Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Qowamahmu, Ketaatanku

Qowamahmu, Ketaatanku
Oleh: Poppy Yuditya


Alhamdulillah,
Izinkan kumulai tulisan ini dengan rasa syukur atas hadirmu dalam kehidupanku.

Terimakasih,
Telah memilihku di antara milyaran wanita di muka bumi.
Terimakasih,
Telah menyediakan mahar terbaik bukti keseriusanmu menafkahiku setelah ijab qabulmu dengan ayahku.
Terimakasih,
Telah berani mengambil tanggung jawab dunia akhirat ku dari Ayah yang mendidik dan membesarkanku.

Dengan lantang dan penuh tanggung jawab engkau berjanji di hadapan ayah dan para saksi:

“Aku terima nikah dan kawinnya…”

Ah, Masya Allah…

Begitulah beban itu terangkat dari ayahku kepadamu,
Dan kau dengan berani mengambil tanggung jawab dunia akhirat atasku,
Sungguh, terimakasihku tak terhingga untukmu…

Untuk tanggungjawabmu yang luar biasa atasku,
Izinkan kupersembahkan ketaatanku…

Wahai suamiku,
Ini aku istrimu,

Jangan hukumi aku atas apa yang aku tak memiliki ilmu atasnya,
Ajari aku dengan ilmu,
Membedakan yang haq dan yang bathil,
Membimbingku dengan tuntunan syariat,
Menuju jalan lurus yang Allah ridhoi…

Wahai suamiku,
Ini aku istrimu,

Jangan diamkan aku ketika aku salah atau berlebihan dalam bersikap,
Apalah lagi mencap diriku tak mampu berubah…

Percayalah,
Kan ku persembahkan ketaatanku,
Dengan kesabaranmu membimbingku,
Bukankah aku dari tulang rusukmu yang bengkok?

Wahai suamiku,
Ini aku istrimu,

Berlembutlah pada gelas kaca itu,
Itu pesan Nabi-mu,
Dan aku merasakannya dalam setiap tutur lembut nasihatmu…

Wahai suamiku,
Ini aku istrimu,

Izinkanku menjadi setenang malam bagimu,
Karena ku yakin kau takkan biarkanku dalam resah…

Kau qowwam-ku,
Kau selalu mampu berusaha mencari solusi atas semua ujian hidup atas izin Rabb-mu,
Dan tak kau izinkan aku merasa gelisah sedikitpun…
“Ini tanggung jawabku, tak perlu kau resah…”, itu ujarmu selalu.

Ah, rupanya inilah indahnya Syariat ini mengatur…

Qowwamahmu,
Tanggung jawabmu padaku dan Rabb-ku dunia akhirat…

Ketaatanku,
Tanggungjawabku padamu dan Rabb-ku dunia akhirat…

Sumber: http://www.parentingnabawiyyah.com/2019/09/26/qowwamahmu-ketaatanku/
Share:

Tadabbur Al-Qur’an

Alhamdulillah, demikianlah lisan kita memuji Allah yang telah memudahkan kita berjumpa dengan bulan yang mulia dan penuh barakah. Tak terasa bulan puasa (shiyaam) sedang kita jalani dengan ketaatan kepada Allah. Bulan Ramadhan juga bulan diturunkannya al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah (yang artinya) :

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah/2: 185)

Juga firman-Nya (yang artinya) :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. al-Qadar/97 :1)

Sehingga pantaslah bila disebut sebagai bulan al-Qur’an.

Tidak diragukan lagi al-Qur`an adalah cahaya petunjuk dan ruh kehidupan seorang muslim. Orang yang tidak membaca al-Qur`an dan mengamalkannya maka ia telah menjadi mayat sebelum wafatnya. Mati walaupun masih berbicara, beraktifitas dan bepergian. Allah berfirman (yang artinya) :

“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-An’am/6:122)

Bagaimana tidak demikian, seorang mukmin memandang kehidupannya tanpa al-Qur`an seperti kehidupan tanpa air dan udara.

Al-Qur`an obat bagi tubuh dan jiwa seorang mukmin

Seorang muslim yang membaca al-Qur`an dengan benar akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman memenuhi hati dan seluruh anggota tubuhnya. Kemudian jiwanya siap menghadapi semua peristiwa dan kejadian yang menimpanya sambil mengucapkan firman Allah (yang artinya) :

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. At-Taubah/9:51)

Dengan itu jiwa dapat menghadapi dan menghilangkan was-was dan semua perasaan yang menghantuinya . Memang tidak dapat dipungkiri manusia lebih banyak dihantui was-was dan perasaannya yang belum pasti terjadi. Mereka takut bila berbuat kebaikan akan menimpanya musibah ini dan itu, padahal itu hanyalah perasaan dan was-was yang ditembakkan syeitan kehati manusia. Dalam hal ini al-Qur`an menjadi obat penawar dari hal-hal ini. Lihatlah firman Allah (yang artinya) :

“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman“. (QS Al Imran/3: 173-175)

Kita dan al-Qur`an

Sudah demikian jelasnya kedudukan al-Qur`an namun masih banyak dari kita yang meninggalkannya. Tidak pernah membacanya apalagi merenungkan dan men-taddabburi-nya.

Fenomena ini muncul didalam kehidupan kaum muslimin umumnya, kecuali dibulan Ramadhan. Kita lihat banyak kaum muslimin yang mengkhatamkan al-Qur`an dibulan ini. Ini satu hal yang membanggakan namun sayang hanya sekedar meng-khatam-kannya saja tanpa ada perubahan dalam dirinya. Tidak ada bedanya sebelum dan sesudah menkhatamkannya dan tidak faham sedikitpun apa yang dibacanya.

Tadabbur al-Qur`an

Sebenarnya tidak ada yang lebih bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat seorang hamba dan lebih mendekatkannya kepada kebahagian dan keselamatan dari tadabbur al-Qur`an dan merenungkan isi kandungannya. Seorang yang membaca al-Qur`an dengan tadabbur akan melihat kebaikan dan keburukan serta nasib para pelakunya:
Ia melihat tenggelamnya kaum nabi Nuh
Ia mengetahui sambaran halilintar terhadap kaum ‘Ad dan Tsamud
Ia mengerti tenggelamnya Fir’aun dan terpendamnya Qarun dan hartanya.

Dengan tadabbur al-Qur`an inilah seorang muslim hidup bersama akherat seakan-akan ia berada disana dan hilang darinya dunia hingga seakan-akan ia telahkeluar meninggalkannya. Hingga akhirnya mendapatkan hati seperti dijelaskan dalam firman Allah (yang artinya) :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS Al-Anfaal/8: 2)

Marilah kita dekatkan diri kita kepada al-Qur`an dengan membacanya dan mentadabburinya, semoga dibulan Ramadhan bulan Al-Qur`an ini kita dapat menggapainya.

Wabillahit taufiq



Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/9658-ramadhan-bulan-al-quran.html


Share:

Ketika Guru Lebih “Ditakuti” Daripada Orang Tua

Dalam dunia pendidikan bangsa Indonesia ini, masih ada banyak hal yang masih menjadi problem. Di antaranya adalah hubungan antara murid, guru, dan orang tua. Seyogyanya orang tua haruslah lebih “ditakuti” daripada guru mereka. Sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit mengenai istilah “ditakuti” yang saya maksudkan dalam tulisan ini. Karena istilah tersebut bisa bermakna negatif dan juga bisa bermakna positif.

Istilah “ditakuti” bermakna negatif ketika ditakuti tersebut dipahami sebagai ekspresi ketakutan seorang murid terhadap guru seperti bayangan bahwa guru tersebut adalah jelmaan monster. Atau kalau dalam dunia perkuliahan kita sering sebut dengan istilah dosen “killer”. Sehingga para murid akan merasa sungkan untuk berinteraksi dengan guru yang dipandang “bengis” tersebut. Di sisi lain, istilah “ditakuti” ini bisa juga menunjukkan sesuatu yang positif yang menunjukkan kewibawaan yang tinggi dari seorang guru. Dengan kata lain bentuk “ditakuti” tersebut adalah bentuk penghormatan seorang murid kepada gurunya. Hal ini akan membawa para murid menjadi takut untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh guru dan selalu berupaya melakukan hal yang disenangi guru. Dengan demikian takutnya seorang murid terhadap gurunya adalah sesuatu yang baik sebagaimana takutnya seorang hamba terhadap rabb-nya.

Hanya saja problem sosial pendidikan kita hari ini maslah rasa takut ini, murid acap kali lebih takut kepada gurunya daripada kepada orang tuanya. Seorang murid lebih patuh kepada gurunya daripada kepada orang tuanya, lebih khawatir dimarahi gurunya daripada orang tuanya. Padahal kalau mau dilihat dari urutan kepatuhan seorang anak, harusnya anak lebih takut kepada orang tuanya daripada gurunya. Hal ini karena orang tua mempunyai jasa dan peran yang lebih besar dalam membentuk kepribadian anak bahkan dalam mendidik anak. Apalagi nanti di akhirat, orang tualah yang lebih banyak dimintai pertanggungjawaban dari pada gurunya.

Kenapa hal semcam ini bisa terjadi, kasus di mana guru lebih “ditakuti” daripada orang tua. Masalah ketika kepatuhan anak lebih tinggi kepada gurunya daripada kepada orang tuanya bahkan penghormatan seorang anak kepada guru terkadang lebih tinggi daripada kepada orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan mereka. Ketika guru meminta sesuatu kepada murid, murid lebih bergegas daripada ketika diminta oleh orang tuanya. Terkadang anak juga bisa lebih berani kepada orang tuanya kepada guru. Kalau kasus seperti ini sudah terjadi pada diri seorang murid maka perlu mendapat perhatian khusus untuk dicari solusinya sehingga kepatuhan kepada orang tua harusnya lebih tinggi daripada kepada guru.

Masalah yang utama adalah karena hilangnya peran keluarga sebagai institusi utama dalam proses pendidikan anak. Pembentukan karakter anak hari ini lebih menitikberatkan pada peran sekolah atau lembaga di mana anak menuntut ilmu. Orang tua lebih memfokuskan diri untuk mencari sekolah yang baik buat buah hatinya serta hanya memfokuskan untuk mencari biaya agar bisa sekolah di tempat yang terkenal dan favorit. Orang tua seakan-akan tidak terpikir untuk terlibat langsung dalam mendidik anak. Mereka hanya meyakini bahwa ketika sekolah tempat anak belajar baik, maka baik juga pendidikan anaknya. Dan orang tua hari ini banyak meyakini bahwa ketika lulus dari sekolah tersebut, lulus juga pembentukan karakter anaknya menjadi pribadi yang mulia.

Padahal sekolah harusnya hanya membantu orang tua mendidik putra-putrinya dalam belajar. Artinya bahwa keluargalah atau orang tua khususnya yang memiliki peran utama dalam membentuk kepribadian anak sehingga menjadi lebih baik. Ketika peran orang tua atau keluarga hilang atau berkurang perannya maka bisa jadi itu juga yang membentuk anak menjadi pribadi yang berkurang rasa takutnya dan penghormatannya kepada orang tua dibandingkan kepada guru karena gurulah yang sehari-hari bersama anak dalam pertumbuhannya sehingga menjadi lebih dewasa.

Hal yang lain yang perlu diwaspadai adalah orientasi pendidikan hari ini. Tidak sedikit rasanya sekolah atau lembaga pendidikan hari ini yang hanya berorientasi pada nilai atau prestasi akademik. Anak akan dianggap berprestasi kalau pencapaian nilainya tinggi-tinggi untuk setiap mata pelajaran atau juara dalam kelasnya. Ketika anak juga orientasi pendidikannya bertumpu pada nilai-nilai kognitif, maka yang dikejar juga hanya angka-angka. Murid pastinya akan berusaha memiliki nilai yang tinggi agar disayang oleh gurunya, sedangkan mereka yang memiliki nilai rendah akan merasa malu dan takut kepada guru dibandingkan dengan orang tuanya. Dengan orang tuanya bisa saja hanya biasa-biasa saja.

Kedua hal tersebut rasanya perlu juga untuk menjadi perhatian bagi para guru, orang tua serta sekolah atau lembaga pendidikan, walaupun barangkali ada faktor-faktor yang lain yang juga berpengaruh. Ketika peran orang tua sebagai institusi pendidikan yang utama diambil oleh sekolah maka hal tersebut bisa jadi akan melahirkan generasi-generasi yang lebih “takut” kepada gurunya daripada kepada orang tuanya. Bahkan anak bisa jadi akan lebih patuh kepada guru daripada kepada orang tuanya. Begitu pun dengan sekolah yang hanya berorientasi kepada nilai-nilai dan prestasi akademik. Sekolah yang seperti itu tidak akan mengambil nilai akademik seorang anak dari besarnya kepatuhan anak kepada orang dan keluarganya. (Nangin Azis Syah)
Share:

Adab-Adab Dalam Berdo’a

ADAB-ADAB DALAM BERDO’A

Oleh
Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani

1. Mengucapkan pujian kepada Allah terlebih dahulu sebelum berdo’a dan diakhiri dengan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hal itu karena engkau memohon kepada Allah suatu pemberian rahmat dan ampunan, maka pertama kali yang harus dilakukan olehmu adalah memberikan sanjungan dan pengagungan sesuai dengan kedudukan Allah Yang Mahasuci.

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: بَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدًا إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ: اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ، فَقَالَ رَسُوْلَُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّيْ إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِاللهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ.

Dari Fadhalah bin ‘Ubad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan shalat dan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang tengah berdo’a. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdo’a, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo’alah.’ Kemudian datang orang lain, setelah melakukan shalat dia berdo’a dengan terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Wahai orang yang tengah berdo’a, berdo’alah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan do’amu.’”[1]

2. Husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a.” [Al-Baqarah/2: 186]

Allah dekat dengan kita dan Allah bersama kita dengan ilmu-Nya (pengetahuan-Nya), pengawasan-Nya dan penjagaan-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meme-rintahkan kepada kita untuk menyerahkan masalah pengabulan do’a hanya kepada Allah dan harus me-rasa yakin dengan terkabulnya do’a.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ.

“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a.”[2]

Maksud hadits ini adalah kalian harus merasa yakin dan percaya bahwa Allah dengan kemurahan-Nya dan karunia-Nya yang agung tidak akan mengecewakan seseorang yang berdo’a kepada-Nya, apabila dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan ikhlas yang sebenar-benarnya. Hal ini disebabkan apabila seseorang yang berdo’a tidak percaya dan yakin akan terkabulnya do’a yang ia panjatkan, maka tidaklah mungkin ia memanjatkan do’anya dengan bersungguh-sungguh.

3. Mengakui dosa-dosa yang diperbuat. Perbuatan tersebut mencerminkan sempurnanya penghambaan terhadap Allah

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الْعَبْدِ إِذَا قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ إِنِّيْ قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، قَالَ: عَبْدِيْ عَرَفَ أَنَّ لَهُ رَباًّ يَغْفِرُ وَ يُعَاقِبُ.

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum.’”[3]

4. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلاَيَقُوْلَنَّ اللّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ.

‘Apabila salah seorang di antara kalian berdo’a maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permohonannya kepada Allah dan janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, apabila Engkau sudi, maka kabulkanlah do’aku ini,’ karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.”[4]

Maksud dari bersungguh-sungguh dalam berdo’a adalah terus-menerus dalam meminta dan memohon kepada Allah dengan mendesak.

5. Mendesak terus-menerus dalam berdo’a
Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata,

سُرِقَتْ مِلْحَفَةٌ لَهَا، فَجَعَلَتْ تَدْعُوْ عَلَى مَنْ سَرَقَهَا فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ تُسَبِّخِيْ عَنْهُ.

“Mantel kepunyaannya telah dicuri, kemudian ia mendo’akan kejelekan kepada orang yang mencurinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Jangan engkau meringankannya.’”[5]

Maksudnya janganlah engkau meringankan dosa perilaku mencurinya dengan do’amu untuk kejelekannya.

6. Berdo’a dengan mengulanginya sebanyak tiga kali
Telah diriwayatkan dengan shahih dalam as-Sunnah, sebagaimana hadits riwayat Muslim yang panjang dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata,

فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ رَفَعَ صَوْتَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهِمْ وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلاَثاً وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلاَثاً ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ، اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ، اللّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ.

‘Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, beliau mengeraskan suaranya, kemudian mendo’akan kejelekan bagi mereka dan apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, beliau ulang sebanyak tiga kali dan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon, diulanginya sebanyak tiga kali kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: ‘Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy.’”[6]

7. Berdo’a dengan lafazh yang singkat dan padat namun maknanya luas
Yaitu dengan perkataan ringkas dan bermanfaat yang menunjukkan pada makna yang luas dengan lafazh yang pendek dan sampai kepada maksud yang diminta dengan menggunakan susunan kata yang paling sederhana (tidak bersajak-sajak) sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Sunan Abi Dawud dan Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdo’a dengan do’a-do’a yang singkat dan padat namun makna-nya luas dan tidak berdo’a dengan yang selain itu.”[7]

Salah satu contoh dari do’a ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Farwah bin Naufal, ia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengucapkan do’a:

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku kerjakan dan dari keburukan yang belum aku kerjakan.”[8]

Sedangkan contoh yang lain adalah hadits Abu Musa al-Asy’ari, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau senantiasa berdo’a dengan do’a berikut:

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِي وَجَهْلِيْ وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، الَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جِدِّيْ وَهَزْلِيْ وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِيْ، الَلّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, serta sikap berlebihanku dalam urusanku dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas keseriusanku dan candaku, kekeliruanku dan kesengajaanku, semua itu ada pada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas apa-apa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa-apa yang aku sembunyi-kan dan yang aku tampakkan, serta apa-apa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku, Engkaulah Yang Mahamendahulukan (hamba kepada rahmat-Mu) dan Yang Mahamengakhirkan, Engkaulah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”[9]

8. Orang yang berdo’a hendaknya memulai dengan mendo’akan diri sendiri (jika hendak mendo’akan orang lain)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“…Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” [Al-Hasyr/59: 10]

Firman-Nya yang lain:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ

“Musa berdo’a: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau…’” [Al-A’raaf/7: 151]

Firman-Nya yang lain:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Rabb-ku, berikanlah ampun kepadaku dan kedua ayah ibuku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” [Ibrahim/14: 41]

Dari Ibnu ‘Abbas dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ.

“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingat kepada seseorang, maka beliau mendo’akannya dan sebelumnya beliau mendahulukan berdo’a untuk dirinya sendiri.”[10]

Namun hal tersebut bukan merupakan kebiasaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkadang memang benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang lain tanpa mendo’akan dirinya sendiri sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah Hajar:

يَرْحَمُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ تَرَكَتْهَا لَكَانَتْ عَيْناً مَعِيْناً.

“Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ibu Nabi Isma’il, seandainya beliau membiarkan air Zamzam (mengalir bebas) niscaya ia menjadi mata air yang terus mengalir.”[11]

9. Memilih berdo’a di waktu yang mustajab (waktu yang pasti dikabulkan), di antaranya adalah:
a. Pada waktu tengah malam[12]
b. Di antara adzan dan iqamah[13]
c. Di saat dalam sujud[14]
d. Ketika adzan
e. Ketika sedang berkecamuk peperangan[15]
f. Setelah waktu ‘Ashar pada hari Jum’at[16]
g. Ketika hari ‘Arafah[17]
h. Ketika turun hujan[18]
i. Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar). (Lihat ad-Du’a, karya ‘Abdullah al-Khudhari).[19]

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3476) dan Abu Dawud (no. 1481). Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3988).
[2]. Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3479). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 594).
[3]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Hakim (II/98-99) dari Sahabat ‘Ali bin Rabi’ah. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1653), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
[4]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6338) dan Muslim (no. 2678). Lafazh hadits ini berdasarkan riwayat al-Bukhari.
[5]. Dha’if: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1497). Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani t dalam Dha’iif Sunan Abi Dawud (no. 1050).
[6]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 240) dan Muslim (no. 1794 (107)).
[7]. Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1482), Ahmad (VI/148, 189) dan al-Hakim (I/539). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4949).
[8]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2716).
[9]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6399) dan Muslim (no. 2719 (70)).
[10]. Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3385) dan Abu Dawud (no. 3984). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4723).
[11]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (V/ 121, no. 21163). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1669).
[12]. Dalilnya firman Allah Ta’ala:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzaaariyat/51: 18]

Hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ يَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ،
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita (Allah) تَبَارَكَ وَتَعَالَى turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman; ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini, niscaya Aku akan memperkenankannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’” [HR. Al-Bukhari no. 1145, Muslim no. 758 dan at-Tirmidzi no. 3498]

[13]. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ فَادْعُوْا.

“Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdo’alah.” [HR. Abu Dawud no. 521, at-Tirmidzi no. 212, Ahmad III/155 dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jaami’ no. 3408).

[14]. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أََقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.

“Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud (kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah do’a (dalam sujud kalian).” [HR. Muslim no. 482, Abu Dawud no. 875 dan an-Nasa-i II/226 no. 1137]

[15]. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّماَ تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضاً.

“Dua waktu yang tidak akan ditolak (permohonan yang dipanjatkan di dalamnya, atau sedikit kemungkinan untuk ditolak, yaitu do’a setelah (dikumandangkan) adzan dan do’a ketika berkecamuk peperangan, tatkala satu dan lainnya saling menyerang.” [HR. Abu Dawud no. 2540, ad-Darimi no. 1200, Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jami’ no. 3079].

[16]. Setelah ‘Ashar pada hari Jum’at, dalilnya:

فِيهِ سَاعَةٌ لاَيُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ تَعاَلَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.

“Pada hari itu (hari Jum’at) terdapat waktu-waktu tertentu, tidaklah seorang hamba berdiri melaksanakan shalat dan berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya (yang menggambaran) waktu itu pendek.” [HR. Al-Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852 (13)]

Waktu itu adalah saat setelah shalat ‘Ashar sebagaimana yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad (I/390).

[17]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ…

“Sebaik-baik do’a ialah do’a hari Arafah…” [HR. At-Tirmidzi no. 3585, Malik dalam al-Muwaththa’ no. 500, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam Shahiihul Jami’ no. 3274 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1503]

[18]. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ.

“Dua waktu yang padanya sebuah permohonan (do’a) tidak akan ditolak oleh Allah, do’a ketika setelah dikumandangkan adzan dan do’a ketika turun hujan.” [HR. Al-Hakim II/114, Abu Dawud no. 3540. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ no. 3078]

[19]. 10 hari terakhir bulan Ramadhan (di dalamnya terdapat Lailatul Qadar). Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang sebaiknya aku baca pada Lailatul Qadar?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bacalah:

اَللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf dan mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah aku.’” [HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 4423].

Read more https://almanhaj.or.id/4003-adab-adab-dalam-berdoa.html
Share:

Empat Sumber Hukum Fikih Islam

Penulis: Annisa Nurul Hasanah,
sumber: https://bincangsyariah.com/khazanah/empat-sumber-hukum-fikih-islam/

Hukum fikih Islam merupakan hukum-hukum syariat yang Allah menuntut hamba-hambaNya untuk melaksanakannya. Hukum-hukum tersebut bersumber pada empat hal, yakni Alquran, sunah, ijma’ dan qiyas.

Pertama, Alquran. Alquran adalah firman Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang tertulis dalam lembaran-lembaran. Alquran merupakan sumber utama untuk hukum fikih Islam. Oleh karena itu, maka kita harus merujuk kepada Alquran jika terdapat suatu masalah apapun itu. Jika kita temukan di dalamnya, maka kita ambil dan jika kita belum menemukannya, maka kita ambil dari sumber-sumber yang lainnya.

Misalnya kita mencari hukum khamr/arak. Maka kita mencari di dalam Alquran. Dan ternyata kita menemukan firman Allah Swt.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. Al-Maidah/5: 90)

Berdasarkan ayat tersebut, maka khamr adalah termasuk benda yang terlarang dalam bingkai Islam.

Meskipun Alquran adalah sumber pertama dalam menetapkan hukum fikih Islam. Tetapi di dalam ayat-ayat Alquran tidak seluruhnya menunjukkan permasalahan yang rinci, dan tidak menjelaskan semua hukum.

Teks ayat-ayat Alquran memang menjelaskan secara rinci masalah akidah. Tetapi dalam masalah ibadah, muamalah dan gambaran langkah-langkah menjalani hidup bagi umat muslim hanya diterangkan secara global saja. Namun, hal itu dijelaskan secara rinci di dalam sunah Nabi saw.

Misalnya perintah tentang salat ada di dalam Alquran. Tetapi tidak dijelaskan tata cara melaksanakan Alquran, jumlah rakaatnya dan lain sebagainya. Namun hal tersebut dijelaskan secara rinci di dalam sunah Nabi saw. Begitu pula dalam masalah zakat dan lain sebagainya.

Kedua, sunah/hadis. Sunah adalah semua ucapan, perbuatan dan ketetapan yang berasal dar Nabi saw. Contoh ucapan/sabda Nabi saw.

عن النبي- صلى الله عليه وسلم – قال: ” سِبَابُ الْمسْلِمِ فُسُوقٌ، وقِتالُهُ كُفْرٌ”. رواه البخاري ومسلم

Dari Nabi saw., beliau bersabda: “Mencela orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun contoh perbuatan Nabi saw. adalah suatu hari Aisyah ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi di rumah. Aisyah r.a. menjawab:

كَانَ يَكونُ في مَهْنَةِ أَهْلَهِ، فَإذا حَضَرَتِ الصَّلاةُ قَامَ إلَيْها. رواه البخاري.

“Nabi saw. selalu mengerjakan pekerjaan keluarganya, lalu ketika datang waktu salat, maka beliau melaksanakannya.” (H.R. Al-Bukhari).

Sementara contoh ketetapan Nabi saw. adalah hadis riwayat Abu Daud sebagaimana berikut.

أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – رأى رجلاً يصلي بعد صلاة الصبح ركعتين، فقال:” صلاة الصبح ركعتان”، فقال الرجل: إني لم أكن صليت الركعتين التي قبلهما فصليتهما الآن، فسكت رسول الله – صلى الله عليه وسلم.

Bahwasannya Nabi saw. melihat ada seorang laki-laki yang salat dua rakaat setelah salat subuh. Lalu Nabi saw. bersabda: “Salat Subuh itu dua rakaat.” Laki-laki tersebut menjawab:“Sungguh saya tadi belum melaksanakan salat qabliyyah (salat sunnah sebelum) Subuh, maka saya laksanakan setelah salat Subuh.” Rasulullah saw. pun diam. Diamnya Nabi saw. tersebut menunjukkan bahwa salat sunah qabliyah itu boleh dilakukan setelah salat fardu bagi yang belum sempat melaksanakannya sebelum salat fardu tersebut.

Kedudukan sunah ini menjadi sumber kedua dalam penetapan hukum Islam. Awalnya kita akan merujuk kepada Alquran. Namun, jika kita tidak menemukan hukum di dalamnya, maka kita merujuk kepada sunah, dengan syarat sunah tersebut dengan sanad yang sahih.

Sementara tugas sunah adalah sebagai penjelas atas apa yang ada di dalam Alquran yang masih bersifat global atau umum. Dengan demikian maka sunah hadir sebagai perinci dari tata cara salat baik dari segi bacaannya maupun gerakannya. Sunah juga hadir sebagai penjelas tata cara haji dan ibadah-ibadah lainnya yang masih global penjelasannya di dalam Alquran. Sunah juga bertugas menjelaskan hukum yang tidak dibicarakan di dalam Alquran. Seperti haramnya memakai cincin emas dan menggunakan sutra bagi laki-laki.

Ketiga, ijma’. Ijma’ adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahid dari umat Nabi saw. di suatu masa atas hukum syariat. Oleh karena itu, kesepakatan mereka baik di masa sahabat atau setelahnya tentang suatu hukum dari hukum-hukum syariat, maka hal itu dinamakan ijma’, dan umat Muslim wajib melaksanakannya. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Basrah Al-Ghifari bahwa Rasulullah saw. bersabda: “

” سَأَلْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يَجْمَعَ أُمَّتي عَلى ضَلالَةٍ فَأَعْطَانيها”.

Aku minta kepada Allah azza wajalla agar umatku tidak bersepakat tentang kesesatan, lalu Allah memberikannya kepadaku tentang hal itu. (H.R. Ahmad).

Contoh ijma adalah kesepakatan para sahabat Nabi saw. tentang seorang kakek itu mendapatkan bagian waris seperenam dari tirkah jika bersama dengan anak laki-laki dan tidak adanya bapak.

Sehingga kedudukan ijma’ itu berada pada posisi ketiga sebagai rujukan atau sumber hukum Islam. Jika kita tidak menemukan hukum di dalam Alquran dan sunah, maka kita melihat, mengambil dan mengamalkan kesepakatan/ijma’ ulama tentang masalah tersebut.

Keempat, qiyas. Qiyas adalah menyamakan suatu hal yang belum ditemukan hukum syariatnya dengan hal lain yang telah ada penjelasan hukumnya karena adanya suatu alasan yang sama antara keduanya. Qiyas merupakan alternatif setelah kita tidak menemukan hukum atas suatu masalah di dalam Alquran, sunah, maupun ijma’.

Adapun rukun atau komponen yang ada di dalam qiyas ada empat. Yakni masalah yang diqiyaskan (far’), masalah yang dijadikan rujukan qiyas (asl), hukum dari asl, dan adanya persamaan sebab (illat) antara far’ dan asl.

Sementara itu, contoh qiyas adalah tentang masalah khamr. Allah Swt. telah tegas mengharamkan khamr di dalam Alquran. Sebab keharamannya adalah karena khamr memabukkan yang dapat menghilangkan kesadaran akal. Oleh karena itu, jika kita menemukan minuman lain meskipun berbeda label atau namanya, yakni tidak disebut khamr, tetapi disebut bir, wiski, narkoba dan lain sebagainya. Maka, jika kita menemukan minuman (dengan nama lain) tersebut memabukkan, maka hukumnya adalah haram, karena diqiyaskan/dianalogkan/disamakan dengan khamr. Hal ini disebabkan adanya unsur keharaman yang sama, yakni memabukkan. Di mana hal itu berada baik di minuman ini maupun di khamr. Wa Allahu A’lam bis Shawab.
Share:

Guru Teladan

Dalam istilah Bahasa Jawa, kata “Guru” sering dijadikan sebagai singkatan dari “digugu lan dituru”. Maksud dari istilah tersebut adalah orang yang dipercaya dan yang diikuti. Oleh karena itu, bagi kita para guru harus berhati-hati dalam setiap tingkah laku baik berupa perbuatan, sikap, maupun perkataan. Karena apa pun yang terlihat dalam diri kita sangat memungkinkan akan dicontoh oleh murid-murid kita. Sehingga bagi para guru hendaklah memiliki tingkah laku yang baik dan hal tersebut merupakan syarat utama untuk menjadi seorang guru.

Hanya saja kita para manusia, bani Adam ini, pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan. Terkadang kita sudah tahu ilmu bahwa sesuatu itu baik atau tidak baik untuk dikerjakan, hanya saja karena lupa atau lalai maka kita jadi salah dalam melakukan sesuatu. Tentu kita sadar bahwa kita ini sebenarnya masih kurang ilmu, sehingga kita harus melihat siapa yang harus kita contoh agar menjadi guru yang baik. Teladan yang sempurna untuk kita jadikan panutan. Siapakah dia ? Dia pastinya adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasul utusan Allah yang diutus kepada umat akhir zaman, yang pada dirinya terdapat segala sesuatu yang perlu kita teladani, termasuk teladan untuk menjadi seorang guru.

Rasulullah adalah guru para sahabat mulia, Guru yang berhasil mengubah manusia dari yang sebelumnya merupakan kumpulan manusia-manusia jahil menjadi lebih berperadaban. Dalam kurun waktu 23 tahun beliau mampu mengubah peradaban Arab menjadi peradaban yang terbaik. Bagaimana tidak, sepeninggal beliau, segala jenis bentuk keteladanan hadir dalam diri para sahabat yang juga patut kita tiru untuk kita amalkan.

Keteladanan Rasulullah shallallahu'laihi wasallam sebagai guru paling tidak tercermin dalam dua hal utama yaitu kepribadian Rasulullah dan cara beliau mendidik dan mengajar para sahabat. Oleh karena itu, para guru juga harus baik dalam dalam dua hal tersebut, bagaimana agar baik dalam kepribadian, dan baik  juga dalam cara mendidik murid-murid. Dua hal tersebut haruslah sejalan. Sebagai contoh, Rasulullah punya sifat yang tegas dan ketika memberi hukuman kepada para sahabat yang pantas untuk dihukum, maka Rasulullah menghukumnya dengan cara yang baik juga. Demikian juga para guru, disamping punya sifat kelemahlebutan, para guru pastinya mempunya sifat tegas ketika muridnya melakukan kesalahan, dan cara menghukum murid yang bersalah harus juga dengan cara yang baik. Karena suatu kebaikan jika disampaikan dengan cara tidak baik, maka kebaikan itu bisa berubah menjadi tidak baik.

Contoh yang lain adalah ketika Rasulullah berbicara dengan para sahabat, Rasulullah selalu melihat batas kemampuan akal dan kondisi sahabat ketika menyampaikan sesuatu. Artinya seorang guru haruslah memiliki kecerdasan untuk memahami muridnya. Sehingga kita akan terhiindar dari menyampaikan sesuatu yang tidak bermanfaat karena menyampaikan sesuatu kepada murid kita yang mereka tidak pahami.

Dan setiap sikap dan perbuatan kita itu bisa jadi akan dilihat oleh murid-murid kita bahkan mereka pun mungkin akan menirunya. Oleh karena itu agar kita tidak salah dalam bersikap dan berbuat sebagai seorang guru, maka kita harus mencontoh Sang Guru yang telah diutus oleh Allah untuk umat manusia. Yang pada dirinya terdapat banyak pelajaran dan keteladanan yang dapat kita ambil hikmahnya. Sehingga pada akhirnya Allah mampukan kita untuk menjadi salah satu guru yang bermanfaat untuk menuju peradaban yang lebih baik.
Share:

Cara Menampilkan Komentar Terbaru di Blog



Cara Menampilkan Komentar Terbaru di Blog – Fungsi dari komentar terbaru adalah untuk mengetahui komentar-komentar terbaru dari pengunjung blog dan letak postingan yang mereka kasih komentar.

Biasanya komentar terbaru ini dipasang di widget blog, penasaran gimana cara pemasangan/menampilkan komentar terbaru di blog. Berikut ikuti langkah-langkahnya :
Login akun blogger Anda
Masuk ke menu Tata Letak ---> Tambah Gadget ---> HTML/JavaScript
Copy-paste kode dibawah ini pada HTML/JavaScript


<script style="text/javascript" src="http://www.geocities.com/leo_host/komentar-terbaru.js"></script><script style="text/javascript">var a_rc=5;var m_rc=false;var n_rc=true;var o_rc=50;</script><script src="http://blogatap.blogspot.com/feeds/comments/default?alt=json-in-script&callback=showrecentcomments"></script>

Keterangan :
rc=5 ---> jumlah komentar yang akan ditampilkan.
rc=50 ---> jumlah karakter yang akan ditampilkan.
blogatap ---> ganti dengan alamat URL blog Anda.
Kemudian Simpan.

Anda juga bisa menambah fungsi scroll pada widget komentar terbaru tersebut. Sekian postingan pada kesempatan kali ini, jika masih menemui permasalahan silahkan hubungi kami melalui contac.

Jika kode diatas tidak dapat Anda gunakan lagi pada blog, Anda bisa membaca Update Terbaru Cara Menampilkan Komentar Terbaru di Blog.

Sumber: https://blogatap.blogspot.com/2012/11/cara-menampilkan-komentar-terbaru-di.html
Share:

Motivasi Menjadi Guru?

Sebelum Anda membaca catatan ini lebih jauh, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Sudah berapa lama Anda menjadi guru? Satu tahun kah? Dua tahun kah? Lima tahun kah? Sepuluh tahun kah? Atau sudah lebih dari itu? Sehingga Anda lupa sudah berapa tahun Anda menjadi guru? Atau mungkin baru beberapa bulan? Sebentar atau lamanya Anda sudah menjadi guru tidak masalah, yang penting hari ini mari kita evaluasi bersama. Kita cek ulang lagi, apa motivasi kita sebelumnya, sebelum kita mendedikasikan diri kita menjadi seorang guru.

Dalam beberapa kali wawancara calon guru di lembaga pendidikan yang saya terlibat di dalamnya, hampir saya selalu bertanya tentang motivasi mereka menjadi guru. Jawabannya bervariasi. Ada jawabannya yang ingin mengaplikasikan ilmu, ingin menambah ilmu lagi, ingin bekerja di lingkungan yang baik, ingin bekerja di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah, bekerja di tempat yang gajinya lebih tinggi, kurang nyaman dengan pekerjaan atau tempat bekerja sebelumnya, mengikuti saran dari saudara atau teman, dan lain-lain. Tentu saja itu semua adalah jawaban-jawaban yang diucapkan secara lisan, sedangkan apa yang ada dalam hati mereka tentu hanya mereka dan Allah yang lebih tahu.

Sekarang kita coba introspeksi diri, apa yang yang menjadi motivasi diri kita ketika awal sekali kita memutuskan untuk mendedikasikan diri kita menjadi seorang guru. Apakah benar-benar ingin menjadi seorang guru yang cita-cita itu sudah tertanam sejak kecil. Seperti halnya murid-murid kita yang menjawab “menjadi guru” ketika ditanya mengenai cita-cita mereka. Atau jangan-jangan menjadi guru hanya sebagai "pelarian" saja ketika kita sudah melamar kerja ke mana-mana namun tidak ada yang cocok. Bisa jadi kita yang tidak cocok dengan pekerjaan atau lembaga itu, atau lembaganya yang tidak cocok dengan kita.

Namun jika kita lihat sejenak ke belakang mengenai motivasi menjadi guru tersebut bisa jadi tidak berlaku bagi mereka yang background pendidikannya adalah dari ilmu keguruan atau pendidikan. Karena ketika awal mereka masuk ke perguruan tinggi tersebut, harusnya mereka sebelumnya memang bercita-cita menjadi seorang guru dan ingin mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan. Atau jangan-jangan mereka masuk ke perguruan tinggi tersebut, karena tidak diterima di perguruan tinggi atau fakultas faovorit yang mereka cita-citakan. Sehingga masuk di bidang ilmu keguruan atau pendidikan itu juga hanya menjadi alternatif juga.

Apapun motivasi yang melatarbelakangi, bagi Anda yang hari ini pekerjaannya adalah seorang guru, taqdir Allahlah yang telah membawa Anda menjadi seorang guru dan tidak ada yang salah dengan taqdir. Sehingga kita tidak perlu kecewa dengan taqdir terutama yang sebelumnya tidak pernah mencita-citakan atau bahkan sekedar membayangkan saja akan menjadi guru. Terkada saya pribadi ketika merenungkan tentang bagaimana saya saat ini, jalan yang Allah tunjukkan rasanya begitu nikmat dan indah. Tahapan-tahapan kehidupan yang dijalani sebelumnya begitu mengagumkan dan subhanallah, tidak ada yang salah dengan taqdir yang Allah tetapkan kepada kita.

Sekarang, apa yang perlu kita lakukan bagi yang sudah ditaqdirkan menjadi guru? Yang perlu dilakukan ada meluruskan niat. Niatkan apa yang kita lakukan hari ini adalah semata-mata hanya untuk menggapai ridho Allah. Sehingga apa yang kita lakukan semuanya berbuah pahala. Apalagi salah satu amalan yang tidak akan terputus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat. Sehingga kita para guru harusnya bangga dan bersyukur karena meskipun nanti ketika kita sudah meninggal masih ada peluang pahala yang terus mengalir. Dan itu semua tidak akan terjadi jika kita salah niat. (Semarang, 10 September 2019)
Share:

Sejarah Puasa Asyura dan Keutamaannya


‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharrom[1]. Dia adalah hari yang mulia. Menyimpan sejarah yang mendalam, tak bisa dilupakan.

Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.[2]

Nabi dalam berpuasa ‘Asyura mengalami empat fase[3];

Fase pertama: Beliau berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syuro pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhon telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”.[4]

Fase kedua: Tatkala beliau datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa ‘Asyura, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas di muka. Bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura.

Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhon, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa A’syuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah [5] sebagaimana hadits Aisyah yang telah lalu.

Fase keempat: Pada akhir hayatnya, Nabi bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari A’syuro saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 A’syuro agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.

Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi puasa A’syuro dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro!! Maka Rasululloh berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”.[6]


Keutamaan Puasa Asyura

Hari ‘Asyura adalah hari yang mulia, kedudukannya sangat agung. Ada keutamaan yang sangat besar.


Imam al-Izz bin Abdus Salam berkata: “Keutamaan waktu dan tempat ada dua bentuk; Bentuk pertama adalah bersifat duniawi dan bentuk kedua adalah bersifat agama. Keutamaan yang bersifat agama adalah kembali pada kemurahan Allah untuk para hambanya dengan cara melebihkan pahala bagi yang beramal. Seperti keutamaan puasa Ramadhon atas seluruh puasa pada bulan yang lain, demikian pula seperti hari ‘Asyura. Keutamaan ini kembali pada kemurahan dan kebaikan Allah bagi para hambanya di dalam waktu dan tempat tersebut”.[7] Diantara keutamaan puasa ‘Asyura adalah;


1- Menghapus dosa satu tahun yang lalu

Rasululloh bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.[8]

Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”.[9]


2- Nabi sangat bersemangat untuk berpuasa pada hari itu

Ibnu Abbas berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ: يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini, hari ‘Asyura dan puasa bulan Ramadhon.[10]

3- Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Isroil


Ibnu Abbas berkata: “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga”.[11]


4- Puasa ‘Asyura dahulu diwajibkan


Dahulu puasa ‘Asyura diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Hal ini menujukkan keutamaan puasa ‘Asyura pada awal perkaranya.


Ibnu Umar berkata: “Nabi dahulu puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan”.[12]


5- Jatuh pada bulan haram


Nabi bersabda:


أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ


Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharrom.[13]


Semoga kita diberi kemudahan untuk melaksanakan puasa Asyura. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.




[1] Syarah Shahih Muslim 8/12, Fathul Bari, Ibnu Hajar 4/671, Mukhtashor Shahih Muslim, al-Mundziri hal.163-Tahqiq al-Albani, al-Mughni 4/441, Subulus Salam, as-Shon’ani 2/671


[2] HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130


[3] Lathoiful Ma’arif hal.102-107


[4] HR.Bukhari: 2002, Muslim: 1125


[5] Bahkan para ulama telah sepakat bahwa puasa ‘Asyura sekarang hukumnya sunnah tidak wajib. Ijma’at Ibnu Abdil Barr 2/798, Abdullah Mubarak Al Saif, Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani 1/438, Tuhfatul Ahwadzi, Mubarak Fury 3/524, Aunul Ma’bud, Syaroful Haq Azhim Abadi 7/121


[6] HR.Muslim: 1134


[7] Qowaid al-Ahkam, al-‘Izz bin Abdis Salam 1/38, Fadhlu ‘Asyura wa Syahrulloh al-Muharrom, Muhammad as-Sholih hal.3


[8] HR.Muslim: 1162


[9] Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279


[10] HR.Bukhari: 2006, Muslim: 1132


[11] HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130


[12] HR.Bukhari: 1892, Muslim: 1126


[13] HR.Muslim: 1163




Penulis: Ustadz Syahrul Fatwa bin Luqman (Penulis Majalah Al Furqon Gresik)


Artikel Muslim.Or.Id


Share: