ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya merupakan bagian dari cara Allah menunjukkan rasa cintanya.
Oleh karena itu Ibnu Qayyim menyebutkan sesungguhnya dari sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta dan cemburu. Allah cemburu jika hambanya sibuk jangan dunia sehingga fokusnya hanya pada dunia saja, dan lupa kepada Allah ta’ala. Kecemburuan Allah ini ditunjukkan dengan Allah memberikan ujian kepada-Nya, agar dia tahu ke mana dia pulang.
Dalam hal ini, para Nabi adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena mereka diberikan banyak ujian oleh Allah ta’ala. Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyatakan kepada para sahabat bahwa beliau adalah orang yang paling besar ujiannya di antara mereka.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Di khutbah kedua ini, marilah kita berdoa kepada Allah, agar selalu diberi kesadaran atas setiap dosa, sehingga kita menjadi orang yang bersegera untuk bertobat kepada-Nya. Semoga kita didekatkan dengan orang-orang yang saleh dan berteman dengan mereka, sehingga kita kelak dibangkitkan bersama mereka. Dan semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk sabar menghadapi setiap ujian, sehingga kita tetap di jalan-Nya dan menjadi orang-orang yang dicintai-Nya.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ :
(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ))
Naskah ditranskrip dari khotbah Ust. Muhajirin, Lc. oleh Azzam.
Editor: Salem
Sumber Tulisan Klik https://www.kiblat.net/2017/11/09/khutbah-jumat-tiga-ciri-orang-yang-dicintai-allah/

Rekomendasi:
Khutbah Jumat: Mengapa Kita Harus Menegakkan Syariat

Share:

Pengantar Ilmu Tafsir

Pengantar Ilmu Tafsir
Oleh Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MA

Tafsir berasal dari kata al fusru yang mempunyai arti al-ibanah wa al-kasyf (menjelaskan dan menyingkap sesuatu). Makna ini sesuai dengan surat Al Furqan ayat 33, “wa laa ya’ tuunuka bimatsalin illa ji’ naaka bil haqqi wa ahsana tafsiirin.”
Menurut pengertian terminologi, seperti dinukil Al-Hafizh As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi, tafsir ialah ilmu untuk memahami kitab Allah subhaanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menjelaskan makna-maknanya, menyimpulkan hikmah dan hukum-hukumnya.

Urgensi Tafsir Al Qur’an dalam Islam
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. Didalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syari’at, asas-asas perilaku, menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Namun, Allah subhaanahu wa ta’ala tidak memberi perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir, apalagi sering menggunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Untuk itulah, diperlukan penjelasan berupa tafsir Al-Qur’an.

Sejarah Tafsir Al-Qur’an
Sejarah ini diawali pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika masih hidup. Seringkali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Untuk itu, mereka dapat langsung menanyakannya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara garis besar, ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu:
  1. Al-Qur’an itu sendiri, terkadang satu masalah yang dijelaskan secara global disatu tempat, dijelaskan secara lebih terperinci diayat lain.
  2. Disaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, para sahabat dapat bertanya langsung kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tentang makna suatu ayat yang tidak mereka pahami, atau mereka berselisih paham tentangnya.
  3. Ijtihad dan pemahaman mereka sendiri, karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat memahami makna perkataan dan mengetahui aspek kebahasaannya. Tafsir yang berasal dari para sahabat, dinilai mempunyai nilai tersendiri menurut jumhur ulama karena disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terutama pada masalah azbabun nuzul. Sedangkan pada hal yang dapat dimasuki ra’yi, maka statusnya terhenti pada sahabat itu sendiri selama tidak disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al Qur’an antara lain: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair. Pada masa ini belum terdapat satu pun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadits.
Setelah generasi sahabat, datanglah generasi tabi’in yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing masing. Ada tiga kota utama sebagai pusat pengajaran Al Qur’an yang masing-masing melahirkan madrasah atau madzhab tersendiri seperti Mekkah dengan madrasah Ibnu Abbas dengan murid-murid antara lain: Mujahid bin Jabir, Atha bin Abi Rabbah, Ikrimah, Thawus bin Kaisan Al Yamani, dan Said bin Jabir. Madinah, dengan madrasah Ubay bin Ka’ab, dengan murid-murid: Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhi, Abu Al-Aliyah Ar riyahi dan Zaid bin Aslam, dan Irak dengan madrasah Ibnu Mas’ud, dengan murid-murid: Al-Hasan Al Bashri, Masruq bin Al-Ajda, Qatadah bin Di’amah As Saduusi, dan Murrah Al-Hamdani.

Pada masa ini, tafsir masih bagian dari hadits, namun masing-masing madrasah meriwayatkan dari guru-guru mereka sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadits, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri, namun belum sistematis hingga masa dipisahkannya antara hadits dan tafsir menjadi kitab tersendiri. Usaha ini dilakukan oleh para ulama seperti Ibnu Majah, Ibnu Jarir Ath Thabari, Abu Bakr bin Al Munzir An Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut tafsir bi Al-Matsur.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metode tafsir dengan memasukkan unsur ijtihad yang lebih besar. Meskipun begitu, mereka tetap berpegang pada tafsir bi Al-Matsur, dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut. Hal ini melahirkan tafsir bi Al-Ra’yi dimana ruang lingkup ijtihad lebih luas dibandingkan masa sebelumnya.

Bentuk Tafsir Al-Qur’an
Ada berbagai bentuk tafsir Al-Qur’an, namun bentuk yang paling penting untuk dikenal ada dua, yaitu:

Tafsir bi Al-Ma’tsur
Dinamai dengan nama ini (dari kata “atsar” yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran, seorang mufasir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya, hingga kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tafsir bi Al-Ma’tsur adalah tafsir berdasar pada kutipan-kutipan yang shahih, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an; Al Qur’an dengan sunnah, karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah; dengan perkataan sahabat, karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah; dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in, karena mereka pada umumnya menerimanya dari sahabat. Contoh tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an seperti “wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khathil aswadi minal fajri..” (QS. Al-Baqarah: 187).
Kata “minal fajri” adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat “al khaitil abyadhi”.
Contoh tafsir Al-Qur’an dengan sunnah seperti “Alladzina amanuu lam yalbisu iimaanahum bizhulmin.” (QS. Al An’am: 82).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkannya dengan mengacu pada ayat, “innasy syirka lazhul mun ‘azhiim.” (QS. Luqman: 13).
Dengan itu, beliau menafsirkan makna “zhalim” dengan syirik. Tafsir bi Al-Ma’tsur yang terkenal antara lain: tafsir Ibnu Jarir, tafsir Abu Laits As Samarkandy, tafsir Ad Durul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur (karya Jalaluddin As Suyuthi), tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al Baghawy, dan tafsir Baqy bin Makhlad.

Tafsir bi Ar-Ra’yi
Perkembangan zaman menuntut pengembangan metode tafsir yang disebabkan tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah, maka ilmu tafsir membutuhkan peran ijtihad yang lebih besar dibandingkan dengan tafsir bi Al-Matsur. Dengan bantuan ilmu bahasa Arab, ilmu qira’ah, ilmu Al-Qur’an, ilmu hadits, ushul fiqh, dan ilmu-ilmu lain, seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menjelaskan dan mengembangkan maksud ayat dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Namun, tidak semua hasil tafsir yang mereka tulis bisa diterima karena merupakan hasil ijtihad yang berpeluang untuk benar dan salah.
Beberapa tafsir bi Ra’yi yang terkenal antara lain: tafsir Al Fakhrur Razy, tafsir Abu Suud, tafsir Al-Khazin.

Metodologi tafsir Al Qur’an
Metodologi tafsir dibagi menjadi empat macam, yaitu metode tahlili, ijmali, muqaron, dan maudlu’i.

Metode Tahlili (analitik)
Metode tahlili adalah metode tafsir Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur’an dengan mengurai berbagai sisinya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al Qur’an. Metode ini merupakan metode yang paling tua dan sering digunakan.
Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat, kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqh, dalil syar’I, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, dan lain sebagainya.

Metode Ijmali (global)
Metode ini berusaha menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili, namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh tiap lapisan dan tingkatan ilmu kaum muslimin.

Metode Muqarran
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir, dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.

Metode Maudhui (tematik)
Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.

Dikutip dari Buletin An-Naba’ Edisi 11 Tahun ke-2

Sumber tulisan ada di: https://belajarislam.com/alquran/pengantar-ilmu-tafsir/
Share: