This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Jumat Berkah #1: Kado Spesial Tasmi', dan Kunjungan Teman FLP Semarang
Toleransi Agama yang Kebablasan
Minggu, 01 Juni 2014
HARI MINGGU PASKAH VII
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
Hari ketiga novena Roh Kudus
Kis. 1:12-14; Mzm. 27:1,4,7-8a; 1Ptr. 4:13-16; Yoh. 17:1-11a
"Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu." (1 Petrus 4:14)
Sabtu (31/5), Mas Luqman, Mas Samsul, Mbak Ulfa, Mbak Zulaikha, Mas Gofar dan teman-temannya yang lain, total 30 orang bersilaturahmi ke Pastoran Kebon Dalem, tempat saya bertugas. Mereka adalah mahasiswi-mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Sunan Walisongo, Semarang. Mereka semua berjumpa saya untuk belajar mengenal Kekatolikan dan perihal Gereja Katolik.
"Dengan mengenal Kekatolikan, kami bisa memahami perbedaan dan saling menghargai perbedaan it!" Jelas Mas Luqman kepada saya dan teman-teman lainnya, termasuk kepada sejumlah orang muda Katolik yang saya minta ikut jadi tuan rumah menyambut mereka.
Kedatangan mereka ke Kebon Dalem tidak spontan. Ini sudah direncanakan beberapa waktu laku kita empat orang dari mereka menemui saya. Acaranya pun kami sepakati demikian. Diawali dengan penjelasan tentang Kekatolikan (pkl 16.00-17.00) lalu melihat tata cara ibadat Katolik (17.30-19.00) dan tanya jawab setelah makan malam bersama.
Sekitar pukul 15.30 mereka datang. Mereka menanyakan masjid terdekat karena mau sholat. Saya tunjukkan masjid terdekat dan mereka sholat di situ. Setelah sholat, kami melanjutkan acara seperti sudah saya sampaikan tadi.
Sekitar satu seperempat jam mereka mendengarkan info-info seputar Kekatolikan, mulai dari institusi Gereja Katolik hingga spirit pelayanan dan landasan iman akan Tritunggal Mahakudus. Saya juga terangkan pandangan positif Gereja Katolik terhadap agama-agama lain seperti tertulis dalam Nostra Aetate.
Setelah itu mereka menikmati snack. Saya berangkat ke gereja untuk persiapan misa. Seperti biasa, sebelum misa, saya selalu berdiri di depan pintu gereja untuk menyalami umat. Lima menit menjelang misa mulai, teman-teman mahasiswi-mahasiswa Fak Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Walisongo juga ke gereja. Rupanya, mereka mau melihat, mengamati dan menyaksikan apa yang terjadi dengan tata ibadat Katolik melalui Perayaan Ekaristi.
Perayaan Ekaristi berjalan seperti biasa dengan keistimewa kehadiran "para tamu" yang sedang belajar untuk tahu apa dan bagaimana itu Gereja Katolik. Kebetulan ritus tobat menggunakan cara percikan air suci "Asperges me". Maka sebelum percikan dimulai saya jelaskan kepada mereka, "Percikan air ini adalah percikan air suci. Bukan untuk baptisan melainkan untuk pembersihan. Kalau teman-teman mau sholat harus wudhlu terlebih dahulu, percikan air suci itu bisa dianggap wudhlu ala Katolik." Dan mereka pun mengikuti ritus percikan dengan tenang dan khusyuk.
Di saat homili dimulai, waktu menunjukkan pukul 17.55. Maka, saya awali homili dengan mengatakan, "Teman-teman dari IAIN yang terkasih. Sekarang sudah pukul 17.55. Masih ada kesempatan untuk mendirikan sholat magrib. Selama saya kotbah/homili, silahkan kalian sholat magrib di pastoran." Sejumlah OMK yang membantu saya menyambut mereka maju menjemput mereka dan mengantar ke pastoran untuk sholat magrib.
Saya melanjutkan dengan homili. Dua puluh menit kemudian mereka masuk lagi di gereja persis saat saya menutup homili. Di akhir homili yang tegaskan lagi kutipan dari bacaan kedua, "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu." (1 Petrus 4:14)
Bisa jadi, meski tidak mengimani Kristus, hanya karena teman-teman IAIN hadir dalam Misa dalam rangka belajar kenal bukan dalam rangka iman pun, mereka akan "dinista karena nama Kristus". Maka saya tegaskan, "Berbahagialah! Jangan takut! Anda semua tetap seorang muslim yang membawa rahmatanlilalamin!"
Di akhir Misa, kebetulan kemarin sore adalah penutupan bulan Mei sebagai bulan Maria. Saya pun mengajak mereka tahu sikap dan iman Katolik terhadap Bunda Maria yang dalam Alquran disebut Siti Maryam, ibunda Isa Almasih. Mereka pun ikut dalam ritus ini dengan khidmat! Sungguh mereka pun telah menjadi berkat bagi umat dan masyarakat!
Selesai Misa, kami makan malam bersama di pastoran. Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan tanya jawab hingga pukul 21.00. Mereka pulang. Mas Luqman pun mengirimkan sms sebagai berikut, "Romo, matur nuwun nggeh.., sudah memberikan pengalaman yang luar biasa... Semoga silatrahmi ini nanti bisa tetap berlanjut..."
Saya syukuri dan persembahkan semua pengalaman ini dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Sebelum kita berdoa, bahkan Yesus telah lebih dahulu berdoa bagi kita. Maka, dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita pun berdoa bersama Kristus yang telah dahulu berdoa demi keselamatan kita. Karena itu, "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu." (1 Petrus 4:14)
Tuhan Yesus, berkatilah dan kuatkanlah kami bila harus menderita karena Kristus! Semoga kami mengalami kebahagiaan sejati, meski harus menderita, kini dan sepanjang masa. Amin.
Radio Gajah Mada FM - di sela-sela siaran saat laguku "Kusujud sambil Berdoa" dikumandangkan (rmabudippr)
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•ĐǎƖєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Sent from my heart of budhenkpr
"abdi Dalem palawija"
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang
diShare · June 1, 2014.
Sumber asli catatan silahkan klik di Sini.
Mencoba Bisnis Online
Setelah membaca beberapa catatan tentang orang-orang yang sukses berusaha melalui bisnis online, aku mencoba memulainya. Sungguh aku tidak memiliki pengetahuan yang banyak mengenai, tapi aku akan mencoba pelan-pelan sambil terus meng up-date ilmu tentang tentang teknologi informasi yang terus berkembang biar tidak kupdate, meminjam istilah Raditiya Dika.
Aku melihat banyak bidang yang bisa dijalankan lewat bisnis online, salah satunya adalah bidang marketing dengan menjadi reseller produk. Salah satu kelebihannya adalah, kita tidak perlu bingung menciptakan produk, namun kita harus belajar memasarkan agar ada yang mau membeli. Sekarang telah banyak jejaring internet yang bisa dimanfaatkan dan banyak pihak yang terlibat dalam dunia internet. Karena itu aku mulai mencoba bisnis ini, menjadi reseller produk.
Banyak produk yang beredar di internet di mana kita bisa mengambil bagian sebagai resellernya. Ada buku, baju, sepatu, e-book, software dan lain-lain. Dalam hal ini aku mencoba menjadi reseller untuk produk persiapan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Hal ini aku lakukakan karena sekarang ini animo masyarakat untuk menjadi PNS sangat besar. Mungkin karena kalau menjadi PNS hari-hari kita cukup terjamin hingga tua nanti.
Mungkin keuntungan tidak seberapa dari menjadi reseller, tapi jika ditekuni insya Allah, Allah akan memudahkan jalan bagi hamba-hambanya yang mau berusaha. Karena menjadi reseller bagiku sama saja dengan menjadi pedagang di mana jika dilakukan dengan jalan yang baik, insya Allah ada keberkahan dan fadhilah di dalamnya. Insya Allah... Semoga Allah memberi kemudahan. Amiin..
Dialog Iman Santri Kuttab Al-Fatih Semarang.
Selang beberapa menit sang anak memanggil ustadzah dari dalam kamar mandi. Ternyata dia baru saja selesai dari buang air besar. Sang ustadzah langsung bergegas menuju kamar mandi yang ternyata lampunya masih mati. Artinya, sang anak berada dalam kamar dalam kondisi yang gelap. Di sela-sela menceboki anak muncul dialog antara ustadzah dan santri.
Ustadzah: Nggak takut gelap-gelapan di kamar mandi ?
Santri: Nggak ustadzah. tadi kan Ustadz bilang kalau kita hanya boleh takut kepada Allah.
Kebuetulan pas di jam olah raga anak-anak satu persatu disuruh berlari memasuki sawah-sawah yang masih dipenuhi semak belukar. Dan penekanan olah raga pada hari ini adalah tentang keberanian. Tidak ada yang patut kita takuti selain Allah SWT. Seperti dalam hadits Rasulullah SAW, "Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu." (HR. Al-Baihaqi)
Membangun Rasa
Membangun rasa itu bukanlah perkara yang mudah. Ia membutuhkan latihan spiritual/ruhiyah yang serius sehingga kita benar-benar bisa mengelola rasa itu dengan baik. Namun jika dilatih secara terus-menerus, maka atas izin Allah Swt maka rasa itu pasti bisa diasah seperti kita mengasah pisau. Meski awalnya tumpul namun jika diasah dengan baik, maka pisau itu pada akhirnya akan tajam juga. Betapa tidak sedikit manusia yang disinggung sedikit bahkan tanpa kata-kata pun bisa langsung merasa. Sebaliknya, tidak sedikit juga orang, meski sudah “dipalu” tapi tetap juga tidak merasa. Hingga akhirnya dalam istilah sehari-hari kita mendengar ada istilah “mati rasa” gelar yang disematkan bagi orang-orang yang tidak memeliki perasaan.
Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk membangun rasa itu adalah dengan cara berempati yaitu mencoba memposisikan diri seperti posisi yang sedang dirasakan orang lain. Meski kita seorang yang kaya, cobalah sesekali merasakan bagaimana seandainya kita menjadi orang miskin; meski kita jadi mahasisiwa, cobalah sesekali kita merasakan bagaimana rasanya jika kita yang menjadi dosennya; jika kita seorang atasan, bagaimana rasanya seandainya jika kita yang menjadi bawahan; jika kita seorang anak, bagaimana rasanya seandainya kita yang menjadi orang tua; jika kita seorang suami, bagaimana rasanya seandanya kita yang menjadi istri .
Betapa susuahnya menjadi orang miskin namun setiap hari dituntut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dengan biaya yang tidak sedikit. Betapa repotnya seorang dosen yang setiap hari selalu berfikir keras bagaimana untuk mencerdaskan mahasiswanya selain harus terus berkreasi untuk memunculkan ilmu-ilmu baru. Bagaimana tidak enaknya menjadi bawahan jika selalu dituntut mengerjakan ini mengerjakan yang itu. Bagaimana kerja keras orang tua untuk mendidik dan memenuhi kebutuhan putra-putrinya. Bagaimana beratnya menjadi seorang istri dengan dengan segala upaya berusaha membahagiakan seorang suami dan anak-anaknya dengan segala tuntutan pekerjaan, belum lagi kalau istri kita adalah seorang pekerja yang juga pasti mendapatkan beban pekaerjaan yang tidak sedikit.
Dengan cara seperti itu, paling tidak kita bisa merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain. Sehingga tidak mudah bagi kita untuk selalu menyalah-nyalahkan orang lain atau bahkan samapai mengumpat orang yang mungkin tidak sesuai seperti yang kita harapkan. Barangkali ada alasan lain yang menyebabkan orang itu melakukan sesuatu yang menurut kita tidak pas. Dengan begitu mudah-mudahan kita bisa mengasah rasa dalam diri sehingga tidak menjadi orang yang “mati rasa” atau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "ora ndue roso". Jika rasa sudah tertanam dengan baik pada diri, tentu kita akan dengan mudah bisa memposisikan diri dan tahu apa yang seharusnya kita lakukan. Wallahu A'lam
Manajemen Rasa #1
Bukit Kencana, 11 April 2014
Pkl. 06.03 Wib

















