Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Piramida Keilmuan Modern ?

Ketika mendengar kata “piramida”, yang terbayang di pikiran kita biasanya adalah sebuah bangunan kuno berbentuk limas yang terletak di Mesir. Bagian bawah lebih besar daripada bagian atas, semakin ke atas semakin sempit dan semakin lancip. Secara prinsip mirip dengan bentuk bangun kerucut, hanya saja kalau piramida bentuknya dasarnya berupa persegi atau persegi panjang sedangkan kerucut lingkaran. Demikian saya akan mencoba menggambarkan pola keilmuan dalam dunia modern.

Coba kita mengingat-ingat sejenak bagaimana dan apa saja yang telah kita pelajari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di bangku SD kita sangat mempelajari hal-hal yang sifatnya umum, entah itu sesuatu yang berguna untuk kita atau kurang bahkan tidak berguna bagi kita baik di saat itu maupun di masa yang akan datang.

Setelah menamatkan SD lanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang umum disebut juga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di tingkat SLTP juga masih hampir sama dengan apa yang dipelajari ketika duduk di bangku SD. Sifatnya masih sangat umum, hanya saja sudah mulai ada pendalaman materi. Kedua jenjang ini, SD dan SMP dalam sistem pendidikan kita merupakan jenjang pendidikan dasar yang harus dikecap oleh setiap orang. Biasa disebut dengan Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.

Setelah menamatkan bangku SLTP lanjut lagi ke tingkat berikutnya yaitu, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau yang umum dikenal dengan Sekolah Menangan Atas (SMA). Selain SMA ada juga Pendidikan yang setara dengan SMA yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pendidikan kita pada level ini memiliki materi yang sudah mulai mengerucut. Sudah mulai ada penjurusan yaitu jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sedangkan pada sekolah kejuruan, dikhususkan pada keahlian bidang pekerjaan tertentu. 

Level berikutnya setelah SMU yaitu perguruan tinggi atau universitas. Secara umum pendidikan tinggi dibagi menjadi dua kategori yaitu IPA dan IPS atau ilmu-ilmu eksakta dan ilmu-ilmu sosial. Terkadang ada juga jurusan tertentu yang tidak terlalu jelas apakah termasuk ilmu eksakta atau sosial. Namun biasanya ada yang mendominasi sehingga dominasi itu akan menentukan apakah termasuk ke dalam jurusan eksakta atau ilmu sosial. 

Dalam Pendidikan tinggi terdapat tiga level juga, yaitu program sarjana (S-1), pasca sarjana (S-2), dan doktoral (S-3). Semua level itu piramidanya semakin tinggi semakin spesifik. Pada level S-1 walaupun sudah khusus pada bidang tertentu, pada level S-2 akan semakin khusus lagi, dan pada level S-3, semakin spesifik lagi. Sebenarnya setelah menyelesaikan program doktoral, masih ada jenjang berikutnya yaitu pos-doktoral. Hanya saja pada level ini sifatnya hanya berupa kursus-kursus dengan pendalaman bidang keilmuan atau keahlian tertentu. 

Seperti itulah sistem pendidikan kita hari ini, umum dikenal dengan pendidikan modern, keren bukan? Saya menggambarkannya seperti sebuah piramida atau kerucut yang dasarnya lebih besar dibandingkan dengan puncaknya. Di awal-awal pendidikan kita belajar sesuatu yang sangat umum, semakin tinggi semakin mengerucut, semakin spesifik, semakin lancip. 

Dalam bayangan konyol saya, sistem pendidikan kita yang seperti ini akan menciptakan manusia yang semakin tinggi pendidikannya tatapi semakin sedikit ilmunya walaupun semakin mendalam. Kekhawatiran saya yang lain, sistem pendidikan model ini akan menghasilkan para ilmuan parsial. Mereka memahami ilmu pengetahuan hanya bidang tertentu. 

Dan menjadi bertambah parah karena tidak dikaitkan dengan bidang keilmuan yang lain. Bagaimana mau mengaitkan ke bidang lain, sedangkan mereka tidak memiliki keahlian di bidang lain. Hal ini juga bisa mempengaruhi kepribadian seorang ilmuan. Mereka yang spesifik ilmunya bidang eksakta bisa jadi menjadi orang yang sangat statis dan kaku. Dan mereka yang memiliki dasar ilmu sosial, menjadi orang yang sangat dinamis. Bahkan, Ketika terlanjur, menjadikan manusia yang tidak memiliki keteraturan hidup dan tidak pendirian. 

Share:

Kurikulum Pendidikan Nabawiyah, Kurikulum Pendidikan untuk Negri yang Berketuhanan

Kurikulum Pendidikan untuk Negri yang Berketuhanan
Syah Azis Nangin Abu Zaid


Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam hidup bersama para sahabat selama sekitar 23 tahun, sejak beliau menerima wahyu hingga wafat. Dalam kurun waktu tersebut, Rasulullah meninggalkan para sahabat dengan memiliki karakter keimanan yang kuat. Selain itu, para sahabat juga mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Karena itu, kita perlu bertanya apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Rasulullah dalam mendidik mereka? Sehingga hasilnya bisa demikian hebat.


Dalam dunia pendidikan, ada tiga unsur pokok yang harus ada. Yang kalau satu di antar tidak ada, maka tidak akan mungkin terjadi proses pendidikan. Apa saja itu? Yang pertama adalah Guru. Yang kedua, murid. Dan yang ketiga adalah kurikulum. Maka dalam pendidikan para sahabat, gurunya adalah Rasulullah. Muridnya, para sahabat. Dan kurikulumnya adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kurikulum yang diajarkan oleh Rasulullah ini dapat kita sebut dengan Kurikulum Pendidikan Nabawiyah.

Untuk mengetahui Kurikulum Pendidikan Nabawiyah, kita dapat berpedoman pada kesaksian salah satu sahabat Rasulullah yaitu Jundub bin Abdullah. Sebagaimana berikut ini:

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، ‌فَتَعَلَّمْنَا ‌الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا

“Jundub bin Abdillah berkata: Kami bersama Nabi saat kami masih remaja; kami belajar Iman sebelum belajar Al-Quran. Kemudian ketika kami belajar Al-Quran, maka bertambahlah Iman kami.” (Sunan Ibnu Majah no. 60, disahihkan oleh Al-Albani).

Dalam Riwayat Ath-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman terdapat kalimat tambahan Jundub:

فَإِنَّكُمُ الْيَوْمَ تَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ

“Adapun kalian hari ini belajar Al-Quran sebelum iman.”

Hadits tersebut menunjukkan bahwa beberapa hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Yang pertama, bahwa belajar itu harus dilakukan sejak dini, tanpa menunggu usia renta. Jundub bin Abdullah sedang dalam masa remaja ketika mendapatkan pelajaran langsung dari Rasulullah.

Yang kedua adalah, adalah Kurikulum Pendidikan Nabawiyah. Kurikulum tersebut ada dua jenis yaitu Iman dan Al-Quran. Dua kurikulum tersebutlah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat mulia. Yang dengan kedua kurikulum tersebut telah lahir generasi terbaik sepanjang masa. Mereka mempelajari Iman sebagai fondasi Aqidah yang benar. Kemudian mereka belajar Al-Quran untuk menguatkan fondasi keimanan tersebut dan memagarinya agar tetap terjaga.

Dan yang ketiga adalah mengenai “Urutan”, yaitu Iman sebelum Al-Quran. Jundub bin Abdullah menyampaikan kesaksiannya tersebut kepada para tabi’in. (Tabi’in adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad). Sedangkan kualitas para tabi’in ketika itu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena salah urutan dalam pendidikan mereka. Mereka belajar Al-Quran terlebih dahulu baru belajar Iman. Meskipun jika dibandingkan dengan zaman sekarang, pasti kita sangat tertinggal jauh.

Para sahabat mempelajari Iman sehingga memiliki adab yang baik. Karena buah dari Iman yang kuat adalah akhlak yang mulia. Yang dengan adab atau akhlak tersebut mereka memiliki karakter keimanan yang kokoh. Sedangkan Al-Quran, kita tahu bahwa isinya semua adalah ilmu pengetahuan. Yang dengan ilmu tersebut, kita bisa menjadikannya sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Siapa yang mendalam pemahaman Al-Qurannya maka akan luas pengetahuannya. Karena itu dari istilah “Iman sebelum Al-Quran” hadir juga turunannya yaitu “Adab Sebelum Ilmu”.

Gabungan dua kurikulum ini dengan urutan yang tepat akan menghasilkan generasi sekelas sahabat. Mereka memiliki karakter kepribadian yang kokoh dengan ilmu pengetahuan yang luas. Salah urutan saja menyebabkan penurunan kualitas, padahal masih mempelajari Iman dan Al-Quran. Maka bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika kurikulum pendidikan kita tanpa Iman dan tanpa Al-Quran.

Lantas, bagaimana dengan agama lain? Kaidahnya sama saja. Belajar keimanan sesuai dengan ajaran agama masing-masing terlebih dahulu. Dan dilanjutkan dengan mendalami kitab suci masing-masing. Dan inilah Kurikulum Pendidikan Berkarakter yang sesungguhnya yang tepat untuk bangsa ini. Bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan Sila Pertama Pancasila. Jika hal ini dapat dilakukan maka, semoga negeri ini akan menjadi negeri yang Allah hadirkan keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Wallahu a’lam)

Senin, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441 H
Share:

Beberapa Situs di Indonesia yang Menerima Penulis Lepas

Beberapa Situs di Indonesia yang Menerima Penulis Lepas

1. Mojok

Situs yang mengusung konsep populer ini merupakan wadah bagi penulis dengan kemampuan berlebih. Sebagai media alternatif, kamu dilarang keras untuk terlalu serius. Lebih banyak mangandung satir dan sindiran secara halus untuk banyak perkara.

Mojok menerima banyak tulisan, mulai esai, curhatan, bahkan cerita-cerita mop. Mereka sangat menghargai itu. Meski tulisan di Mojok lebih ringan dan gurih, namun mereka sangat menghargai setiap karya yang berhasil diterbitkan. Bayarannya mulai Rp350.000 hingga lebih untuk satu tulisan.

Jadi kalian punya energi berlebih tidak ada salahnya mengirim ke Mojok.co.

2. Voxpop

Sebenarnya hampir sama dengan Mojok, Voxpop Indonesia juga mengusung tema yang santai dan menyegarkan. Namun, buat kamu yang tidak terlalu satir, tapi tulisan mu menyimpan makna, maka Voxpop.id bisa jadi pilihan menarik.

Voxpop menerima tulisan beragam, mulai dari opini dengan sudut pandang beragam dan segar. Sebagaimana namanya 'Suara Raykat' (vox populi), situs ini didirikan dari berbagai latar belakang berbeda. Mulai dari jurnalis, komikus, hingga pengusaha.

Itulah mengapa, setiap tulisan yang berhasil tayang di situs ini akan diganjar honor yang manusiawi. Satu tulisan dibayar Rp250.000 dengan manimum kata tidak terbatas.

3. Geotimes

Jika kamu tipe orang yang menulisnya serius dan selalu memenuhi segala unsur teoritistik. Maka tidak ada salahnya menulis sesuatu di Geotimes.co.id. Situs yang menampung tulisan opini dan kolom ini lebih mengedepankan isu aktual dan timeless.

Tulisan yang bisa tayang di situs itu harus memenuhi syarat dari 750 hingga 1000 kata. Namun, tak perlu khawatir, jika tulisan mu berhasil terbit maka bayarannya juga tidak mengecewakan. Mereka akan membayar sesuai keahlian, namun dimulai dari harga Rp350.000 per tulisan. Bayarannya bisa lebih dari sejuta jika itu memang dari ahlinya.

4. Remotivi

Yang satu ini sasarannya lebih spesifik lagi. Remotivi.or.id merupakan organisasi yang memantau semua siara media. Baik televisi, radio, cetak hingga online. Jika teman-teman punya kemampuan menganalisis satu pemberitaan dari sudut pandang media, silahkan mengirimkan tulisan.

Saya belum pernah mengirim tulisan ke Remotivi, tapi beberapa teman yang berhasil menerbitkan tulisan di situs itu mengatakan, bayarannya jauh dari cukup dari sekedar cuap-cuap di sosial media. Mereka bisa membayar dari Rp350.000 hingga Rp1.500.000 per tulisan.

Namun itu dia, karena mereka merupakan situs yang serius, jadi tulisan yang tayang harus memenuhi syarat yang mereka tetapkan.

5. Basabasi

Situs Basabasi.co menampung beragam tulisan dibanding empat lainnya yang saya sebut di atas. Basabasi menerima cerpen, puisi, esai, resensi buku dan hibernasi atau artikel ringan. Setiap tulisan dihargai berbeda. Tulisan ringan Rp100.000, cerpen dan esai Rp300.000, puisi Rp250.000 dan resensi buku Rp200.000.

Setiap tulisan yang masuk ke mereka akan dikurasi. Jika lolos, maka tulisannya akan ditayangkan. Mereka juga tidak membatasi berapa pun tulisan yang dikirim. Jika banyak dan semuanya lolos, maka akan mereka tayangkan. Yang menariknya lagi, setiap penulis yang pertama kali tulisannya tayang akan diberi kaos dari Basabasi.
Share: