Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Cara Membuat Shortcut Shutdown, Restart, Sleep, Lock dan Hibernate


Cara Membuat Shortcut Shutdown, Restart, Sleep, Lock dan Hibernate di Komputer/Laptop. Ada beberapa tahap yang akan dilakukan untuk membuat hal tersebut, yaitu:

1. Langkah awal ialah klik kanan pada Desktop lalu pilih *New* > *Shortcut*.

2. Kemudian akan muncul jendela baru. Pada kolom yang ditampilkan masukkan salah satu kode di bawah ini sesuai fungsi yang anda inginkan.

*Untuk shutdown*
/Shutdown.exe -s -t 00/

*Untuk restart*
/Shutdown.exe -r -t 00/

*Untuk beralih ke mode sleep*
/rundll32.exe powrprof.dll,SetSuspendState 0,1,0/

*Untuk mengunci/lock*
/Rundll32.exe User32.dll,LockWorkStation/

*Untuk melakukan hibernate*
/rundll32.exe PowrProf.dll,SetSuspendState/

Setelah kodenya dipaste ke kolom klik *Next* > *Finish*.

3. Makan akan muncul shortcut baru di layar komputer anda. Jika merasa kurang puas dengan icon shortcut tersebut, silahkan ganti ikonnya dengan cara klik kanan *Properties* > *Change icon…* > *Ok *> pilih icon yang disukai.

4. Untuk menyelesaikan pergantian ikon, klik *Apply* > *Ok*, selesai.
Share:

Menjadi Muslim yang Beruntung

“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1-3)


Ketika mendengar kata ‘beruntung’, maka pikiran kita cenderung akan tertuju pada jual beli. Ya, memang tidaklah salah karena kata ‘beruntung’ identik dengan laba, selisih nilai antara nilai beli yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai jual. Jika demikian, maka orang yang melakukan perniagaan disebut orang yang beruntung. Namun sebaliknya, jika nilai jual lebih kecil dari nilai beli maka si penjual termasuk orang yang merugi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa kata beruntung memiliki tiga arti, yaitu: 1) berlaba; mendapat laba; 2) bernasib baik; mujur; bahagia; dan 3) berhasil (maksudnya, usahanya, dan sebagainya); tidak gagal. Lawan kata dari ‘beruntung’ adalah merugi. Dalam KBBI disebutkan bahwa ‘merugi’ memiliki arti, 1) (terjual) kurang dari harga beli; 2) kurang dari modal; 3) tidak mendapat faedah (manfaat); dan 4) sesuatu yang kurang baik. Jika dilihat dari pengertian-pengertian tersebut maka kata untung atau rugi tidaklah sepenuhnya berkaitan dengan perniagaan, tetapi juga bisa masuk dalam hal yang diperoleh oleh manusia baik yang bernilai positif atau negatif.

Jika kita ditanya, mau jadi orang yang beruntung atau merugi? Maka tentunya tidak ada satu manusia pun di dunia yang mau menjadi orang yang merugi. Tapi, pada kenyataannya, apakah semua orang beruntung? Kita pasti bisa menjawabnya bahwa tidak semua manusia yang hidup di muka bumi ini beruntung. Banyak di antara manusia yang dapat digolongkan sebagai orang yang merugi. Lantas di mana posisi kita? Semoga kita menjadi orang yang beruntung.

Untuk mengetahui pengertian dari “beruntung” atau “merugi”, maka perlu kiranya kita merujuk pada Al-Qur’an atau Al-Hadits sehingga kita terhindar dari pemahaman yang sempit,  bias, dan subjektif. Makna hakiki dari beruntung dapat dilihat seperti yang difirmankan oleh Allah subhanahuwata’ala dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ashr ayat 1-3 yang artinya, “Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Berdasarkan surat tersebut dapat ditadabburi bahwa ada empat golongan manusia yang tidak akan merugi. Mereka itu adalah orang yang beriman, orang yang beramal saleh, orang yang saling menasihati dalam kebenaran, dan orang yang saling menasihati agar selalu bersabar. Mereka adalah orang yang sepantasnya disebut beruntung. Dan sebaliknya, empat golongan manusia yang merugi yaitu mereka yang tidak beriman, yang tidak beramal saleh, yang tidak saling menasihati dalam kebenaran, dan yang tidak saling menasihati agar selalu bersabar.

Jika dilihat dari golongan yang disebutkan, maka terlihat dengan jelas bahwa keberuntungan yang dimaksudkan memiliki dimensi duniawi dan ukhrawi. Keimanan, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan juga kesabaran memiliki pengaruh terhadap kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Yang mana antara yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Orang yang beriman seyogianya dia akan beramal saleh, amal pun haruslah berdasarkan pada keimanan. Serta untuk menjaga agar tidak keluar dari jalur yang seharusnya, dituntut untuk saling menasihati dalam kebenaran. Dan dibutuhkan kesabaran dalam saling menasihati, karena dalam menasihati itu terkadang tidak cukup hanya dalam satu kali saja.

Selain dari Al-Qur’an, sumber utama hukum Islam, perlu juga kita melihat bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan untung dan rugi. Dalam sebuah hadis masyhur namun periwayatan diketahui lemah, disebutkan, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung; barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang celaka”.

Meskipun hadis ini lemah dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah dalam mengambil hukum, namun bisa digunakan sebagai motivasi diri dan tazkiyatunnafs untuk pengembangan diri untuk selalu menjadikan lebih baik dari hari ke hari. Dan hadis ini dapat dijadikan untuk mengukur diri apakah kita termasuk orang yang untung, rugi, atau celaka.

Ambillah kegiatan harian yang kita lakukan setiap hari sebagai contoh. Dalam hal ibadah, kita dapat melihat pada shalat kita. Kalau kemarin yang shalat kita masih bolong-bolong, maka hari ini kita usahakan untuk kita sempurnakan. Kalau kemarin kita shalat jama’ah di masjid hanya satu atau dua waktu, maka hari ini mari kita usahakan untuk disempurnakan genap lima waktu. Yang lain, misalkan dalam hal  bangun di pagi hari. Jika kemarin kita bangun ketika iqamah subuh, maka hari ini kita usahakan bangun ketika adzan atau bahkan sebelumnya sehingga kita bisa melakukan shalat sunnah fajr dan shalat berjama’ah di masjid.

Semoga kita termasuk orang yang beruntung seperti yang disampaikan pada hadits di atas, yaitu orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Mulai memperbaiki diri dari hal-hal kecil yang sederhana. Shalat kita, baca Al-Qur’an kita, bangun tidur kita, pola makan kita, membaca buku,  kebersihan, kesehatan, dan lain-lain baik yang berupa ibadah mahdhah maupun yang bukan mahdhah. Karena segala sesuatu yang kita lakukan tentunya bisa bernilai ibadah bila dilakukan ikhlas karena mengharap ridha Allah. Jangan mau kalau hari ini sama dengan hari kemarin sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang merugi apalagi jika lebih buruk dari sebelumnya sehingga kita bisa masuk pada golongan orang yang celaka.
Share:

Siroh Nabi (4): Dakwah Jahriyah

Review Sesi IV Akademi Siroh (Ahad, 24 Januari 2016)
Dakwah Jahriyah bersama Ust. Budi Ashari, Lc
Oleh: Syah Azis Perangin Angin
Kuttab Al-Fatih Semarang

Setelah tiga tahun Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berdakwah secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) akhirnya Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengakhiri metode dakwah tersebut dan mulai melakukan dakwah secara Jahriyah (terang-terangan). Dakwah sirriyah ini berakhir dengan diturunkannya ayat Allah surat Al-Hijr ayat 94 yang artinya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.
Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan kata terang-terangan dari bahasa Arab yang berasal dari kata “shada’a” yang secara bahasa berarti “retak”. Artinya bahwa setelah Rasulullah melakukan dakwah secara terang-terangan maka segalanya akan retak termasuk hubungan keluarga dan akan muncul banyak masalah sehingga akan mengakibatkan kepusingan bagi umat muslim. Kendati demikian, sesungguhnya yang pusing terlebih dahulu adalah orang kafir Quraisy setelah melihat dakwah jahriyah Nabi Muhammad dan kaum muslimin.
Dengan berakhirnya dakwah sirriyah maka dimulailah dakwah Jahriyah. Awal dari dakwah Jahriyah ditandai dengan turunnya wahyu Allah surat Asy-Syu’ara ayat 214 yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”. Ayat ini sekaligus sebagai teknis bagaimana Rasulullah melakukan dakwah secara terang-terangan. Rasulullah kemudian mengumpulkan keluarga beliau dengan melakukan jamuan makan untuk memberi peringatan kepada mereka. Namun pada jamuan makan ini Rasulullah belum sempat memberi peringatan, tapi jamuan makan sudah selesai, kemudian Rasulullah berencana melakukan jamuan makan yang kedua.
Kisah yang terkenal adalah ketika Rasulullah berdiri dan berteriak di atas bukit Shofa memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul hingga semuanya berkumpul atau minimal mengirim utusan. Kemudian mengajak mereka untuk bertauhid kepada Allah dan beriman risalah yang dibawanya dan hari Akhir.  Lalu Rasulullah berbicara, “Bagaimana  menurut pendapat kalian kalau aku beri tahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?”. Mereka menjawab, “Ya. Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran.” Beliau berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan azab yang amat pedih”. Lalu Abu Lahab menanggapi, “Celakalah engkau sepanjang hari! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?” maka ketika itu turunlah surat Al-Lahab.
Dalam rangka menghalangi Dakwah Rasulullah orang-orang kafir Quraisy berusaha melakukan pendekatan kepada paman Rasulullah, Abu Thalib. Abu Thalib dianggap memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap  Rasulullah. Memang benar beliau memiliki pengaruh, sehingga Abu Thalib selalu meminta Rasulullah untuk menghentikan dakwah beliau. Hanya saja Rasulullah bersikukuh dengan dakwahnya dan pamannya juga mau melindungi Rasulullah dari perlakuan buruk orang kafir Quraisy.
Selama dakwah Jahriyah ini banyak sekali perlakuan buruk yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy baik berupa kata-kata maupun yang sifatnya fisik kepada Rasulullah dan umat muslim. Mereka melakukan negosiasi-negosiasi dan juga intimidasi hingga akhirnya umat Muslim benar-benar dibuat pusing seperti isyarat yang ada pada Surat Al-Hijr ayat 94. Hingga akhirnya umat Muslim harus Hijrah ke Habasyah, Intimidasi dan penyiksaan yang dilakukan juga mengabatkan Sumayyah syahid atas perlakuan keji meraka. Dan yang sangat berat bagi Rasulullah dan Ummat Muslim adalah ketika dilakukan pemboikotan terharap mereka.
Sebenarnya ada satu tokoh yang sangat berpengaruh pada suku Quraisy yaitu Walid bin Mughiroh, yang apabila beliau beriman maka bisa jadi semua orang Quraisy ikut beriman. Karena beliau termasuk pucuk pimpinan suku Quraisy di Makkah. Namun Allah berkehendak lain, beliau tetap tidak beriman dan memusuhi umat Islam.
Tekanan-tekanan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy ternyata tidak melemahkan kaum muslimin. Bahkan sebaliknya, umat Muslim menjadi semakin kuat. Pada Hijrah ke Habaasyah yang pertama yang berangkat hanya 15 orang namun pada Hijarah yang ke-2 yang berangkat mencapai 100 orang. Jumlah yang semakin banyak ini mengakibatkan kafir Quraisy menjadi berang dan meminta Raja Najasy, raja negeri Habasyah agar mengembalikan mereka. Bahkan Amr bin ‘Ash yang ketika itu belum memeluk Islam berusaha meyakinkan raja Najasy agar menyiksa mereka dengan menghadirkan dialog seputar nabi Isa karena negeri Habasyah penganut agama Nasrani. Hanya saja usaha itu gagal dan umat Muslim tetap aman tinggal di Habasyah.
Penindasan-penindasan ini terus terjadi bahkan ketika Nabi Muhammad sudah putus asa dan ingin berdakwah ke luar Mekkah yaitu ke Thaif. Dan itu pun Gagal, bahkan Rasulullah dilempari oleh penduduk Thaif. Beliau juga berdakwah kepada orang-orang yang melakukan haji ke Makkah baik kepada personal maupun individu. Hingga akhirnya ketika Rasulullah dan umat muslim berada pada posisi paling terendah, muncul enam orang bibit unggul dari Yatsrib yang ketika mereka pulang ke kampungnya, mereka mengemban risalah Islam sehingga tidak ada satu rumah pun yang dihuni oleh orang-orang di Yatsrib kecuali memperbincangkan Rasulullah.  Yang mana hal tersebut akan menjadi cikal bakal umat muslim untuk berhijar ke Yatsrib.

Dakwah secara terang-terangan ini baik yang di Mekah dan ke luar Mekah dilakun selam 13 tahun. Hingga akhirnya Rasulullah dan Umat Muslim berhijrah ke Madinah karena semakin kuatnya penyiksaan yang dilakukan oleh musyrikin Mekah. Yang di sisi lain, orang-orang Yatsrib sudah siap menyambut kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib.
Share:

Siroh Nabi (3): Dibawah Naungan Kenabian

Review Sesi III Akademi Siroh (Ahad, 24 Januari 2016)
Dibawah Naungan Kenabian bersama Ust. Iwan Setiawan, Lc
Oleh: Syah Azis Perangin Angin
Kuttab Al-Fatih Semarang

Setelah Nabi Isa a.s diangkat dari dunia maka dunia ini berada pada kekosongan nabi. Dan beberapa saat sebelum Nabi Muhammad lahir, dunia ini berada pada masa kejahiliahan. Kejahiliahan ini tidak hanya terjadi di bangsa Arab tetapi di seluruh dunia. Namun ternyata beberapa di antara manusia masih ada yang berusaha mencari kebenaran. Hal ini wajar karena pada hakikatnya manusia ketika tidak berada dalam naungan wahyu maka ia akan merasa tidak tenang dan akan berusaha mencari kebenaran yang hakiki.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani sendiri saat itu juga sedang menanti nanti kedatangan seorang nabi dari kalangan mereka. Karena dalam kitab-kitab samawi sebelumnya juga sudah dikabarkan bahwa akan hadir ke dunia ini setelah Nabi Isa. Bahkan para ahlu kitab mereka sangat mengetahui info detil mengenai ciri-ciri nabi yang akan dilahirkan ke muka bumi ini melebihi pengetahuan mereka terhadap anak-anak mereka sendiri. Hanya saja pada akhirnya mereka kufur karena ternyata nabi terakhir yang diturunkan tidak lahir dari anak keturunan mereka.
Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, “Aku ini adalah doanya Nabi Ibrahim dan berita gembira Nabi Isa”. Bahkan para nabi-nabi sebelumnya sudah mengabarkan kepada umatnya bahwa akan hadir nabi yang menjadi pembenar atas ajarannya hingga para nabi mengambil sumpah umatnya seandainya mereka masih hidup di zaman itu maka mereka harus beriman dan menolong Nabi Muhammad.
Hal ini artinya bahwa sebelum Nabi Muhammad lahir, jauh sebelumnya beliau sudah ditetapkan sebagai nabi. Kapan sebenarnya penetapan tersebut? Maka untuk menjawab hal ini, kita bisa merujuk pada hadits Nabi ketika beliau ditanya oleh para sahabat, “Kapan Anda ditetapkan sebagai Nabi?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Aku ditetapkan sebagai Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan jasad.” Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa penetapan Nabi Muhammad sebagai Nabi bukan hanya ketika nabi berusia 40 tahun tapi jauh sekali sebelumnya sudah ditetapkan sebagai nabi. Dan nabi-nabi sebelum beliau dilahirkan sudah mengetahui hal tersebut.
Hanya saja pertama sekali wahyu diturunkan ketika beliau berusia 40 tahun 6 bulan 12 hari pada hari senin tanggal 12 Ramadhan. Hal ini berdasarkan perhitungan Hijriyah. Sedangkan berdasarkan kalender Masehi, awal mula wahyu saat Rasulullah berusia 39 tahun 3 bulan 22 hari. Sekitar enam bulan sebelum awal wahyu diturunkan terjadi banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa Rasulullah di antaranya ketika batu mengucapkan salam kepada beliau, dan adanya mimpi-mimpi yang nyata. Dan sejak berusia 39 tahun, Rasulullah sudah gemar bertahannuts. Wahyu yang pertama diberikan melalui perantara malaikat Jibril a.s adalah surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5 ketika Rasul sedang bertahannuts di Gua Hira’.
Awal mula wahyu diturunkan, Rasulullah benar-benar dalam kondisi yang amat sangat takut, sehingga mereka pulang ke rumah dan melaporkan kepada istrinya, Khadaijah r.a. dan meminta untuk diselimuti. Khadijah r.a. kemudian menyelimutinya dan menenangkannya serta mencari solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh Rasulullah. Khadijah r.a. kemudian berangkat bersama Nabi menuju pamannya yang bernama Waraqah bi Naufal. Beliau adalah seorang penganut Nasrani yang sudah tua renta dan buta. Waraqah bin Naufal menjelaskan perihal yang dialami oleh Rasulullah dengan mengatakan, “Itu adalah makhluk kepercayaan Allah (Jibril) yang telah Allah utus kepada Nabi Musa a.s.   Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!” Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku”? Waraqah menjawab, “Ya, tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa ini melainkan akan dimusuhi.”
Setelah itu terjadi kevakuman wahyu selama beberapa hari namun Rasulullah sangat menanti turunnya wahyu kembali. Hingga akhirnya malaikat Jibril hadir kembali membawa wahyu yang kedua yaitu surat Al-Muddatstsir ayat 1 sampai dengan 5. Sejak itu Rasulullah melakukan dakwah kepada orang-orang terdekatnya baik keluarga maupun sahabat karib beliau yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi (Dakwah Sirriyah). Dakwah dengan metode ini dilakukan selam 3 tahun sampai Rasulullah berusia 43 tahun. Pada fase ini Rasulullah tidak mendapatkan cobaan yang banyak karena masih bersifat rahasia meski ada penolakan dari beberapa orang.
Karena kedekatan itu banyak di antara mereka yang mau menerima dakwah Rasulullah yang dalam sejarah Islam disebutkan sebagai As-Sabiqunal Awwalun (orang orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam). Mereka adalah istri Nabi, Khadijah, kemudian Zaid Bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar bin Shiddiq, dan lain-lain. Kemudian mereka melakukan dakwah secara giat kepada orang-orang yang mereka kenal dekat. Di Fase ini sekitar 40 orang yang masuk Islam yang termasuk sebagai  As-Sabiqunal Awwalun yang terdiri dari semua marga Quraisy yang ada. Mereka semua masuk secara sembunyi-sembunyi.

Di antara perintah yang turun pada fase ini adalah perintah shalat lima waktu. Wahyu yang turun pun sudah turun berkesinambungan setelah turunnya surat Al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan penggalan-penggalan surat yang turun adalah ayat-ayat pendek yang berakhiran pendek dan kokoh, berintonasi menyejukkan, dan memikat, tertata bersama suasana yang begitu lembut dan halus. Hal ini berlaku selama 3 tahun hingga akhirnya turun perintah dari Allah untuk melakukan dakwah secara jahriyah (terang-terangan). 
Share:

Siroh Nabi (2): Masa Sebelum Kenabian

Review Sesi II Akademi Siroh (Sabtu, 23 Januari 2016)
Masa Sebelum Kenabian bersama Ust Rofiq Hidayah, Lc
Oleh: Syah Azis Perangin Angin
Kuttab Al-Fatih Semarang

Dalam membahas masa sebelum kenabian maka sebelumnya harus diketahui dulu masa kenabian. Di mana masa kenabian dimulai sejak Rasulullah menerima wahyu yaitu pada saat beliau berusia 40 tahun. Jadi kehidupan Rasulullah sejak lahir sampai diutus menjadi rasul disebut masa sebelum kenabian yang mana dalam kajian siroh (sejarah kehidupan Rasulullah) disebut sebagai "qabla bi'tsah". Dalam kajian ini maka pembahasan yang sering dikaji adalah skenario apa yang dibuat oleh Allah mempersiapkan Muhammad SAW menjadi seorang Nabi dan Rasul.
Kelahiran Nabi Muhammad adalah jawaban dari Doa Nabi Ibrohim a.s. dan kabar gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa a.s. Karena itu, ahlu kitab dari orang-orang Yahudi dan Nasrani menunggu-nunggu kelahiran Nabi Muammad. Bahkan mereka sangat paham tentang info yang detil tentang kelahiran nabi.
Nabi Muhammad adalah orang yang memiliki garis keturunan yang baik dari keturunan suku Quraisy. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim pada hari Senin 9 Rabi'ul Awwal tahun gajah bertepatan dengan tahun 571 M. Kebiasaan bangsa Arab ketika ada bayi yang lahir maka akan disusukan ke luar kota dengan tujuan menjauhkan dari penyakit, mengokohkan fisik, dan agar mampu berbahasa dengan fasih. Orang Yang pertama menyusui beliau adalah Tsuaibah, kemudian disusui oleh Halimah di perkampungan Bani Sa'at selama 2 tahun.
Setelah 2 tahun Halimah meminta agar tetap bersama Rasul karena melihat keberkahan darinya. Sampai pada peristiwa pembelahan dada yang pertama, Halimah takut dan mengembalikan beliau kepada Aminah khawatir terjadi sesuatu padanya. Akhirnya Rasulullah diasuh oleh Aminah sampai beliau wafat di saat Rasulullah masih berusia 6 tahun. Sebelum wafat, Aminah sempat membawa Muhammad berziarah ke makam ayahnya dan memperkenalkannya dengan kerabat Ibunya dari bani Najjar yang berada di Madinah dan sempat tinggal di sana selama 1 bulan.
Setelah ibunda Aminah meninggal, Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib selama dua tahun sampai Rasulullah berusia 8 tahun 2 bulan 10 hari.  Sebelum meninggal, sang kakek telah mewasiatkan agar Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib dan di usia yang masih 8 tahun, Nabi sudah bekerja mengembala kambing.
Di usia 12 tahun diajak berdagang ke Syam oleh pamannya, namun akhirnya pulang kembali ke Makkah setelah sampai di Bushra dan bertemu dengan pendeta Bahira. Khawatir kalau orang-orang romawi akan membunuhnya. Di Usia tersebut, Rasulullah juga telah membantu pamannya terlibat di perang Fijar ke-4 walaupun sekedar mengumpulkan anak panah. Di usia tersebut Rasulullah juga telah menyaksikan Hilful Fudhul (persekutuan kebijakan) orang-orang Quraish untuk membela orang yang dizalimi.
Rasulullah di usia yang ke 25 tahun berdagang ke Syam dengan menjualkan barang milik Khadijah binti Khuwailid. Dua bulan setelah perdagangan, Rasulullah menikahi Khadijah dan Khadijah saat itu berusia 40 tahun. Di usia 35 tahun, Rasul ikut memperbaiki ka'bah yang Rusak. Saat itu terjadi pertikaian di antara suku quraisy siapa yang berhak meletakkan  Hajar Aswad. Dan atas izin Allah Rasulullah bisa melerai pertikaian itu dan meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya dengan tangan beliau sendiri.
Di usia yang ke 38 tanda-tanda kenabian semakin berdatangan sehingga Muhammad menjadi buah bibir masyarakat terutama dari kalangan pendeta dan para dukun. Karena sudah jenuh dengan kondisi yang ada, Rasulullah mulai gemar bertahannuts di gua Hira’ untuk mendekatkan diri Kepada Allah. Dan enam bulan sebelum berusia 40 tahun, Rasulullah dikaruniai mimpi yang benar-benar terjadi di siang hari. Hal ini merupakan  saat-saat menjelang turunnya wahyu yang pertama.

Sungguh rangkaian kehidupan tersebut tidaklah terjadi begitu saja, melainkan Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Tahapan demi tahapan sungguh memiliki hikmah yang besar yang pada akhirnya mampu mengantarkan Muhammad menjadi seorang Nabi. Ambillah contoh sederhana seperti nabi telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Tentu ini bertujuan untuk mengokohkan mental Rasul agar tidak mudah mengeluh. Contoh lain, bahwa sejak kecil Rasul telah menggembala kambing, dan tidak ada Nabi yang tidak menggembala kambing. Sehingga menggembala kambing itu bisa mengantarkan nabi menjadi pemimpin yang besar. Hingga tiba saatnya di usia 40 tahun, Muhammad diberi wahyu berupa Al-Qur'an untuk disampaikan kepada seluruh manusia.
Share:

Siroh Nabi (1): Permasalahan Jahiliyah

Review Sesi I Akademi Siroh (Sabtu, 23 Januari 2016)
Permasalahan Jahiliyah bersama Ust Asep Sobari, Lc.
Oleh: Syah Azis Perangin Angin
Kuttab Al-Fatih Semarang

Jika kita mengkaji tentang siroh nabi (sejarah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam), maka kita kajian tentang Jahiliyah haruslah dipahami terlebih dengan baik. Kehadiran Nabi Muhammad sangatlah berkaitan dengan masa sebelumnya. Di mana kelahiran nabi muhammad bisa dikatakan sebagai akibat dari keadaan sebelumnya. Yang mana keadaan sebelumnya adalah merupakan masa Jahiliyah.
Jahiliyah itu bukanlah sepenuhnya berkaitan dengan sesuatu yang primitif sebagaimana yang mungkin kita pahami selama ini. Karena contoh-contoh yang biasanya dihadirkan tentang jahiliyah adalah bentuk-bentuk perlakuan yang tidak manusiawi seperti pembunuhan, minum minuman keras, perbudakan, perzinaan, dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk tersebut hanyalah berupa sifat, tapi esensi dari jahiliyah itu sendiri bukanlah itu. Contoh-contoh tersebut pun hari ini masih bisa kita lihat di masyarakat bahkan bisa jadi lebih parah. Lantas, apakah hari ini bisa dikatakan masa jahiliyah? Bahkan ada yang mengistilahkan dengan "jahiliyah modern".
Dalam terminologi agama Islam, kata "jahil" memiliki lawan kata "alim" di mana kata "alim" yang berarti memiliki ilmu. Di mana ilmu itu mutlak berasal dari Allah dan menghasilkan keyakinan dan orang yang berilmu itu akan memiliki rasa takut kepada Allah. Sedangkan "Jahil" adalah lawan dari kata 'Alim". Sehingga dengan mudah dapat disimpulkan dengan pemahaman kebalikannya bahwa jahil itu tidak memiliki ilmu yang bersumber dari Allah yang dapat menghasilkan keyakinan sehingga orang yang jahil itu tidak akan memiliki rasa takut kepada Allah.
Allah menjelaskan ilmu melalui Al-Qur'an dan hadits Rasulullah, sehingga bisa dipahami bahwa masa jahiliyah itu masa sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul dan Al-Qur'an diwahyukan. Di mana saat itu tatanan kehidupan sudah  tidak berlandaskan pada wahyu Allah. Ajaran yang diturunkan oleh Allah kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad hampir punah dan sangat sulit untuk ditemukan. Yang tertinggal hanya nama dan sangat banyak isi ajaran yang telah diselewengkan.
Jahil di sini bukanlah tidak berpengetahuan (ma'rifat). Bisa jadi orang yang jahil ini memiliki pengetahuan bahkan lebih tinggi dari pengetahuan kita hari ini, tapi pengetahuannya itu tidak sampai pada derajat ilmu. Sehingga pengetahuannya tidak melahirkan keyakinan dan tidak menjadikan takut kepada Allah.
Lihatlah bangsa Arab ketika Al-Qur'an diturunkan. Mereka memiliki pengetahuan yang hebat terutama dalam hal perniagaan dan politik. Bangsa Arab mampu melakukan perniagaan dengan memanfaatkan posisi mereka yang berada di antara dua peradaban besar yaitu Persia dan Romawi dengan tidak memihak salah satu pihak (politik non blok).
Al-Qur'an diturunkan dan Muhammad diangkat menjadi Rasul adalah merupakan respon terhadap kejahiliahan yang ada. Di mana kejahiliyahan tidak hanya terjadi di Arab, tetapi juga di luar Arab. Yang dekat dengan Arab adalah dua imperium besar yaitu Romawi dan Persia. Mereka adalah bangsa yang besar dan maju ketika itu, juga memiliki pengetahuan yang luas. Tetapi pengetahuan mereka tidak sampai pada derajat ilmu karena tidak menjadikan wahyu sebagai asas tatanan kehidupan.

Oleh karena itu, kita yang hidup sekarang ini jika tidak ingin kembali pada masa jahiliyah maka hendaklah menjadikan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits sebagai pijakan dalam kehidupan baik secara pribadi maupun sosial berbangsa dan bernegara.
Share:

Menghadirkan Hati

Dalam melakukan / memutuskan sesuatu, selain menggunakan AKAL untuk menentukan BENAR atau SALAH, maka perlu juga menggunakan HATI untuk menentukan BAIK atau BURUK tentunya setelah menggunakan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman utama. Bukankah sahabat Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang KEBAIKAN?” Wabishah menjawab: "benar". Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada HATIMU. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al Baihaqi) ‪#‎ManajemenRasa‬‪#‎InspirAzis‬.
Share: