Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Khutbah Jum'at: Izin untuk Berperang dalam Sirah Nabawiyah

Disampaikan pada khutbah Jum'at 24 September 2021 di Masjid Al-Fatih Semarang. 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ؛

MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH,

 Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya…, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini… dengan penuh keridhaan-Nya... Shalawat dan salam, semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad , beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya, yang senantiasa menegakkan agama Allah di muka bumi ini, hingga akhir zaman.

  Pada Jumat kali ini marilah kita menata hati, menata niat, hadir di majelis mulia ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT dan mengharap ridha dan berkah dari-Nya. Jangan sampai niatan kita hadir di majelis ini untuk sekadar menggugurkan kewajiban kita, apalagi menjadi sebuah keterpaksaan. Mari jadikan momentum rangkaian ibadah Jumat setiap pekannya sebagai motivasi untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala sekaligus memperbaiki diri dalam memahami ilmu-ilmu agama melalui materi-materi khutbah Jumat yang disampaikan oleh para khatib. Sudah menjadi kewajiban kita untuk terus berikhtiar memperbaiki kualitas diri kita ke arah yang lebih baik dengan belajar dan menuntut ilmu mulai dari ayunan sampai liang lahat.

 Allah pun akan memberi status lebih, bagi orang-orang yang memiliki ilmu sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Mujadilah: 11.

   يَرْفَعِ ٱللهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

 "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."



MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

 

Mempelajari Sirah Nabawiyah akan membantu kita sebagai muslim untuk mengetahui Rasulullah dari dekat, sehingga meningkatkan cinta dan keinginan kita untuk mengikutinya. Terutama ketika kita membaca dan mepelajari berita dan cerita tentang awal dakwah dan kesulitannya, kengerian, pendustaan, dan penolakan yang menimpa Nabi dari kaum kafir Quraisy, penduduk Thaif, dan lain-lain.

Dan pada kesempata kali ini, melanjutkan khutbah-khutbah sebelumnya, kita akan coba melihat salah satu episode yang menarik untuk dipelajari yang terjadi pada kehidupan Rasulullah , yaitu adanya izin untuk berperang. Izin perang  ini terkadang dijadikan oleh para musuh-musuh Islam untuk menyerang balik Islam dengan menyebutkan bahwa Islam adalah agama kekrasan dalam makna yang negatif. Karenanya menarik juga untuk kita pahamai bagaimana izin perang ini akhirnya diberikan oleh Allah swt kepada Rasulullah dan para sahabat.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

 

Disebutkan di dalam kita ar-Rahiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfuri bahwa di antara fase-fase kehidupan Nabi adalah ada masa atau kondisi yang rawan karena adanya ancaman terhadap eksistensi kaum muslimin di Madinah, terutama yang bersumber dari pihak kafir Quraisy yang tak pernah berhenti memperdayai dan mengganggu mereka. Allah kemudian menurunkan Ayat yang mengizinkan kaum muslimin untuk berperang, yang berarti tidak bersifat wajib. Yaitu surat al-Haj ayat 39 yang berbunyi:

 

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ

 

“Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.”

 

Ayat ini diturunkan di antara beberapa ayat yang memberi petunjuk kepada mereka, bahwa izin berperang tersebut hanya dimaksudkan untuk mengenyahkan kebathilan dan menegakkan syiar-syiar Islam. Dilanjutkan dalam surat al-Hajj ayat 41, Allah SWT berfirman:

 

اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

 

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

 

Yang tidak perlu diragukan lagi bahwa izin untuk berperang ini turun di Madinah setelah Hijrah, bukan di Mekkah sebelum hijrah. Walaupun tidak ditentukan secara pasti kapan waktu turun ayat tersebut. Sedangkan saat di mana Rasulullah   masih berada di Mekkan, kaum muslimin masih belum diizinkan untuk berperang. Dalam kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ali Muhammad ash-Shallabi dikutip dari Tafsir Al-Alusi bahwa para sahabat pernah meminta kepada Nabi untuk memberikan izin dalam berperang. Akan tetapi Rasulullah  bersabda, “Bersabarlah, karena sesungguhnya aku belum diperintahkan untuk berperang.”

 

Izin untuk berperang ini sudah turun. Namun, sikap yang diambil kaum Muslimin dalam menghadapi kondisi yang dipicu oleh kaum Kafir Quraisy dan kekuatannya ini, ialah dengan cara menunjukkan kekuasaan terhadap jalur perdagangan Quraisy yang mengambil rute dari Mekkah ke Syam. Langkah yang dilakukan adalah pertama, mengadakan perjanjian kerja sama atau tidak saling menyerang dengan beberapa kabilah yang berdekatan dengan jalur perdaganagn ini. Kedua, mengirim beberapa kelompok utusan secara terus menerus dan bergiliran ke jalur perdagangan tersebut.

HADIRIN SIDANG JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

 

Untuk mengimplementasikan dua langkah tersebut, kaum muslimin memulai dengan kegiatan militer. Mereka mulai mengirimkan mata-mata. Sasarannya adalah untuk mengenal lebih lanjut tentang jalan-jalan yang ada di sekitar Madinah, begitu pula jalur ke Mekkah. Kaum Muslimin mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur tersebut. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada orang-orang musyrikin Yatsrib, Yahudi dan suku-suku Badui di sekitarnya bahwa kaum Muslimin adalah orang yang kuat; bahwa mereka bisa melepaskan diri dari kelemahan pada masa-masa sebelumnya; serta memperingatkan pihak Quraisy sebagai akibat dari kebrutalan mereka.

 

Dengan begitu mereka tidak lagi berbuat semena-mena, yang selama itu masih terus membayangi pikiran kaum Muslimin. Berharap dengan cara itu, pihak Quraisy akan merasa khawatir terhadap keamanan jalur perdagangan mereka, lalu mendorong mereka untuk mengadakan perdamaian, membatalkan niat untuk menyerbu kaum Muslimin, tidak menghalangi manusia untuk mengikuti jalan Allah, tidak lagi menyiksa Mukminin yang lemah di Mekkah, sehingga kaum Muslimin bebas menyampaikan risalah Allah di seluruh Jazirah Arab.

 

Dalam hal izin untuk berperang ini, dapat kita ambil catatan penting bahwa sebelum diizinkan untuk berperang kaum muslimin belum memiliki kekuatan penuh untuk berpearang. Jika dilakukan maka dikhawatirkan yang didapatkan bukanlah kemenangan, melainkan kekalahan yang dapat berujung pada kebinasaan. Sedangkan tahapan pemberian izin untuk berperang bagi kaum muslimin pun tidak dengan tujuan untuk memerangi namun perang defensif,  peperangan yang memang bersifat dalam membela dan mempertahankan diri. Muhammad Sa’id Muhammad Ramadhan Al-Buthy juga menyebutkan bahwa Setiap peperangan ini merupakan tindak balas atau counter attack terhadap persekongkolan atau permusuhan yang dilancarkan oleh kaum musyrikin. Karena itu, peperangan ini hanyalah mencerminkan salah satu tahapan di antara tahapan-tahapan dakwah Islam pada masa Nabi , bukan mencerminkan hukum final yang menjadi landasan jihad. Sebagaimana tahapan dakwah secara rahasia kemudan dakwah secara terang-terangan.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ  مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

 

vvv 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

vvv

Share:

Tawakkal di Masa Pandemi

Tawakkal di Masa Pandemi
Disampaikan: Jum'at, 30 Juli 2021 di Masjid Al-Fatih Semarang

Khutbah I: 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 أَمَّا بَعْدُ؛

MA’ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH,

 

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT… yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya…, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini… dengan penuh keridhaan-Nya... Shalawat dan salam, semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya, yang senantiasa menegakkan agama Allah di muka bumi ini, hingga akhir zaman.

 

Dalam kesempatan ini, khatib juga mewasiatkan untuk diri sendiri dan juga jama’ah semuanya agar senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Syarah hadits Arba’in hlm. 345, menyebutkan bahwa hakikat taqwa adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dengan mengimani (mengenal) Dzat yang memerintah dan melarangnya.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Di saat menghadapi pandemi Covid-19 seperti yang sedang terjadi saat ini, baik masyarakat dari kalangan bawah hingga pemerintah sibuk mencari solusi yang terbaik agar terhindar dari wabah ini. Mulai dari menerapkan protokol kesehatan dengan  mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak hingga melakukan vaksinasi agar terhindar dari virus yang mematikan ini.

 

Lalu bagaiman sikap kita seharuanya sebagai seorang muslim? Apakah kita hanya akan bergantung pada usaha-usaha yang kita lakukan terasebut? Para jama'ah barangkali sudah mendengarkan banyak kajian mengenai hal ini. Khotib mengingatkan kepada diri pribadi dan jama'ah sekalian, agar kita jangan sampai memutlakkan bahwa ikhtiar yang kita lakukan tersebut sudah pasti tentu menghindarkan diri kita dari covid19. Khawatir hal tersebut menyebabkan aqidah kita goyah,  apabila kita meyakini bahwa usaha kita itulah yang mampu menghindarkan dan mengobati kita dari covid-19.

 

Padahal sesungguhnya yang bisa menyembuhkan atau menghindari kita dari segala mara bahaya hanyalah Allah swt. Ada sekitar 12 ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa hanya Allah-lah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya. Di antara ayat tersebut:

 

1. Surat Yunus (10) Ayat 49

قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي ضَرّٗا وَلَا نَفۡعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

 

 

Juga di dalam

2. Surat Al-Ma'idah (5) Ayat 76

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

76. Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Terdapat juga di dalam

3. Surat Al-Anbiya (21) Ayat 66

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

66. Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"

 

Dalam sebuah Hadits juga disebutkan:

عَنْ ابنِ عباسٍ رضي الله عنهما، قَالَ: كنت خلف النَّبيّ صلى الله عليه وسلم يوماً، فَقَالَ: "يَا غُلامُ، إنِّي أعلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَألْتَ فَاسأَلِ الله، وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ، وَاعْلَمْ أنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبهُ اللهُ لَكَ، وَإِن اجتَمَعُوا عَلَى أنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Dari Abdullah bin Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu; dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering"  (HR At Turmudzi).

 

Oleh karenanya yang perlu kita kuatkan pada diri kita dalam menghadapi pandemi seperti ini, salah satunya tentu dengan senantiasa bertawakkal kepada Allah.  setelah kita melakukan ikhtiar yang kita lakukakan. Maka apapun hasilnya kelak kita berserah diri hanya kepada Allah subhanahu wata'ala. Kita hanya menggantungkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala, apapun taqdirnya. Apakah kita bisa terhindar dari mushibah ini atau tidak, sesungguhnya Allah lah yang telah menetapkannya.

 

MA’ASYIRAL MUSLIMIN SIDANG JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Salah satu jalan untuk mencapai keimanan yang sempurna dan keislaman yang totalitas adalah dengan tawakkal kepada Allah swt semata. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata bahwa tawakkal adalah puncak iman. Dalam kitab Al-Bahrur Raiq fiz Zuhdi war Raqaiq, karangan Syaikh Ahmad Farid, hal 349: disebutkan bahwa Tawakkal adalah menyandarkan hati kepada Allah dalam menggapai maslahat (kebaikan) atau menghindari mudharat (keburukan) baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Sehingga orang yang bertawakkal itu hanya bergantung kepada Allah swt saja.

 

Apabila dilihat dari konsekuensinya, maka bertawakkal kepada Allah swt hukumnya adalah wajib berdasarkan Nash Al-Quran dan Al-Hadits.

Allah swt berfirman:

ومن يتوكل على الله فهو حسبه

Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka niscaya Allah akan mencukupkan keinginannya. (QS. Ath-Thalaq: 3).

 

Juga Rasulullah saw bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan rezeki kepada kalian, seperti Allah memberikannya kepada seekor burung. Yang mana seekor burung pergi pada pagi buta dalam keadaan lapar, dan kembali pada waktu petang dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, No. 205. Hadits Shahih).

حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

 

HADIRIN SIDANG JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Berdasarkan kitab fawaidul fawaid karangan ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 113, disebutkan bahwa: Tawakkal kepada Allah ada 2 macam:

1.      Tawakkal kepada Allah hanya sekedar untuk memperoleh semua kebutuhan duniawi, atau terhindar dari segala musibah yang ada di dunia.

2.      Tawakkal kepada Allah untuk memperoleh apa-apa yang dicintai dan diridhoi Allah swt, baik untuk maslahat (kepentingan) dunia maupun akhiratnya.

 

Jika seorang hamba bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya pada bentuk yang kedua tadi, niscaya Allah akan memenuhi seluruh harapannya pada tawakkal bentuk yang pertama. Sedangkan jika ia bertawakkal kepada Allah pada bentuk yang pertama saja, maka Allah akan mencukupkan baginya, namun buah dari tawakkalnya itu bukan berupa sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah swt.

Padahal dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karangan Ibnu Rajab, hal 1001, disebutkan bahwa ibnu Abu Ad-Dunya berkata: Seorang yang bijak (ahli hikmah) berpendapat bahwa tawakkal mempunyai 3 tingkatan: Pertama, tidak mengeluh. Kedua, ridha. Dan Ketiga, cinta.

 

حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

 


HADIRIN SIDANG JAMA’AH JUMAT YANG DIRAHMATI ALLAH SWT

Hakikat tawakkal yang khotib sampaikan dari berbagai sumber tadi, seharusnya menjadi pedoman bagi kita untuk mengawali dan mengakhiri setiap ibadah dan kebaikan yang kita kerjakan. Namun ironisnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak mengetahui hakikat tawakkal tersebut. Sehingga mereka kerap sekali melakukan ibadah dan kebaikan tanpa bertawakkal kepada Allah swt. Inilah yang disebut dengan seorang muslim yang tertipu dalam ibadah dan kebaikan yang dilakukannya.

 

WAHAI SAUDARAKU SEIMAN

 

Tidak bisa dipungkiri, terkadang tawakkal itu dilakukan karena keterpaksaan. Yakni, seseorang baru bertawakkal kepada Allah ketika sedang sakit atau butuh pertolongan serta perlindungan. Padahal bertawakkal dalam keadaan seperti ini, tidak memberikan solusi dan kemudahan atas kesusahan yang dialaminya. Sudah tentu, sebaik-baik bertawakkal adalah ketika kita sehat dan mendapatkan nikmat.

 

Oleh karena itu, marilah kita bertawakkal kepada Allah swt dengan hati yang ikhlas dan merealisasikannya melalui lisan dan perbuatan. Dengan demikian, usaha ibadah dan kebaikan kita hari ini, atau bahkan di hari-hari lainnya, dibalas dan diridhai Allah swt.

 

حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ  مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ



Khutbah II:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْمَعْرِفَةِ فَاطْمَأَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ،

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَهُوَ الرَّقِيْبُ الْمَجِيْدُ،

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَنَارَ الْوُجُوْدَ بِنُوْرِ دِيْنِهِ وَشَرِيْعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الْوَعِيْدِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Share: