Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Khutbah Jumat: Korespondensi Nabi untuk Para Raja dan Penguasa

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ؛

MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH,

 

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini dengan penuh keridhaan-Nya. Shalawat dan salam, semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad , beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya, yang senantiasa menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

Khatib juga senantiasa mengajak para jama’ah untuk selalu menata hati, menata niat, hadir di majelis mulia ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah dan mengharap ridha dan berkah dari-Nya. Jangan sampai niatan kita hadir di majelis ini hanya sekadar menggugurkan kewajiban, apalagi menjadi sebuah keterpaksaan. Mari jadikan momentum rangkaian ibadah Jumat setiap pekan sebagai motivasi untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah sekaligus memperbaiki diri dalam memahami ilmu-ilmu agama melalui materi-materi khutbah Jum’a yang disampaikan oleh para khatib.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Pada kesempatan kali ini, melanjutkan khutbah-khutbah sebelumnya, kita akan melihat kembali salah satu episode yang menarik untuk dikaji yang terjadi pada kehidupan Rasulullah , yaitu adanya Korespondensi dengan para raja dan penguasa. Yaitu, Rasulullah mengirimkan surat ajakan untuk memeluk Islam kepada beberapa raja dan penguasa baik di Jazirah Arab maupun di luar Jazirah Arab.

Surat menyurat ini merupakan salah satu hikmah dari adanya perjanjian Hudaibiyah. Di mana salah satu klausul yang ada dalam perjanjian tersebut adalah genjatan senjata - penghentian perang - di antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun. Berarti tidak ada peperangan  selama sepuluh tahun ke depan, sehingga semua orang merasa aman dan tidak boleh memerangi pihak lain. Nabi Muhammad memanfaatkan situasi aman ini untuk semakin memperluas dakwah Islam. Kesepakatan ini memberi peluang kepada Nabi dan para sahabat untuk memperluas dakwah Islam tanpa harus disibukkan dengan urusan perang.

Korespondensi ini dilakukan pada akhir tahun ke-6 Hijriyah yaitu setelah kembali dari Hudaibiyah. Rasulullah menulis surat yang ditujukan kepada beberapa raja dan penguasa yang berisi seruan agar mereka memeluk Islam. Dalam pembuatan surat tersebut Rasulullah diberitahu bahwa mereka tidak akan mau menerima surat tersebut kecuali jika surat itu disertai cap stemple. Karenanya  Rasulullah membuat stempel dari perak dengan cetakan yang berbunyi:

  محمد رسول الله  

(Muhammad Rasul Allah). Cetakan tulisan ini tersusun dalam tiga baris. Kemudian Rasulullah menunjuk beberapa orang sahabat sebagai kurir, yang cukup memiliki pengetahuan dan pengalaman. Allamah al-Manshurfuri memastikan bahwa mereka mulai diutus pada awal Muharram tahun 7 H, beberapa hari sebelum pergi ke Khaibar.

Di antara sahabat yang ditunjuk sebagai kurir untuk mengirim surat ajakan kepada Allah adalah sebagai berikut:

1.    Amr bin Umayyah kepada Najasyi, Raja Habasyah, di Aksum;

2.    Hathib bin Abu Balta’ah kepada Muqauqis, Raja Mesir, di Alexandria;

3.    Abdullah bin Hudzaifah as-Sahmi kepada Kisra, Raja Persia, di Ctesiphon;

4.    Dihyah al-Kalbi kepada Hiraklius. Kaisar Romawi, di Quds;

5.    Al-Ala’ bin Hadhrami kepada Al-Mundzir bin Sawa, Penguasa Bahrain;

6.    Salith al-Amiri kepada Haudzah bin Ali, Penguasa Yamamah;

7.    Syuja’ bin Wahb kepada Al-Harits bin Abu Syamr al-Ghassani, Penguasa Damaskus; dan

8.    Amru bin Ash kepada anak Al-Julunda, Jaifar dan Abd, Raja Oman, di Muskat.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN YANG DIRAHMATI ALLAH

 

Berikut di antara surat-surat penting yang dikirim Rasulullah :

1.    Surat yang dikirim kepada Najasyi, Imam al-Baihaqi meriwayatkan:

 

بسم الله الرحمن الرحيم هذا كتاب من محمد رسول الله إلى النجاشي الأصحم عظيم الحبشة، سلام على من اتبع الهدى، وآمن بالله ورسوله، وشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، لم يتخذ صاحبة ولا ولدًا، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأدعوك بدعاية الله، فإني أنا رسوله، فأسلم تسلم: {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ} ، فإن أبيت فعليك إثم النصارى من قومك.

 

“Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat dari Muhammad, Rasul Allah kepada Najasyi al-Ashhami, penguasa Habasyah. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu baginya, tidak mempunyai pendamping dan anak, dan yang bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Maka masuk Islamlah, niscaya Anda akan selamat. “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” Namun, jika Anda menolak, Anda akan menanggung dosa orang-orang Nasrani dari kaum Anda”

 

2.    Surat yang dikirim kepada Muqauqis

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد عبد الله و رسوله إلى المقوقس عظيم القبط: سلام على من اتبع الهدى، وأما بعد فإني أدعوك بدعاية الإسلام، أسلم تسلم يؤتك الله أجرك مرتين، فإن توليت فعليك إثم القبط و{‏يَآ أَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا إِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْئًا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ{

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada al-Muqauqis pembesar Qibti. Semoga keselamatan selalu terlimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du, sesungguhnya aku menyerumu pada Islam. Terimalah ajaran Islam, niscaya engkau selamat dan Allah memberimu pahala dua kali. Jika engkau menolak, engkau menanggung dosa seluruh penduduk Qibthi. "Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu, yakni bahwa tidak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu tidak akan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah. Tetapi kalau mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Islam”.

 

3.    Surat yang dikirim kepada Hiraklius, diriwayatkan oleh al-Bukhari (No. 7) dan Muslim (No. 1.773), yang berbunyi:

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ. سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى. أَمَّا بَعْدُ ؛ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلامِ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ. و [يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ]

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk yang benar. Dengan ini saya menyerumu kepada Islam. Terimalah ajaran Islam, Anda akan selamat. Allah akan memberi pahala dua kali kepada Anda. Kalau Anda menolak, maka dosa orang-orang Arisiyyiin menjadi tanggung jawab Anda. "Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu, yakni bahwa tidak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu tidak akan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah. Tetapi kalau mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Islam."

 

 

 

4.    Surat yang diberikan kepada Kisra, diriwayakan oleh Imam ath-Thabrani:

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ الله إِلَى كِسْرَى عَظِيمِ فَارِسَ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَع الْهُدَى، وَآمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَشَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَدْعُوكَ بِدُعَاءِ اللَّهِ، فَإِنِّي أَنَا رَسُولُ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ كافَّة لِأُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ، فَإِنْ تُسْلِمْ تَسْلَمْ، وَإِنْ أَبَيْتَ فَإِنَّ إِثْمَ الْمَجُوسِ عَلَيْكَ

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Kisra penguasa Persia. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan utusanNya, dan bersaksi tiada ilah selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagiNya, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Aku ajak kamu dengan seruan Allah, karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh manusia, untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir. Masuk Islamlah, niscaya kamu selamat. Jika kamu enggan, kamu akan memikul dosa orang Majusi."

 

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN YANG DIRAHMATI ALLAH

Jika diperhatikan gambaran surat-surat Rasulullah yang dikirim untuk para raja dan penguasa secara umum adalah sama, dan ada beberapa hal yang bisa dipetik dari surat-surat tersebut. Misalnya, semua surat Rasulullah dimulai dengan kata basmalah. Basmalah adalah salah satu ayat dalam Al-Qur’an, dengan demikian memulai surat dengan basmalah mengisyaratkan banyak hal penting. Di samping sebagai anjuran untuk memulai tulisan dengan basmalah guna meneladani Nabi. Ini juga menunjukkan kebolehan menulis ayat Al-Qur’an dalam surat meskipun ditujukan untuk orang-orang kafir dan orang kafir boleh membaca satu ayat Al-Quran atau lebih, sebab isi surat-surat tersebut berisi basmalah dan lainnya. 

Dalam surat-surat tersebut, Rasulullah juga tidak memulai salam Islam, yaitu “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Rasulullah hanya menuliskan “Kesejahteraan semoga terlimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk,” maksudnya yang beriman kepada Islam. Dari petunjuk tersebut, dapat dipahami bahwa tidak boleh memulai salam Islam untuk orang-orang kafir.

Langkah korespondensi yang dilakukan oleh Nabi merupakan titik peralihan penting dalam sejarah Arab dan Islam, di mana Islam tidak hanya menyatukan bangsa Arab di Jazirah Arab, namun bangsa Arab itu setelah meyakini Islam dan menjelmakan risalah langit, mereka diberi beban untuk menyampaikan dakwah Islam untuk manusia secara keseluruhan.

Para raja dan penguasa memiliki sikap yang berbeda-beda saat menerima surat dari Nabi tersebut. Heraklius, Najasyi, dan Muqauqis menerimanya dengan sopan dan memberi balasan dengan ucapan lemah lembut. Najasyi dan Muqouqis bahkan memuliakan Rasulullah. Muqouqis sendiri mengirimkan sejumlah hadiah untuk Nabi, di antara dua budak wanita yang salah satunya adalah Mariah, ibu Ibrahim putra Rasulullah. Sementara Kisra raja Persia saat membaca surat tersebut, ia langsung merobeknya dan berkata, “Patutkah ia mengirim surat ini kepadaku padahal ia budakku?” Hal tersebut terdengar oleh Rasulullah lalu beliau berdoa, “Semoga Allah merobek-robek kekuasannya.”

Di samping cara pengiriman surat ini, juga memberitahukan seperti apa sikap para raja dan penguasa terhadap dakwah Islam. Dengan demikian, langkah ini memberikan banyak sekali hasil. Sehingga Islam bisa menempuh langkah politis dan militer yang jelas dan berbeda terhadap beragam reaksi yang ditujukan atas seruan yang tertera dalam surat-surat tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ  مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

 

vvv

 

 

 


 

Khutbah Ke-Dua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

vvv

Share:

Kopi Gelas Besar

"Mas Kopi Capucino satu ya, pakai gelas besar."

Pagi itu, 31 Desember 2021, dalam sebuah kunjungan kerja ke Kota Slawi Kabupaten Tegal, aku tertarik untuk mengawali hari dengan segelas kopi. Sekalian sarapan pastinya. Aku sarapan bersama seorang teman yang memang sehari-hari bertugas di kota Teh Poci Tersebut. Tak lama berselang, kopinya datang diantar oleh seorang pelayan warung. Ketika diletakkan di atas meja di depanku, ada sedikit kondisi yang membuatku sedikit tercengang. Kopi yang diantar dengan gelas besar pada umumnya di warung-warung ternyata hanya diisi air setengah gelas.

Ha... Aku tersenyum tipis sambil melirik dan berbisik kepada teman yang ikut sarapan bersama, "Gelasnya besar, tapi isinya separuh." Benar-benar bikin kami tertawa geli bersama. "Mas, tolong airnya dipenuhi ya," selanjutnya aku minta tolong kepada karyawan warung tersebut agar airnya ditambah. Tak lama berselang, akhirnya Kopi Capucino gelas besarnya datang diisi dengan penuh seperti yang diharapkan.

Begitulah komunikasi.

Aku tentu tidak menyalahkan sang pembuat kopi tersebut. Karena bisa jadi memang persepsi saya dan beliau yang berbeda. Pada umumnya orang kalau minum identik dengan cangkir. Karena itu ada istilah yang biasa kita dengar secangkir kopi, bukan segelas kopi. Sedangkan saya berpikiran lain, pakai gelas besar agar airnya lebih banyak juga tidak terlalu pahit sesuai dengan seleraku.

Namun ada pelajaran yang berharga yang dapat diambil dari kejadian tersebut. Bahwa dalam berkomunikasi terkadang kita perlu mendetailkan sebuah perintah atau permintaan agar lawan berbicara paham apa yang kita maksudkan. Kesalahan yang sering terjadi pada diri kita adalah ketika kita memandang orang lain yang paham dengan apa yang kita pikirkan atau apa yang ada di dalam hati kita. Hal itulah yang terkadang membuat terjadi komunikasi yang tidak menyambung antara satu dengan yang lain.

Padahal orang yang berinteraksi dengan kita bisa jadi masih banyak yang perlu dijelaskan apa yang kita maksudkan. Seperti halnya kopi Capucino gelas besar tadi. Maksud saya adalah kopi yang dibuat di gelas besar tentu dengan air yang penuh. Tetapi yang ditangkap oleh orang lain, kopi di gelas besar dengan air jumlah air yang biasanya untuk minum kopi.

Sudah ngopi belum, Lur?
Share:

Khutbah Jum'at: Izin untuk Berperang dalam Sirah Nabawiyah

Disampaikan pada khutbah Jum'at 24 September 2021 di Masjid Al-Fatih Semarang. 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ؛

MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH,

 Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya…, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini… dengan penuh keridhaan-Nya... Shalawat dan salam, semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad , beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya, yang senantiasa menegakkan agama Allah di muka bumi ini, hingga akhir zaman.

  Pada Jumat kali ini marilah kita menata hati, menata niat, hadir di majelis mulia ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT dan mengharap ridha dan berkah dari-Nya. Jangan sampai niatan kita hadir di majelis ini untuk sekadar menggugurkan kewajiban kita, apalagi menjadi sebuah keterpaksaan. Mari jadikan momentum rangkaian ibadah Jumat setiap pekannya sebagai motivasi untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala sekaligus memperbaiki diri dalam memahami ilmu-ilmu agama melalui materi-materi khutbah Jumat yang disampaikan oleh para khatib. Sudah menjadi kewajiban kita untuk terus berikhtiar memperbaiki kualitas diri kita ke arah yang lebih baik dengan belajar dan menuntut ilmu mulai dari ayunan sampai liang lahat.

 Allah pun akan memberi status lebih, bagi orang-orang yang memiliki ilmu sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Mujadilah: 11.

   يَرْفَعِ ٱللهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

 "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."



MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

 

Mempelajari Sirah Nabawiyah akan membantu kita sebagai muslim untuk mengetahui Rasulullah dari dekat, sehingga meningkatkan cinta dan keinginan kita untuk mengikutinya. Terutama ketika kita membaca dan mepelajari berita dan cerita tentang awal dakwah dan kesulitannya, kengerian, pendustaan, dan penolakan yang menimpa Nabi dari kaum kafir Quraisy, penduduk Thaif, dan lain-lain.

Dan pada kesempata kali ini, melanjutkan khutbah-khutbah sebelumnya, kita akan coba melihat salah satu episode yang menarik untuk dipelajari yang terjadi pada kehidupan Rasulullah , yaitu adanya izin untuk berperang. Izin perang  ini terkadang dijadikan oleh para musuh-musuh Islam untuk menyerang balik Islam dengan menyebutkan bahwa Islam adalah agama kekrasan dalam makna yang negatif. Karenanya menarik juga untuk kita pahamai bagaimana izin perang ini akhirnya diberikan oleh Allah swt kepada Rasulullah dan para sahabat.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

 

Disebutkan di dalam kita ar-Rahiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfuri bahwa di antara fase-fase kehidupan Nabi adalah ada masa atau kondisi yang rawan karena adanya ancaman terhadap eksistensi kaum muslimin di Madinah, terutama yang bersumber dari pihak kafir Quraisy yang tak pernah berhenti memperdayai dan mengganggu mereka. Allah kemudian menurunkan Ayat yang mengizinkan kaum muslimin untuk berperang, yang berarti tidak bersifat wajib. Yaitu surat al-Haj ayat 39 yang berbunyi:

 

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ

 

“Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.”

 

Ayat ini diturunkan di antara beberapa ayat yang memberi petunjuk kepada mereka, bahwa izin berperang tersebut hanya dimaksudkan untuk mengenyahkan kebathilan dan menegakkan syiar-syiar Islam. Dilanjutkan dalam surat al-Hajj ayat 41, Allah SWT berfirman:

 

اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

 

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

 

Yang tidak perlu diragukan lagi bahwa izin untuk berperang ini turun di Madinah setelah Hijrah, bukan di Mekkah sebelum hijrah. Walaupun tidak ditentukan secara pasti kapan waktu turun ayat tersebut. Sedangkan saat di mana Rasulullah   masih berada di Mekkan, kaum muslimin masih belum diizinkan untuk berperang. Dalam kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ali Muhammad ash-Shallabi dikutip dari Tafsir Al-Alusi bahwa para sahabat pernah meminta kepada Nabi untuk memberikan izin dalam berperang. Akan tetapi Rasulullah  bersabda, “Bersabarlah, karena sesungguhnya aku belum diperintahkan untuk berperang.”

 

Izin untuk berperang ini sudah turun. Namun, sikap yang diambil kaum Muslimin dalam menghadapi kondisi yang dipicu oleh kaum Kafir Quraisy dan kekuatannya ini, ialah dengan cara menunjukkan kekuasaan terhadap jalur perdagangan Quraisy yang mengambil rute dari Mekkah ke Syam. Langkah yang dilakukan adalah pertama, mengadakan perjanjian kerja sama atau tidak saling menyerang dengan beberapa kabilah yang berdekatan dengan jalur perdaganagn ini. Kedua, mengirim beberapa kelompok utusan secara terus menerus dan bergiliran ke jalur perdagangan tersebut.

HADIRIN SIDANG JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

 

Untuk mengimplementasikan dua langkah tersebut, kaum muslimin memulai dengan kegiatan militer. Mereka mulai mengirimkan mata-mata. Sasarannya adalah untuk mengenal lebih lanjut tentang jalan-jalan yang ada di sekitar Madinah, begitu pula jalur ke Mekkah. Kaum Muslimin mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur tersebut. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada orang-orang musyrikin Yatsrib, Yahudi dan suku-suku Badui di sekitarnya bahwa kaum Muslimin adalah orang yang kuat; bahwa mereka bisa melepaskan diri dari kelemahan pada masa-masa sebelumnya; serta memperingatkan pihak Quraisy sebagai akibat dari kebrutalan mereka.

 

Dengan begitu mereka tidak lagi berbuat semena-mena, yang selama itu masih terus membayangi pikiran kaum Muslimin. Berharap dengan cara itu, pihak Quraisy akan merasa khawatir terhadap keamanan jalur perdagangan mereka, lalu mendorong mereka untuk mengadakan perdamaian, membatalkan niat untuk menyerbu kaum Muslimin, tidak menghalangi manusia untuk mengikuti jalan Allah, tidak lagi menyiksa Mukminin yang lemah di Mekkah, sehingga kaum Muslimin bebas menyampaikan risalah Allah di seluruh Jazirah Arab.

 

Dalam hal izin untuk berperang ini, dapat kita ambil catatan penting bahwa sebelum diizinkan untuk berperang kaum muslimin belum memiliki kekuatan penuh untuk berpearang. Jika dilakukan maka dikhawatirkan yang didapatkan bukanlah kemenangan, melainkan kekalahan yang dapat berujung pada kebinasaan. Sedangkan tahapan pemberian izin untuk berperang bagi kaum muslimin pun tidak dengan tujuan untuk memerangi namun perang defensif,  peperangan yang memang bersifat dalam membela dan mempertahankan diri. Muhammad Sa’id Muhammad Ramadhan Al-Buthy juga menyebutkan bahwa Setiap peperangan ini merupakan tindak balas atau counter attack terhadap persekongkolan atau permusuhan yang dilancarkan oleh kaum musyrikin. Karena itu, peperangan ini hanyalah mencerminkan salah satu tahapan di antara tahapan-tahapan dakwah Islam pada masa Nabi , bukan mencerminkan hukum final yang menjadi landasan jihad. Sebagaimana tahapan dakwah secara rahasia kemudan dakwah secara terang-terangan.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ  مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

 

vvv 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

vvv

Share: