Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kurikulum Pendidikan Nabawiyah, Kurikulum Pendidikan untuk Negri yang Berketuhanan

Kurikulum Pendidikan untuk Negri yang Berketuhanan
Syah Azis Nangin Abu Zaid


Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam hidup bersama para sahabat selama sekitar 23 tahun, sejak beliau menerima wahyu hingga wafat. Dalam kurun waktu tersebut, Rasulullah meninggalkan para sahabat dengan memiliki karakter keimanan yang kuat. Selain itu, para sahabat juga mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Karena itu, kita perlu bertanya apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Rasulullah dalam mendidik mereka? Sehingga hasilnya bisa demikian hebat.


Dalam dunia pendidikan, ada tiga unsur pokok yang harus ada. Yang kalau satu di antar tidak ada, maka tidak akan mungkin terjadi proses pendidikan. Apa saja itu? Yang pertama adalah Guru. Yang kedua, murid. Dan yang ketiga adalah kurikulum. Maka dalam pendidikan para sahabat, gurunya adalah Rasulullah. Muridnya, para sahabat. Dan kurikulumnya adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kurikulum yang diajarkan oleh Rasulullah ini dapat kita sebut dengan Kurikulum Pendidikan Nabawiyah.

Untuk mengetahui Kurikulum Pendidikan Nabawiyah, kita dapat berpedoman pada kesaksian salah satu sahabat Rasulullah yaitu Jundub bin Abdullah. Sebagaimana berikut ini:

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، ‌فَتَعَلَّمْنَا ‌الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا

“Jundub bin Abdillah berkata: Kami bersama Nabi saat kami masih remaja; kami belajar Iman sebelum belajar Al-Quran. Kemudian ketika kami belajar Al-Quran, maka bertambahlah Iman kami.” (Sunan Ibnu Majah no. 60, disahihkan oleh Al-Albani).

Dalam Riwayat Ath-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman terdapat kalimat tambahan Jundub:

فَإِنَّكُمُ الْيَوْمَ تَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ

“Adapun kalian hari ini belajar Al-Quran sebelum iman.”

Hadits tersebut menunjukkan bahwa beberapa hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Yang pertama, bahwa belajar itu harus dilakukan sejak dini, tanpa menunggu usia renta. Jundub bin Abdullah sedang dalam masa remaja ketika mendapatkan pelajaran langsung dari Rasulullah.

Yang kedua adalah, adalah Kurikulum Pendidikan Nabawiyah. Kurikulum tersebut ada dua jenis yaitu Iman dan Al-Quran. Dua kurikulum tersebutlah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat mulia. Yang dengan kedua kurikulum tersebut telah lahir generasi terbaik sepanjang masa. Mereka mempelajari Iman sebagai fondasi Aqidah yang benar. Kemudian mereka belajar Al-Quran untuk menguatkan fondasi keimanan tersebut dan memagarinya agar tetap terjaga.

Dan yang ketiga adalah mengenai “Urutan”, yaitu Iman sebelum Al-Quran. Jundub bin Abdullah menyampaikan kesaksiannya tersebut kepada para tabi’in. (Tabi’in adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad). Sedangkan kualitas para tabi’in ketika itu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena salah urutan dalam pendidikan mereka. Mereka belajar Al-Quran terlebih dahulu baru belajar Iman. Meskipun jika dibandingkan dengan zaman sekarang, pasti kita sangat tertinggal jauh.

Para sahabat mempelajari Iman sehingga memiliki adab yang baik. Karena buah dari Iman yang kuat adalah akhlak yang mulia. Yang dengan adab atau akhlak tersebut mereka memiliki karakter keimanan yang kokoh. Sedangkan Al-Quran, kita tahu bahwa isinya semua adalah ilmu pengetahuan. Yang dengan ilmu tersebut, kita bisa menjadikannya sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Siapa yang mendalam pemahaman Al-Qurannya maka akan luas pengetahuannya. Karena itu dari istilah “Iman sebelum Al-Quran” hadir juga turunannya yaitu “Adab Sebelum Ilmu”.

Gabungan dua kurikulum ini dengan urutan yang tepat akan menghasilkan generasi sekelas sahabat. Mereka memiliki karakter kepribadian yang kokoh dengan ilmu pengetahuan yang luas. Salah urutan saja menyebabkan penurunan kualitas, padahal masih mempelajari Iman dan Al-Quran. Maka bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika kurikulum pendidikan kita tanpa Iman dan tanpa Al-Quran.

Lantas, bagaimana dengan agama lain? Kaidahnya sama saja. Belajar keimanan sesuai dengan ajaran agama masing-masing terlebih dahulu. Dan dilanjutkan dengan mendalami kitab suci masing-masing. Dan inilah Kurikulum Pendidikan Berkarakter yang sesungguhnya yang tepat untuk bangsa ini. Bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan Sila Pertama Pancasila. Jika hal ini dapat dilakukan maka, semoga negeri ini akan menjadi negeri yang Allah hadirkan keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Wallahu a’lam)

Senin, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441 H
Share:

Beberapa Situs di Indonesia yang Menerima Penulis Lepas

Beberapa Situs di Indonesia yang Menerima Penulis Lepas

1. Mojok

Situs yang mengusung konsep populer ini merupakan wadah bagi penulis dengan kemampuan berlebih. Sebagai media alternatif, kamu dilarang keras untuk terlalu serius. Lebih banyak mangandung satir dan sindiran secara halus untuk banyak perkara.

Mojok menerima banyak tulisan, mulai esai, curhatan, bahkan cerita-cerita mop. Mereka sangat menghargai itu. Meski tulisan di Mojok lebih ringan dan gurih, namun mereka sangat menghargai setiap karya yang berhasil diterbitkan. Bayarannya mulai Rp350.000 hingga lebih untuk satu tulisan.

Jadi kalian punya energi berlebih tidak ada salahnya mengirim ke Mojok.co.

2. Voxpop

Sebenarnya hampir sama dengan Mojok, Voxpop Indonesia juga mengusung tema yang santai dan menyegarkan. Namun, buat kamu yang tidak terlalu satir, tapi tulisan mu menyimpan makna, maka Voxpop.id bisa jadi pilihan menarik.

Voxpop menerima tulisan beragam, mulai dari opini dengan sudut pandang beragam dan segar. Sebagaimana namanya 'Suara Raykat' (vox populi), situs ini didirikan dari berbagai latar belakang berbeda. Mulai dari jurnalis, komikus, hingga pengusaha.

Itulah mengapa, setiap tulisan yang berhasil tayang di situs ini akan diganjar honor yang manusiawi. Satu tulisan dibayar Rp250.000 dengan manimum kata tidak terbatas.

3. Geotimes

Jika kamu tipe orang yang menulisnya serius dan selalu memenuhi segala unsur teoritistik. Maka tidak ada salahnya menulis sesuatu di Geotimes.co.id. Situs yang menampung tulisan opini dan kolom ini lebih mengedepankan isu aktual dan timeless.

Tulisan yang bisa tayang di situs itu harus memenuhi syarat dari 750 hingga 1000 kata. Namun, tak perlu khawatir, jika tulisan mu berhasil terbit maka bayarannya juga tidak mengecewakan. Mereka akan membayar sesuai keahlian, namun dimulai dari harga Rp350.000 per tulisan. Bayarannya bisa lebih dari sejuta jika itu memang dari ahlinya.

4. Remotivi

Yang satu ini sasarannya lebih spesifik lagi. Remotivi.or.id merupakan organisasi yang memantau semua siara media. Baik televisi, radio, cetak hingga online. Jika teman-teman punya kemampuan menganalisis satu pemberitaan dari sudut pandang media, silahkan mengirimkan tulisan.

Saya belum pernah mengirim tulisan ke Remotivi, tapi beberapa teman yang berhasil menerbitkan tulisan di situs itu mengatakan, bayarannya jauh dari cukup dari sekedar cuap-cuap di sosial media. Mereka bisa membayar dari Rp350.000 hingga Rp1.500.000 per tulisan.

Namun itu dia, karena mereka merupakan situs yang serius, jadi tulisan yang tayang harus memenuhi syarat yang mereka tetapkan.

5. Basabasi

Situs Basabasi.co menampung beragam tulisan dibanding empat lainnya yang saya sebut di atas. Basabasi menerima cerpen, puisi, esai, resensi buku dan hibernasi atau artikel ringan. Setiap tulisan dihargai berbeda. Tulisan ringan Rp100.000, cerpen dan esai Rp300.000, puisi Rp250.000 dan resensi buku Rp200.000.

Setiap tulisan yang masuk ke mereka akan dikurasi. Jika lolos, maka tulisannya akan ditayangkan. Mereka juga tidak membatasi berapa pun tulisan yang dikirim. Jika banyak dan semuanya lolos, maka akan mereka tayangkan. Yang menariknya lagi, setiap penulis yang pertama kali tulisannya tayang akan diberi kaos dari Basabasi.
Share:

Kardus Lambaran


Kardus Lambaran
Oleh: Nangin Azis Syah
 
Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang, sesaat sebelum sampai rumah, aku bersama istri tercinta dan buah hati tersayang yang usianya baru 27 bulan menyempatkan untuk mampir di sebuah masjid yang ada di pinggir jalan untuk menunaikan salat. Karena aku sudah salat sebelumnya di kereta api, jadi hanya istri yang salat di masjid tersebut. Ketika istri akan salat, maka aku yang bertugas menunggui si kecil yang dalam keadaan terjaga, padahal jam di tangan sudah menunjukkan sekitar pukul 23.30 WIB.

Ketika malam hari, lampu di dalam masjid tidak terlalu terang. Pencahayaan hanya seadanya, ditambah cahaya dari lampu jalan raya yang menembus masuk ke dalam masjid. Aku mencoba untuk mengamati suasana sekitar. Masjid tersebut terdiri dari dua lantai, lantai atas digunakan sebagai ruang utama salat. Sedangkan lantai bawah, setahu saya, biasa digunakan untuk anak-anak mengaji di sore hari. Jika tidak ada pengajian, tempat itu biasa digunakan untuk salat dan bisa juga digunakan untuk istirahat. Hanya saja di lantai bawah, tidak ada karpet yang digelar. Kalau mau rebahan atau duduk berarti langsung di atas lantai.

Hanya saja kalau malam hari, aku memang tidak pernah mampir di masjid tersebut, dan ini adalah kali pertama aku mampir di malam hari untuk salat di masjid tersebut. Di malam yang sudah larut tersebut, terlihat ada hampir sepuluh orang yang tidur di lantai satu masjid. Jika dilihat dari penampilannya, di antaranya terlihat seperti pedagang keliling, karena di sampingnya ada barang-barang dagangan yang mereka bawa.

Ada juga yang terlihat seperti pengojek on-line dengan jaket khas mereka yang dijadikan sebagai bantal. Dan beberapa yang lain saya tidak bisa memperkirakan kenapa mereka tidak di dalam masjid tersebut. Dalam batin saya berkata, betapa mereka bekerja mati-matian untuk mengupayakan sesuap nasi sehingga mereka tidak sempat pulang ke rumahnya masing-masing.

Di sisi yang lain, saya melihat juga ada seorang wanita muda yang usianya mungkin sekitar 25 sampai 30 tahun yang di bagian lengan dan lehernya terdapat bertato. Meskipun bertato, tapi tidak terlihat kucel. Beliau terlihat sedang bercakap-cakap ringan dengan temannya. Tanpa ada perasaan yang mencurigakan, aku melanjutkan untuk bermain kecil dengan si buah hati sementara sang istri sedang berwudu sebelum mendirikan salat.

Tanpa saya sadari, wanita tersebut mendekat ke arah saya. Beliau mencoba menggoda si kecil yang terlihat menggemaskan. Namun karena si kecil masih bayi, dia selalu menjaga diri dari orang-orang yang tidak di kenal dengan langsung memeluk ayah atau bundanya. Karena tidak berhasil menggoda si kecil, wanita tersebut kembali ke tempatnya.

Beberapa saat kemudian, sementara istri sedang salat, wanita tersebut datang lagi mendekat ke arah saya dan si kecil. Kali ini dia membawa beberapa lembar kardus. “Ini kardus lambaran buat adik, kasihan adiknya kedinginan”, katanya sambil menjulurkan beberapa lembar kardus. Setelah menyerahkan kardus lambaran tersebut, ia beranjak ke sisi lain dari masjid tersebut. Dia berpindah ke teras sebuah rumah yang ada di sekitar masjid. Di teras tersebut juga terlihat ada temannya yang sedang rebahan.

Kardus tersebut aku terima sambil membalas ucapannya dengan ucapan terima kasih. Lagi-lagi karena si Kecil selalu menjaga diri dari hal-hal yang baru, jadi dia tidak mau menggunakan kardus tersebut sebagai alas tidur. Kardus lambaran tersebut akhirnya hanya saya sandarkan ke salah satu tiang masjid Si Kecil merasa lebih nyaman duduk atau tiduran dipangku oleh sang ayah sambil menikmati suasana sekitar.

“Assalamu’alaikum warahmatullah, assalamu’alaikum warahamatullah”, istri mengucap salam sambil menoleh, ke kanan dan ke kiri tandanya istri sudah selesai salat dan dilanjutkan dengan beberapa doa singkat. Setelah selesai berdoa, istri langsung mendekat ke arah saya. Dan biasa, salaman setelah salat, berharap segala salah dan dosa yang pernah dilakukan baik disengaja maupun tidak disengaja saling memaafkan dan berharap ampunan dari Allah. Tak lupa istri minta disalami sambil dicium tangannya oleh si kecil dan menciumnya kembali berharap agar kasih sayang selalu tercurah.

Tidak lama berselang, wanita tadi kembali mendekat. Kali ini dia membawa sesuatu yang berbeda. Dia membawakan 1 bungkus jipang untuk diberikan kepada si kecil. Dia langsung menyodorkan kepada si kecil. Lagi-lagi, pada sesuatu yang asing, si kecil tidak serta merta mau langsung menerima, walaupun saya paham kalau si kecil sebenarnya suka dengan jenis makanan tersebut. Akhirnya saya terima langsung dengan mengucapkan terima kasih kepada wanita tersebut. Tidak lupa saya juga mengajari si kecil untuk mengucapkan terima kasih. Setelah memberikan jipang tersebut, wanita itu langsung kembali ke tempatnya.

Karena istri sudah selesai salat, kami melanjutkan perjalanan kembali agar bisa sampai rumah sebelum tengah malam. Kawatir kalau sudah melewati pukul 00.00 WIB, gerbang kompleks perumahan biasanya sudah digembok. Di tengah-tengah perjalanan, saya berdiskusi dengan istri tentang apa yang kami alami dan kami rasakan barusan di masjid. Tentang orang-orang yang tidur di masjid, tentang wanita muda yang bertato, tentang kardus lambaran, tentang sikap si kecil yang semuanya itu memiliki hikmah pelajaran yang berharga jika kita mau memikirkannya.

Hanya saja ada satu hal yang membuat kami sedikit berpikir tentang diri kami sendiri. Apakah tadi di masjid, kami juga terlihat seperti orang yang mau bermalam menunggu pagi di masjid tersebut. Ditambah lagi karena pakaian yang kami kenakan terlihat sedikit kucel setelah perjalanan jauh. Sehingga pada akhirnya kami disodori beberapa lembar kardus lambaran untuk dijadikan alas tidur.

Kami tiba di depan gerbang kompleks perumahan sekitar pukul 00.00 dan gerbang kompleks perumahan belum digembok. Warga yang jaga juga masih tetap di tempat yang kami biasa nongkrong di situ kalau jaga malam. Dan sebelumnya, ketika dalam perjalanan pulang, saya memang sudah menghubungi Pak RT, minta tolong agar gembok gerbang tidak dikunci terlebih dahulu. Dan akhirnya tiba di rumah dan bisa istirahat sejenak untuk menunggu pagi melanjutkan lembaran-lembaran kehidupan.



Semarang, 09 November 2019
Edisi belajar menulis esai. Apakah tulisan seperti ini bisa dikatakan sebagai esai?
Share:

‘HARAP-CEMAS’ PENDIDIKAN KITA (Republika, Jumat, 25 Oktober 2019)


Oleh: Dr. Adian Husaini
(Ketua Program Doktor Pendidikan Islam –
Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Begitu Nadiem Makarim (35 tahun) diumumkan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dunia warganet heboh. Ini kejutan luar biasa! Meskipun banyak kritikan, tapi ada juga beberapa warganet berharap, Menteri Nadiem melakukan ‘sesuatu’ yang tidak biasa-biasa saja untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia.

Toh, Kabinet sudah diumumkan. Bahasa agamanya, itu sudah takdir! Mungkin, Nadiem pun tak pernah bermimpi menduduki pos Menteri Pendidikan, yang biasanya termasuk ‘kursi elite’ dalam jajaran kabinet di banyak negara. 

Bagi orang Islam, suatu peristiwa pasti ada hikmahnya. Mungkin, siapa tahu, lewat ‘tangan’ Nadiem Makarim, dunia pendidikan Indonesia akan dipaksa untuk berpikir serius, lalu berubah secara mendasar! Itu mungkin! Bisa terjadi, bisa juga tidak!

Dan memang, faktanya, pendidikan Indonesia kini perlu perubahan mendasar, dalam berbagai aspeknya. Pertama, fokus utama pada tujuan pendidikan akhlak!  UUD 1945 pasal 31 (3) mengamanahkan, pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa!
Itu amanah konstitusi. Itu pula amanah UU Sisdiknas No 20/2003 dan UU Perguruan Tinggi No 12/2012. Orang muslim sangat akrab dengan misi utama Nabi Muhammad saw, yakni beliau diutus untuk  ‘menyempurnakan akhlak manusia’ (buitstu li-utammima makarim al-akhlaq).

Misi penyempurnaan akhlak peserta didik inilah yang sepatutnya menjadi perhatian utama Menteri Nadiem. Nabi Muhammad saw menyebutkan, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. Orang yang berakhlak mulia, pasti menjadi orang hebat dan berguna!
Nabi mengajarkan suatu doa: “Ya Allah, hindarkan aku dari sifat malas dan lemah!” Nabi mengajar dan memberi contoh, bagaimana menjadi orang jujur, pekerja keras, terpercaya, rendah hati, penyayang, peduli kebersihan, tidak sombong, tidak pendengki, tidak pesimis apalagi putus asa!
Jangan sampai dunia pendidikan Indonesia melahirkan manusia-manusia yang pintar cari makan, tetapi jahat, serakah, dan tidak peduli pada sesama insan. Apalagi, melahirkan manusia tidak professional, tidak berguna, dan buruk pula akhlaknya. Na’udzubillah!

Pakar pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir (77 tahun), beberapa kali menceritakan kepada saya, bahwa sejak era 1980-an, beliau ingatkan pemerintah, agar pendidikan kita berbasis kepada pendidikan Akhlak Mulia, bukan kepada sains dan teknologi! Menurut Ahmad Tafsir, jika tidak punya teknologi, kita masih bisa beli. Tapi, kalau tidak punya akhlak, kemana membelinya? Dan pemikiran itu logis, sebab bangsa rusak, karena akhlak rusak.

Kedua,  reformasi sistem dan kurikulum pendidikan. Dalam buku “Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi” (YPI at-Taqwa:2019), saya mengisahkan hasil dialog saya dengan Prof. Nanang Fattah (68 tahun), guru besar UPI Bandung, pada 28 Januari 2019. Penulis menikmati ide-ide segar Prof. Nanang Fattah tentang reformasi pendidikan.

Salah satu yang menarik adalah gagasannya tentang standar pendidikan. Menurutnya, pendidikan sebaiknya berpegang pada satu standar kompetensi, yaitu standar kompetensi lulusan. “Pendidikan itu based on result, bukan based on process,” katanya.

Bahkan, pada awal reformasi, beliau sudah usulkan, agar pendidikan tingkat SD cukup 4 tahun, SMP 2 tahun, dan SMA 2 tahun! Tapi, kurikulumnya harus bersifat dinamis, mengikuti dinamika sosial.  Gagasan Prof. Nanang Fattah ini, menarik, rasional, dan kontekstual.

Saat berbicara dalam satu seminar oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), bersama Dr. Yudi Latif dan Dr. Marzuki Ali, saya pernah sampaikan, agar ada perubahan mendasar dalam sistem dan kurikulum Pendidikan Tinggi. Contoh, menurut penulis, untuk menjadi wartawan profesional, tidak perlu pendidikan tingkat S-1 sampai 4 tahun. Begitu juga untuk menjadi guru TK, perawat, dan sebagainya! Profesionalisme tidak diukur dari berapa lama dan berapa banyak materi kuliah yang ia pelajari. Tapi, kompetensi apa yang ia sudah kuasai!

Pada 17 Oktober 2019, melalui akun instagramnya, cendekiawan Indonesia,  Yudi Latif menulis, bahwa banyak negara kini telah mengubah kurikulum pembelajaran dari spesialisasi menuju penyiapan pembelajar generalis yang mampu berpikir independen dan inovatif. Ia merujuk pada buku berjudul Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, karya David Epstein (2019).

Tahun 2017, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan buku berjudul “Era Disrupsi: Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia”. Buku ini mengingatkan dunia Perguruan Tinggi untuk berubah secara mendasar dalam model pendidikannya, karena mulai merebaknya MOOCs (Massive Open Online Courses). Juga, perlunya penyiapan model pembelajaran yang multi dan interdisiplin, bukan lagi bersifat linier.

Itulah sedikit diantara masalah besar dunia pendidikan kita. Masih banyak yang lainnya! Salah satunya, peningkatan kualitas guru. Dalam acara Rountable Discussion di Lembaga Pengkajian MPR, 24 Oktober 2017, mantan Dirjen Dikti, Satryo Soemantri Brodjonegoro, menulis makalah berjudul: “Mempertanyakan Cetak Biru Pendidikan Indonesia”.  Prof. Satryo termasuk diantara pakar dan praktisi pendidikan yang prihatin dan mengkhawatirkan masa depan pendidikan kita.

Jadi, bagaimana masa depan pendidikan kita di era Menteri Nadiem? Silakan cemas, tapi jangan putus asa! Harapan dan peluang perbaikan itu selalu ada! Siapa pun menterinya! Apalagi, sebagian besar lembaga pendidikan kita tidak bergantung kepada pemerintah. Wallahu A’lam bish-shawab! (Opini Harian Republika, 25 Oktober 2019).
Share:

Sosok yang Mengusulkan MERAH PUTIH sebagai Warna Bendera Indonesia

Habib Idrus Salim Al Jufri
Kita pasti sudah terbiasa dgn Merah Putih, warna bendera Indonesia. Sejak kecil hingga dewasa, kita menyaksikan Merah Putih berkibar. Namun, tahukah kamu jika pemilihan warna bendera Indonesia, ternyata memiliki sejarah yg sangat dekat dgn Islam? Semua berawal dari Ulama besar, Habib Idrus Salim Al Jufri. Dialah sosok yg pertama kali mengusulkan Merah Putih menjadi warna bendera Indonesia.

Usulan ini tidak mentah2 ia layangkan, melainkan berdasarkan pesan dari Rasulullah dalam mimpinya, yakni jika Indonesia merdeka, maka warna benderanya adalah Merah Putih. Pendiri Al Khairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah ini juga adik kelas dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari.

Pada Muktamar NU tahun 1937 silam, Mbah Hasyim Asyari mengusulkan Merah Putih untuk menjadi warna bendera Indonesia, dan Soekarno adalah pemimpinnya, sesuai pesan yg disampaikan oleh Habib Idrus Salim Al Jufri kepadanya.

Dikenal dgn Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri ini lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892. Dan saat usianya masih 12 tahun, ia telah berhasil menghafal Alquran, 30 Juz. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969, tepatnya di usia 77 tahun.

Habib Idrus merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah, dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ia juga akrab disapa Guru Tua, dan dikenal sbg sosok yg sangat cinta ilmu.

Hal ini terlihat jelas saat ia mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat, sebagai tanda kasih nyata Habib Idrus, kepada Islam. Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, saat usia Habib Idrus menginjak 41 tahun.

Ia juga yg menginspirasi terbentuknya sekolah di berbagai jenis serta tingkatan di Sulawesi Tengah, yg dinaungi organisasi Alkhairaat. Dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

Habib Idrus merupakan keturunan Rasulullah dgn silsilah sebagai berikut: As-Sayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW.

Inilah Syiar Kemerdekaan Republik Indonesia yg disusun oleh Al Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, ketika menyambut Proklamasi, 17 Agustus 1945:

Bendera kemuliaan berkibar di angkasa, hijau daratan dan gunung-gunungnya
Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan, orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan, muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

Wahai Sukarno! Telah kau jadikan hidup kami bahagia, dengan obat darimu hilang sudah penyakit kami
Wahai Presiden yang penuh berkah bagi kami, engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul, telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak, demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan, tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan, dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual, buktikan kepada masyarakat bahwa engkau mampu
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu, dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh...
Share: