Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tawakkal di Masa Pandemi

Tawakkal di Masa Pandemi
Disampaikan: Jum'at, 30 Juli 2021 di Masjid Al-Fatih Semarang

Khutbah I: 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ؛

MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH,

 

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT… yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya…, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini… dengan penuh keridhaan-Nya... Shalawat dan salam, semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya, yang senantiasa menegakkan agama Allah di muka bumi ini, hingga akhir zaman.

 

Dalam kesempatan ini, khatib juga mewasiatkan untuk diri sendiri dan juga jama’ah semuanya agar senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Syarah hadits Arba’in hlm. 345, menyebutkan bahwa hakikat taqwa adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dengan mengimani (mengenal) Dzat yang memerintah dan melarangnya.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Di saat menghadapi pandemi Covid-19 seperti yang sedang terjadi saat ini, baik masyarakat dari kalangan bawah hingga pemerintah sibuk mencari solusi yang terbaik agar terhindar dari wabah ini. Mulai dari menerapkan protokol kesehatan dengan  mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak hingga melakukan vaksinasi agar terhindar dari virus yang mematikan ini.

 

Lalu bagaiman sikap kita seharuanya sebagai seorang muslim? Apakah kita hanya akan bergantung pada usaha-usaha yang kita lakukan terasebut? Para jama'ah barangkali sudah mendengarkan banyak kajian mengenai hal ini. Khotib mengingatkan kepada diri pribadi dan jama'ah sekalian, agar kita jangan sampai memutlakkan bahwa ikhtiar yang kita lakukan tersebut sudah pasti tentu menghindarkan diri kita dari covid19. Khawatir hal tersebut menyebabkan aqidah kita goyah,  apabila kita meyakini bahwa usaha kita itulah yang mampu menghindarkan dan mengobati kita dari covid-19.

 

Padahal sesungguhnya yang bisa menyembuhkan atau menghindari kita dari segala mara bahaya hanyalah Allah swt. Ada sekitar 12 ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa hanya Allah-lah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya. Di antara ayat tersebut:

 

1. Surat Yunus (10) Ayat 49

قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي ضَرّٗا وَلَا نَفۡعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

 

 

Juga di dalam

2. Surat Al-Ma'idah (5) Ayat 76

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

76. Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Terdapat juga di dalam

3. Surat Al-Anbiya (21) Ayat 66

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

66. Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"

 

Dalam sebuah Hadits juga disebutkan:

عَنْ ابنِ عباسٍ رضي الله عنهما، قَالَ: كنت خلف النَّبيّ صلى الله عليه وسلم يوماً، فَقَالَ: "يَا غُلامُ، إنِّي أعلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَألْتَ فَاسأَلِ الله، وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ، وَاعْلَمْ أنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبهُ اللهُ لَكَ، وَإِن اجتَمَعُوا عَلَى أنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Dari Abdullah bin Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu; dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering"  (HR At Turmudzi).

 

Oleh karenanya yang perlu kita kuatkan pada diri kita dalam menghadapi pandemi seperti ini, salah satunya tentu dengan senantiasa bertawakkal kepada Allah.  setelah kita melakukan ikhtiar yang kita lakukakan. Maka apapun hasilnya kelak kita berserah diri hanya kepada Allah subhanahu wata'ala. Kita hanya menggantungkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala, apapun taqdirnya. Apakah kita bisa terhindar dari mushibah ini atau tidak, sesungguhnya Allah lah yang telah menetapkannya.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Salah satu jalan untuk mencapai keimanan yang sempurna dan keislaman yang totalitas adalah dengan tawakkal kepada Allah swt semata. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata bahwa tawakkal adalah puncak iman. Dalam kitab Al-Bahrur Raiq fiz Zuhdi war Raqaiq, karangan Syaikh Ahmad Farid, hal 349: disebutkan bahwa Tawakkal adalah menyandarkan hati kepada Allah dalam menggapai maslahat (kebaikan) atau menghindari mudharat (keburukan) baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Sehingga orang yang bertawakkal itu hanya bergantung kepada Allah swt saja.

 

Apabila dilihat dari konsekuensinya, maka bertawakkal kepada Allah swt hukumnya adalah wajib berdasarkan Nash Al-Quran dan Al-Hadits.

Allah swt berfirman:

ومن يتوكل على الله فهو حسبه

Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka niscaya Allah akan mencukupkan keinginannya. (QS. Ath-Thalaq: 3).

 

Juga Rasulullah saw bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan rezeki kepada kalian, seperti Allah memberikannya kepada seekor burung. Yang mana seekor burung pergi pada pagi buta dalam keadaan lapar, dan kembali pada waktu petang dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, No. 205. Hadits Shahih).

حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

 

HADIRIN SIDANG JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Berdasarkan kitab fawaidul fawaid karangan ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 113, disebutkan bahwa: Tawakkal kepada Allah ada 2 macam:

1.      Tawakkal kepada Allah hanya sekedar untuk memperoleh semua kebutuhan duniawi, atau terhindar dari segala musibah yang ada di dunia.

2.      Tawakkal kepada Allah untuk memperoleh apa-apa yang dicintai dan diridhoi Allah swt, baik untuk maslahat (kepentingan) dunia maupun akhiratnya.

 

Jika seorang hamba bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya pada bentuk yang kedua tadi, niscaya Allah akan memenuhi seluruh harapannya pada tawakkal bentuk yang pertama. Sedangkan jika ia bertawakkal kepada Allah pada bentuk yang pertama saja, maka Allah akan mencukupkan baginya, namun buah dari tawakkalnya itu bukan berupa sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah swt.

Padahal dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karangan Ibnu Rajab, hal 1001, disebutkan bahwa ibnu Abu Ad-Dunya berkata: Seorang yang bijak (ahli hikmah) berpendapat bahwa tawakkal mempunyai 3 tingkatan: Pertama, tidak mengeluh. Kedua, ridha. Dan Ketiga, cinta.

 

حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

 


HADIRIN SIDANG JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Hakikat tawakkal yang khotib sampaikan dari berbagai sumber tadi, seharusnya menjadi pedoman bagi kita untuk mengawali dan mengakhiri setiap ibadah dan kebaikan yang kita kerjakan. Namun ironisnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak mengetahui hakikat tawakkal tersebut. Sehingga mereka kerap sekali melakukan ibadah dan kebaikan tanpa bertawakkal kepada Allah swt. Inilah yang disebut dengan seorang muslim yang tertipu dalam ibadah dan kebaikan yang dilakukannya.

 

WAHAI SAUDARAKU SEIMAN

 

Tidak bisa dipungkiri, terkadang tawakkal itu dilakukan karena keterpaksaan. Yakni, seseorang baru bertawakkal kepada Allah ketika sedang sakit atau butuh pertolongan serta perlindungan. Padahal bertawakkal dalam keadaan seperti ini, tidak memberikan solusi dan kemudahan atas kesusahan yang dialaminya. Sudah tentu, sebaik-baik bertawakkal adalah ketika kita sehat dan mendapatkan nikmat.

 

Oleh karena itu, marilah kita bertawakkal kepada Allah swt dengan hati yang ikhlas dan merealisasikannya melalui lisan dan perbuatan. Dengan demikian, usaha ibadah dan kebaikan kita hari ini, atau bahkan di hari-hari lainnya, dibalas dan diridhai Allah swt.

 

حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ  مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ



Khutbah II:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْمَعْرِفَةِ فَاطْمَأَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ،

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَهُوَ الرَّقِيْبُ الْمَجِيْدُ،

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَنَارَ الْوُجُوْدَ بِنُوْرِ دِيْنِهِ وَشَرِيْعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الْوَعِيْدِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Share:

Sebuah Perjalanan Menyusuri Kabupaten Magelang

Sebuah Perjalanan Menyusuri Kabupaten Magelang
Oleh: Syah Azis Perangin Angin

Mengawali Perjalanan  Semarang – Kab. Magelang

Di masa pandemi seperti ini, salah satu hal yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan imunitas tubuh agar antibodi juga meningkat. Di mana imunitas tubuh kita akan meningkat jika pikiran kita juga dalam kondisi yang baik. Maka salah satu yang bisa dilakukan agar pikiran kita tenang dan hati juga bahagia adalah dengan berwisata ke objek-objek yang indah.

Salah satu tujuan wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi tentunya adalah Kabupaten Magelang. Kalau kita menyebutkan Kabupaten Magelang, maka yang muncul di benak kita biasanya adalah Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia. Namun perlu diketahui, selain Candi Borobudur juga terdapat berbagai objek lain yang menarik untuk dikunjungi. Apalagi Kabupaten Magelang berada daerah dataran tinggi yang berbentuk cekungan dengan dikelilingi oleh gunung-gunung. Pastinya menyimpan tempat-tempat eksotis yang sayang kalau tidak dikunjungi.

Oleh karena saya bersama Istri dan seorang anak yang masih berusia 4 tahun menyempatkan diri untuk berkeliling menyaksikan nuansa alam Kabupaten Magelang. Kami berangkat dari Semarang pada hari Rabu pagi tanggal 30 Juni 2021. Daerah pertama yang kami tuju adalah Kecamatan Borobudur. Kami melewati Kabupaten Semarang kemudian langsung masuk menuju Kecamatan Grabag, Kecamatan Secang, Kota Magelang, Kecamatan Mungkid, kemudian masuk ke Kecamatan Borobudur. Di tengah-tengah perjalanan kami coba sempatkan untuk menikmati es kelapa muda di sekitar wilayah Kecamatan Grabag menghilangkan dahaga.

Aura Sejarah Makam Kyai Raden Santri

Pintu Masuk Menuju Makam Kyai Raden Santri
Setibanya di daerah Borobudur, yang pertama kami lakukan tentunya mencari tempat menginap. Karena Borobudur merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal, maka di sini tentunya banyak penginapan yang bisa ditumpangi. Untuk melakukan pemesanan juga tidak sulit, dapat dipesan langsung di lokasi atau di platform-platform yang menyediakan jasa pemesanan hotel. Kami sendiri memesannya langsung di lokasi di salah satu penginapan yang tidak terlalu jauh dari pasar Borobudur. Hal ini agar lebih dekat menjangkau destinasi-destinasi wisata yang berada di sekitar Borobudur.

Setelah mendapatkan penginapan, kami mengistirahatkan sejenak badan setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh dari rumah, sekitar 92 Km. Selanjutnya kami mulai menuju destinasi pertama, yaitu Makam Kyai Raden Santri. Makam ini berada di Gunungpring wilayah administrasi Kecamatan Muntilan. Di objek wisata yang saya baca di internet, objek ini kelihatannya tidak terlalu popular. Barangkali karena termasuk dalam objek wisata religi di mana tidak semua penganut agama yang mau mengunjunginya, kecuali seseorang yang beragama Islam.

Apa sebenarnya istimewanya makan ini? Kalau kita melihat lebih dalam maka akan banyak hal sangat menginspirasi kita. Salah satunya adalah merasakan aura sejarah Makam Kyai Raden Santri (tahun 1611). Kyai Raden Santri bernama asli Pangeran Singosari adalah putra Kyai Ageng Pemanahan (wafat tahun 1584) yang merupakan pendiri kerajaan Mataram Islam. Kyai Raden Santri merupakan orang yang mengawali penyebaran agama Islam di Magelang dan sekitar Kedu. Di Makam Kyai Raden Santri juga dimakamkan banyak aulia’ dan ulama, di antaranya KH. Abdurrohman, KH. Dalhar, Kyai Krapyak Kamaludin, dan lain-lain.

Untuk menuju makam, kita harus melewati anak tangga sekitar 300 m. Satu demi satu anak tangga kami tapaki, sambil berzikir menyebut nama-nama Allah yang ditempel di atas anak tangga. Perjalanan pun tidak terasa jauh apalagi di sepanjang jalan terdapat banyak pedagang yang menjual produk-produk setempat. Jadi, sambil menikmati perjalanan, kita bisa berbelanja. Pada umumnya para pengunjung berbelanja sambil turun kembali menyusuri anak tangga tersebut.

Makam Kyai Raden Santri

Tidak terasa, akhirnya sampai juga di puncak Gunungpring. Maka setiba di puncak kita bisa langsung minum beberapa teguk air yang sudah disediakan di dalam gentongan. Jika ingin salat dan mengambil air wudu pun tersedia di tempat tersebut. Dan yang paling penting untuk dilakukan setelah tiba di puncak adalah mengunjungi makam para ulama terdahulu dan berdoa untuk mereka serta melakukan berusaha merasakan perjuangan yang mereka lakukan. Mereka walaupun sudah meninggal, masih tetap ada yang mengunjungi dan mendoakan. Semua itu tentu karena peran mereka yang jasanya selalu diingat oleh orang-orang setelah mereka.

Kita akan bisa merasakan gelombang peziarah yang luar biasa ramai di bulan Syaban, satu bulan sebelum Ramadhan. Dalam budaya Jawa bulan Syaban juga disebut dengan bulan Ruwah, bulannya para arwah. Di mana umat Islam biasanya mendoakan arwah para pendahulu mereka dengan mengunjungi makam-makamnya. Tidak terkecuali Gunungpring yang terdapat di dalamnya makam Kyai Raden Santri dan ulama-ulama terdahulu. Kita akan dapat melihat rombongan-rombongan peziarah yang datang menggunakan bus-bus pariwisata.

Setelah selesai berdoa, kami kembali turun ke parkiran, menyusuri anak tangga-anak tangga. Kami tidak lupa berbelanja camilan untuk bekal perjalanan. Dan salah satu yang kami beli adalah Slondok khas Magelang. Keunikannya adalah Slondok tersebut lumayan besar-besar dan panjang lebih besar dari biasanya di daerah lain dan rasanya juga tentu tidak kalah enak. Di sana juga kita bisa membeli jenang khas Magelang atau membeli cinderamata untuk oleh-oleh. Bagi yang ingin menginap, di sekitar Gunungpring juga terdapat banyak penginapan sederhana.


Menikmati Nasi Goreng Magelangan

Nasi Goreng Magelangan

Setelah kembali istirahat di penginapan, pada malam hari kami mencari sesuatu yang dapat mengisi perut. Dan menu makan malam yang sayang jika dilewatkan adalah Nasi Goreng Magelangan. Setiap kota pastinya memiliki kekhasan makanan tidak terkecuali Nasi Goreng Magelangan. Nasi goreng ini memiliki ciri khas nasi goreng yang dicampur dengan mie basah dan balungan (tulang ayam).

Jika ingin menyantap makan malam di sekitar pasar Borobudur juga pastinya tidak terlalu sulit. Banyak warung-warung tersedia di sini. Kami sendiri menginap di Borobudur dua malam, dan di malam kedua pun kami masih mencari sesuatu yang disantap di tempat ini. Selain kuliner, pada malam hari, suasana di pasar Borobudur juga tergolong ramai. Dan juga bisa digunakan untuk jalan-jalan malam. Terdapat juga permainan untuk anak-anak bagi yang membawa anak yang masih kecil.

Setelah menyelesaikan makan malam, kami kembali lagi ke penginapan untuk mengistirahatkan badan. Menunggu pagi hari menikmati alam di sekitar Kabupaten Magelang. Keesokan harinya kami berencana untuk keluar sebelum matahari terbit agar bisa menyaksikan matahari terbit dari sekitar bukit yang terdapat di sekitar kecamatan Borobudur.


Menyusuri Pegunungan Menoreh

Pagi hari sekali setalah subuh dan mandi, kami melanjutkan perjalanan menikmati mau melihat matahari terbit dari ketinggian di sekitar Pegunungan Menoreh. Si kuda besi kami arahkan menuju Puthuk Setumbu yang masih berada di sekitar kecamatan Borobudur. Dengan bermodalkan Google Maps, kami menyusuri jalan-jalan dengan suasana pedesaan yang ada di sekitar kecamatan Borobudur. Di sepanjang jalan terlihat banyak wisatawan yang menggunakan mobil wisata Borobudur berkeliling menikmati suasana pedesaan di sekitar Kecamatan Borobudur.

Setiba di pertigaan menuju Puthuk Setumbu kami dihadang oleh beberapa warga yang bertugas. Ternyata beberapa hari sebelumnya tempat ini ditutup karena darurat Covid. Sedikit tentu ada perasaan kecewa karena tidak bisa menikmati matahari terbit dan melihat Candi Borobudur dari Puthuk Setumbu.

Kami berbalik arah dan hendak mengunjungi Gereja Ayam Bukit Rhema yang juga tidak terlalu jauh dari sana. Kami penasaran ingin melihat-lihat yang konon dibangun sebagai lamang perdamaian dan persatuan bangsa dan di dalamnya terdapat ruang-ruang yang dapat digunakan untuk ibadah Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha. Hasilnya juga ternyata sama. Tempat tersebut juga ditutup akibat darurat Covid. Kami belum bisa mengunjungi tempat tersebut, dan mudah-mudah suatu saat bisa berkunjung ke tempat ini.

Pemandangan Alam dari Pegunungan Menoreh

Agar tidak terlalu kecewa, kami menyusuri Pegunungan Menoreh menuju arah puncak Surayala yang merupakan salah satu Puncak Pegunungan Menoreh. Lagi-lagi dengan bermodalkan peta Google, kami langsung masuk menyusuri desa-desa yang ada di sekitar pegunungan yang masih masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Borobudur. Ketika sudah masuk ke wilayah yang sangat pedesaan dan medan jalan penuh dengan tanjakan, ada perasaan takjub terhadap penduduk sekitar. Dalam suasana perbukitan seperti itu mereka tetap bisa hidup. Saya tidak tahu persis apa mata pencaharian mereka, kemungkinan sebagai petani.

Setelah sekitar lebih kurang satu jam kami jalan-jalan menyusuri jalan menanjak Pegunungan Menoreh, kami hampir sampai di Puncak Surayala. Hanya saja untuk menuju puncak tertingginya kami sudah tidak berani. Kami hanya sampai pada jalan yang bisa dikendarai roda dua. Meskipun demikian dari tempat ketinggian ini, kita sudah bisa menikmati pemandangan indah Kabupaten Magelang yang begitu indah dan menawan.

Menurut penuturan warga setempat yang ramah-ramah, menuju puncak Suralaya harus menggunakan mobil offroad 4x4 atau sendirian dengan kendaraan roda dua. Sedangkan kami naik kendaraan dengan berboncengan, jadi sudah tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan. Kami putuskan untuk turun kembali ke Borobudur. Dalam perjalanan pulang pun cukup memicu adrenalin. Meskipun jalan tergolong bagus, namun penuh turunan terjal dan berliku sehingga benar-benar harus ekstra hati-hati.

Warung Makan Soto Blumbang

Perut sudah mulai terasa keroncongan, menandakan alarm waktu sarapan sudah berbunyi. Kami putuskan untuk mencari sarapan soto. Google Maps langsung kami arahkan menuju Warung Soto Blumbang di Desa Progowati, Kecamatan Mungkid. Tempatnya bagus. Di sekitar rumah makan terdapat kolam ikan yang menarik. Si buah hati terlihat sangat riang melihat ikan-ikan yang berseliweran di dalam kolam. menu spesial yang bisa dipesan di sini adalah Soto Bakso. Kami sudah terbiasa makan soto, juga bakso. Dan agak sedikit unik, kalau soto dikasih bakso. Selain menu itu tentu banyak jajanan yang lain yang juga bisa dinikmati di sini.

Setalah sarapan soto bakso, kami kembali ke penginapan untuk istirahat. Karena kamar yang kami pesan hanya untuk satu malam, maka kami bersiap-siap untuk check out. Tadinya rencana mau pulang ke Semarang langsung. Namun karena udara cukup panas dan kami masih sedikit agak kelelahan. Kami memutuskan untuk menambah satu malam di Borobudur. Kami mencari penginapan lain agar mendapat suasana berbeda. Kami tidak pesan secara online, sembari jalan-jalan mencari penginapan yang lokasinya terasa cocok. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan yang tidak jauh dari Candi Pawon.


Makan di Pinggir Sungai Elo

Rumah Makan Raja Kosek

Setelah istirahat siang dan badan terasa sudah lebih segar, kami Kembali mencari sesuatu yang bisa mengisi perut. Makan siang hari ini kami putuskan mencari tahu sebuah rumah makan yang terdapat di bawah jembatan Sungai Elo Magelang. Sungai tersebut merupakan sungai yang memisahkan Kecamatan Mungkid dan Kecamatan Muntilan. Satu hari sebelumnya kami sempat melewati rumah makan tersebut yang terlihat menarik perhatian. Namanya adalah Rumah Makan Raja Kosek.

Sesampainya di Rumah Makan Raja Kosek, kami langsung memesan makanan. Penasaran dengan menu koseknya, kami memesan menu bebek kosek. Sambil menunggu santapan dihidangkan,

Bebek Kosek Raja Kosek


kami mencari tempat duduk yang nyaman. Makan di warung ini lumayan asyik buat jalan-jalan dengan pelayanan yang baik. Penataan tempat cukup bagus dengan nuansa alam makan di pinggir sungai. Selain makan di pinggir sungai, warung ini juga berada di bawah dua buah jembatan. Akhirnya menu makan yang ditunggu datang juga. Kami langsung menyantapnya diiringi suara grojogan Sungai Elo. Sangat eksotis. Si kecil juga nyaman bermain di sini membuat kami betah berjam-jam menghabiskan waktu di sini.

Selesai makan siang sebelum Kembali ke penginapan kami sempatkan sebentar mampir melihat Candi Mendut yang terletak di Kecamatan

Candi Pawon


Mungkid. Kami hanya bisa melihat-lihat dari luar karena kompleks candi yang ditutup. Candi ini merupakan salah satu candi yang bercorak Buddha Mahayana ini yang didirikan pada masa Dinasti Syailendra pada tahun 824 Masehi. Di sore hari setelah istirahat, kami juga sempatkan untuk melihat-lihat Candi Pawon yang terletak hanya sekitar seratus meter dari tempat kami menginap. Candi Pawon berada di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Area candi ini juga tidak begitu besar, sehingga bisa dilihat dari jarak yang lebih dekat.


Menikmati Pemandangan Pegunungan

Gn. Merbabu dan Gn. Merapi dilihat dari Ketep Pass

Keesokan harinya, dalam perjalanan pulang ke Semarang, kami mengambil jalur melewati Ketep Pass dari arah Kecamatan Mungkid. Jalur ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan jalur Secang. Dari Mungkid sampai Ketep Pass jalannya lumayan lurus dan juga beraspal walaupun setelahnya nanti banyak jalan yang berkelok-kelok. Kalau melewati Secang kita bisa melihat pemandangan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Sedangkan dari jalur Ketep Pass kita bisa menikmati suasana pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, dan Gunung Telomoyo.

Melalui jalur ini, banyak destinasi wisata Kabupaten Magelang yang juga bisa dikunjungi. Di antara yang kami kunjungi adalah Ketep Pass yang berada di wilayah Kecamatan Sawangan. Meskipun Ketep Pass sedang ditutup ketika kami lewat, tapi tentunya masih bisa mampir di warung-warung di pinggir jalan di sekitar Ketep Pass. Sambil sarapan pagi, kami masih bisa menikmati pemandangan alam ciptaan Tuhan semesta alam, melihat tinggi dan kokohnya Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Top Selfie Pinusan Kragilan

Selain Ketep Pass, kami sempatkan juga untuk mampir di Inggit Strawberry yang juga masih berada di daerah Kecamatan Sawangan, tepatnya di Desa Banyuroto. Di sini kita dapat menyaksikan kebun Strawberry dan memetiknya langsung. Selain Inggit Strawberry masih banyak kebun Strawberry yang dapat disinggahi di sekitar daerah ini. Berpindah ke Kecamatan berikutnya, yakni Kecamatan Pakis, kami sempatkan mampir di salah satu tempat spot foto yang sangat indah, yakni Top Selfie Pinusan yang berada di Desa Kragilan. Nuansa pohon pinus yang begitu rapi terlihat begitu indah. Selain itu di sekitar Kragilan juga terdapat spot foto dengan latar pinus yang begitu eksotis.

Puncak Gn. Andong dan Gn, Telomoyo dari Ngablak

Setelah menikmati suasana alam sejenak di Top Selfie Pinusan, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Semarang melewati Kecamatan Ngablak. Dari sepanjang jalan kita bisa memandangi Puncak Gunung Andong yang masih masuk wilayah Kabupaten Magelang dan Puncak Gunung Telomoyo. Selanjutnya masuk ke Kabupaten Semarang melewati Kopeng, Salatiga, dan Ungaran sebelum akhirnya tiba di Kota Semarang.

Perjalanan yang lumayan melelahkan, tiga hari dua malam. Namun kelelahan itu tidak terasa dengan setalah menikmati keindahan alam yang berada Kabupaten Magelang. Selain pemandangan alam yang menawan, tentunya kita bisa belajar dari

Di Depan Ketep Pass yang Sedang Ditutup


situs-situs sejarah. Tempat-tempat tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Kabupaten Magelang merupakan masyarakat yang religius sejak dulu kala. Masyarakatnya yang baik dan ramah bisa menerima setiap kebaikan yang hadir di hadapannya. Selain itu, kuliner dan budaya di Kabupaten Magelang begitu beraneka ragam yang mencerminkan warganya juga dapat menikmati berbagai jenis cita rasa yang bermacam-macam.

Semarang, 14 Juli 2021

Share:

Payung yang Ditelantarkan

Beberapa waktu lalu, tepatnya di akhir bulan Maret 2021 terlihat ada tiga buah payung yang berada di bawah tangga kuttab. Posisinya menurut saya bukan posisi yang baik, tergeletak begitu saja di antar sandal-sandal yang juga tidak tertata rapi. Saya menduga payung tersebut ditinggalkan oleh santri. Ketepatan saat itu ada kegiatan mabit santri, bermalam di kuttab, dan sebelumnya hujan mengguyur kuttab dan sekitarnya. Barangkali mereka menganggap bahwa di situlah tempat yang tepat untuk meletakkannya. Wajar juga karena memang mereka masih anak-anak yang masih berproses menuju tamyiz, mampu membedakan yang benar dan yang salah.

Hanya saja pikiran kita sebagai orang dewasa bisa jadi berbeda. Sehingga tidak heran jika tim kebersihan yang menjadi garda terdepan menjaga kebersihan dan kerapian kuttab menaikkan gambar tersebut ke whatsapp grup kuttab. Tujuannya saya yakin baik, agar guru-guru mengingatkan para santri meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, khususnya payung. Diksi yang digunakan penuh ungkapan makna dan rasa. “Di saat hujan engkau membutuhkan dan mencariku, tetapi di saat tidak hujan engkau menelantarkanku”. Karena itu saya beri catatan ini dengan judul “payung yang ditelantarkan”.

Payung di sini sebenarnya satu dari sekian kejadian yang serupa. Kalau kita menyebutkan sarana dan prasarana yang ada, barangkali ada hal lain yang terabaikan setelah digunakan, tidak dirapikan lagi, dan tidak dikembalikan pada tempatnya. Sebut saja semisal sandal, karpet, pembatas, kursi, meja, gelas, piring, dan lain-lain. Yang menjadi kegiatan rutin tim kerumahtanggaan dan kebersihan untuk merapikannya kembali. Hal ini juga tentunya menjadi ujian bagi semua pihak baik santri maupun guru dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab.

Hal ini menurut saya adalah hal yang kecil dan sepele. Hanya saja kalau kita mau mengambil ibrah, di dalamnya terdapat pembelajaran yang sangat penting untuk diri kita. Nalar logika manusia tentunya menilai payung adalah sebuah benda mati. Bagaimana jika payung tersebut adalah benda hidup yang memiliki akal dan hati, yang mampu berpikir dan merasa. Mungkin si payung akan bersedih dan menangis atau bahkan marah dan memberontak. Karena setalah diambil manfaatnya, langsung ditelantarkan begitu saja.

Dalam kehidupan sosial, hal yang seperti ini banyak juga terjadi. Dalam pertemanan, kita hanya mendekati teman kalau ada perlu. Di lingkungan keluarga, kita bersilaturahmi ke saudara hanya ketika kita ada mau. Kita hadir ke tetangga hanya di saat membutuhkan sesuatu. Di lingkungan pekerjaan, kita mendekati rekan hanya ketika butuh bantuan. Kita hanya mendekati pimpinan hanya ketika ingin naik posisi. Setelah naik jabatan, kita melupakan jasa orang-orang yang dulu pernah mengangkat kita. Ketika berguru, kita hanya hormat kepada guru yang sedang mengajar kita, dan melupakannya ketika belajar kepada orang lain.

Jika kita adalah orang yang terabaikan, maka kita ibarat payung yang terabaikan tadi. Oleh karena, saya menasihati diri sendiri khususnya, dan yang membaca catatan ini agar jangan kiranya kira sampai mengabaikan orang lain, setelah kita mengambil faedah darinya. Karena sangat tidak mengenakkan jika kita berada pada posisi tersebut. Bisa jadi hal tersebut menghilangkan keikhlasan, dan bahkan dapat menghadirkan perasaan sedih, kecewa, dan marah.

Bagaimana jika kita berada posisi seperti payung yang ditelantarkan? Maka obat yang paling mujarab untuk menghilangkan rasa kekesalan dan kekecewaan adalah dengan memaafkan. Dan pastinya kita hadirkan mereka dalam doa-doa panjang kita agar mereka tidak melakukannya lagi baik terhadap diri kita dan orang lain. Dengan seperti itu maka dada kita akan terasa lapang dan lega karena tidak ada lagi amarah bersemayam dalam hati yang membuat hidup kita tertekan. Bukankan Allah subhanahuwata’ala telah menjanjikan cinta bagi orang yang berbuat kebaikan? Di mana salah satu karakternya adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. (wallahu a’lam)  

Azis Nangin Abu Alawy
Bukit Amasya, 21 April 2021.

Share:

Guru Harus Memahami Murid?

Dalam kamus pendidikan atau bimbingan konseling barangkali seorang kita sering mendapatkan istilah atau tuntutan bahwa seorang guru harus memahami murid. Pernyataan itu memang ada benarnya karena guru juga perlu memahami situasi dan kondisi seorang murid. Sang guru ketika memberi pengajaran atau memberi nasihat, bisa bersikap sesuai dengan keadaan muridnya. Yang pada akhirnya apa yang disampaikan oleh seorang guru dapat diterima oleh murid-muridnya dengan baik.

Tidak hanya dalam proses pembelajaran, tetapi juga dalam memahami karakter seorang murid. Hal tersebut dalam lembaga-lembaga pendidikan formal, tentunya akan sering dirasakan oleh seorang guru kelas atau guru bimbingan konseling. Terutama Ketika mereka menghadapi anak-anak yang bermasalah. Maka sang guru akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mengetahui kenapa si murid melakukan ini dan melakukan itu.

Tapi pernyataan itu tidak boleh ditelan bulat-bulat, ditelan mentah-mentah, atau ditelan utuh tanpa penjelasan. Jika ditelan utuh maka betapa merepotkan seorang guru untuk memahami puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan murid dalam satu Lembaga Pendidikan. Dan pastinya para murid akan memiliki pelbagai problematik diri dan kehidupan masing-masing.

Dan akan lebih parah lagi ketika konsep tersebut diterapkan maka sebuah lembaga pendidikan akan menjadi budak bagi para muridnya-muridnya. Apalagi jika ada lembaga pendidikan tersebut memiliki orientasi bisnis. Layaknya dalam jual beli, maka lembaga pendidikan akan berperan sebagai penjual. Maka apa kata pembeli, “pembeli adalah raja”. Jadi murid akan menjadi raja bagi para guru.

Sebuah lembaga pendidikan perlu menaikkan levelnya ke jenjang yang lebih tinggi atau ke arah sebaliknya. Muridlah yang harus memahami guru. Konsep ini bisa diterapkan pada semua level usia baik anak-anak, remaja, maupun dewasa atau pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Bahkan pada pendidikan-pendidikan non formal seperti pengajian umum atau pengajian terbatas juga kursus-kursus, konsep ini dapat diterapkan. Pada tataran ini, sebuah lembaga pendidikan tidak akan lagi, seperti dalam pasar, menganggap murid adalah pelanggan.

Pernahkah Anda membayangkan ketika guru sedang mengajar dan terlihat letih, dengan bersegera sang murid berlomba untuk mengambil minum untuk sang guru? Ketika guru turun dari kendaraan, sang murid berlomba-lomba membawakan tas gurunya. Ketika guru sedang keletihan, para murid akan berlomba memijat bahu sang guru. Ketika wajah sang guru sedang terlihat lesu sang murid langsung memberikan hiburan agar sang guru menjadi ceria.

Terlihat seperti sebuah khayalan memang. Tetapi suasana itu bukan tidak mungkin terjadi, dan memang harus dibangun. Ketika konsep murid harus memahami guru maka benar-benar dapat diterapkan, suasana belajar mengajar atau akan jauh terasa lebih mudah dan menyenangkan. Sang guru tidak akan terbebani dengan permasalahan-permasalahan murid, begitu pun murid, akan lebih siap mendapatkan pengajaran dari para guru mereka.

Bagaimana konsep ini dapat dibangun? Tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Ia merupakan proses yang panjang dan membutuhkan energi besar. Penanaman konsep ini harus ditanamkan sejak dini bahkan sejak anak belum masuk belajar ke lembaga-lembaga pendidikan. Para orang tua terlebih dahulu yang menanamkannya di rumah. Kemudian di lembaga pendidikan dasar mulai diajarkan adab-adab menuntut ilmu dan adab-adab kepada guru. Pada jenjang pendidikan mengah dan tinggi, dikuatkan dengan penguatan ilmu-ilmu tentang adab penuntut ilmu.

Bahwa jika ingin mendapatkan keberkahan dan manfaat ilmu yang besar maka seorang murid haruslah hormat dan patuh kepada guru. Penghormatan tanpa batas dan kepatuhan tanpa bantahan sedikit pun. Guru di tempat belajar dan orang tua di rumah harus diposisikan pada posisi yang sama. Karena hakikat seorang guru adalah juga orang tua bagi para murid.

Dengan diterapkannya konsep murid yang memahami guru, tidak akan lagi ditemukan ada kasus di mana ada murid yang semena-mena terhadap guru. Kita tidak akan lagi menemukan ada murid yang mem-bully guru. Kita juga tidak akan lagi mendengarkan berita di mana ada murid yang baku hantam dengan gurunya. Atau tidak lagi menemukan ada kasus di mana ada guru yang dilaporkan ke pihak yang berwajib karena menghukum muridnya. Semua terjadi karena murid tidak memahami guru dan tidak memiliki adab yang baik terhadap guru mereka.

Semarang, 18 April 2021
Share:

Piramida Keilmuan Modern ?

Ketika mendengar kata “piramida”, yang terbayang di pikiran kita biasanya adalah sebuah bangunan kuno berbentuk limas yang terletak di Mesir. Bagian bawah lebih besar daripada bagian atas, semakin ke atas semakin sempit dan semakin lancip. Secara prinsip mirip dengan bentuk bangun kerucut, hanya saja kalau piramida bentuknya dasarnya berupa persegi atau persegi panjang sedangkan kerucut lingkaran. Demikian saya akan mencoba menggambarkan pola keilmuan dalam dunia modern.

Coba kita mengingat-ingat sejenak bagaimana dan apa saja yang telah kita pelajari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di bangku SD kita sangat mempelajari hal-hal yang sifatnya umum, entah itu sesuatu yang berguna untuk kita atau kurang bahkan tidak berguna bagi kita baik di saat itu maupun di masa yang akan datang.

Setelah menamatkan SD lanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang umum disebut juga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di tingkat SLTP juga masih hampir sama dengan apa yang dipelajari ketika duduk di bangku SD. Sifatnya masih sangat umum, hanya saja sudah mulai ada pendalaman materi. Kedua jenjang ini, SD dan SMP dalam sistem pendidikan kita merupakan jenjang pendidikan dasar yang harus dikecap oleh setiap orang. Biasa disebut dengan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.

Setelah menamatkan bangku SLTP lanjut lagi ke tingkat berikutnya yaitu, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau yang umum dikenal dengan Sekolah Menangan Atas (SMA). Selain SMA ada juga Pendidikan yang setara dengan SMA yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pendidikan kita pada level ini memiliki materi yang sudah mulai mengerucut. Sudah mulai ada penjurusan yaitu jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sedangkan pada sekolah kejuruan, dikhususkan pada keahlian bidang pekerjaan tertentu. 

Level berikutnya setelah SMU yaitu perguruan tinggi atau universitas. Secara umum pendidikan tinggi dibagi menjadi dua kategori yaitu IPA dan IPS atau ilmu-ilmu eksakta dan ilmu-ilmu sosial. Terkadang ada juga jurusan tertentu yang tidak terlalu jelas apakah termasuk ilmu eksakta atau sosial. Namun biasanya ada yang mendominasi sehingga dominasi itu akan menentukan apakah termasuk ke dalam jurusan eksakta atau ilmu sosial. 

Dalam Pendidikan tinggi terdapat tiga level juga, yaitu program sarjana (S-1), pasca sarjana (S-2), dan doktoral (S-3). Semua level itu piramidanya semakin tinggi semakin spesifik. Pada level S-1 walaupun sudah khusus pada bidang tertentu, pada level S-2 akan semakin khusus lagi, dan pada level S-3, semakin spesifik lagi. Sebenarnya setelah menyelesaikan program doktoral, masih ada jenjang berikutnya yaitu pos-doktoral. Hanya saja pada level ini sifatnya hanya berupa kursus-kursus dengan pendalaman bidang keilmuan atau keahlian tertentu. 

Seperti itulah sistem pendidikan kita hari ini, umum dikenal dengan pendidikan modern, keren bukan? Saya menggambarkannya seperti sebuah piramida atau kerucut yang dasarnya lebih besar dibandingkan dengan puncaknya. Di awal-awal pendidikan kita belajar sesuatu yang sangat umum, semakin tinggi semakin mengerucut, semakin spesifik, semakin lancip. 

Dalam bayangan konyol saya, sistem pendidikan kita yang seperti ini akan menciptakan manusia yang semakin tinggi pendidikannya tatapi semakin sedikit ilmunya walaupun semakin mendalam. Kekhawatiran saya yang lain, sistem pendidikan model ini akan menghasilkan para ilmuan parsial. Mereka memahami ilmu pengetahuan hanya bidang tertentu. 

Dan menjadi bertambah parah karena tidak dikaitkan dengan bidang keilmuan yang lain. Bagaimana mau mengaitkan ke bidang lain, sedangkan mereka tidak memiliki keahlian di bidang lain. Hal ini juga bisa mempengaruhi kepribadian seorang ilmuan. Mereka yang spesifik ilmunya bidang eksakta bisa jadi menjadi orang yang sangat statis dan kaku. Dan mereka yang memiliki dasar ilmu sosial, menjadi orang yang sangat dinamis. Bahkan, Ketika terlanjur, menjadikan manusia yang tidak memiliki keteraturan hidup dan tidak pendirian. 

Share: