Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kardus Lambaran


Kardus Lambaran
Oleh: Nangin Azis Syah
 
Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang, sesaat sebelum sampai rumah, aku bersama istri tercinta dan buah hati tersayang yang usianya baru 27 bulan menyempatkan untuk mampir di sebuah masjid yang ada di pinggir jalan untuk menunaikan salat. Karena aku sudah salat sebelumnya di kereta api, jadi hanya istri yang salat di masjid tersebut. Ketika istri akan salat, maka aku yang bertugas menunggui si kecil yang dalam keadaan terjaga, padahal jam di tangan sudah menunjukkan sekitar pukul 23.30 WIB.

Ketika malam hari, lampu di dalam masjid tidak terlalu terang. Pencahayaan hanya seadanya, ditambah cahaya dari lampu jalan raya yang menembus masuk ke dalam masjid. Aku mencoba untuk mengamati suasana sekitar. Masjid tersebut terdiri dari dua lantai, lantai atas digunakan sebagai ruang utama salat. Sedangkan lantai bawah, setahu saya, biasa digunakan untuk anak-anak mengaji di sore hari. Jika tidak ada pengajian, tempat itu biasa digunakan untuk salat dan bisa juga digunakan untuk istirahat. Hanya saja di lantai bawah, tidak ada karpet yang digelar. Kalau mau rebahan atau duduk berarti langsung di atas lantai.

Hanya saja kalau malam hari, aku memang tidak pernah mampir di masjid tersebut, dan ini adalah kali pertama aku mampir di malam hari untuk salat di masjid tersebut. Di malam yang sudah larut tersebut, terlihat ada hampir sepuluh orang yang tidur di lantai satu masjid. Jika dilihat dari penampilannya, di antaranya terlihat seperti pedagang keliling, karena di sampingnya ada barang-barang dagangan yang mereka bawa.

Ada juga yang terlihat seperti pengojek on-line dengan jaket khas mereka yang dijadikan sebagai bantal. Dan beberapa yang lain saya tidak bisa memperkirakan kenapa mereka tidak di dalam masjid tersebut. Dalam batin saya berkata, betapa mereka bekerja mati-matian untuk mengupayakan sesuap nasi sehingga mereka tidak sempat pulang ke rumahnya masing-masing.

Di sisi yang lain, saya melihat juga ada seorang wanita muda yang usianya mungkin sekitar 25 sampai 30 tahun yang di bagian lengan dan lehernya terdapat bertato. Meskipun bertato, tapi tidak terlihat kucel. Beliau terlihat sedang bercakap-cakap ringan dengan temannya. Tanpa ada perasaan yang mencurigakan, aku melanjutkan untuk bermain kecil dengan si buah hati sementara sang istri sedang berwudu sebelum mendirikan salat.

Tanpa saya sadari, wanita tersebut mendekat ke arah saya. Beliau mencoba menggoda si kecil yang terlihat menggemaskan. Namun karena si kecil masih bayi, dia selalu menjaga diri dari orang-orang yang tidak di kenal dengan langsung memeluk ayah atau bundanya. Karena tidak berhasil menggoda si kecil, wanita tersebut kembali ke tempatnya.

Beberapa saat kemudian, sementara istri sedang salat, wanita tersebut datang lagi mendekat ke arah saya dan si kecil. Kali ini dia membawa beberapa lembar kardus. “Ini kardus lambaran buat adik, kasihan adiknya kedinginan”, katanya sambil menjulurkan beberapa lembar kardus. Setelah menyerahkan kardus lambaran tersebut, ia beranjak ke sisi lain dari masjid tersebut. Dia berpindah ke teras sebuah rumah yang ada di sekitar masjid. Di teras tersebut juga terlihat ada temannya yang sedang rebahan.

Kardus tersebut aku terima sambil membalas ucapannya dengan ucapan terima kasih. Lagi-lagi karena si Kecil selalu menjaga diri dari hal-hal yang baru, jadi dia tidak mau menggunakan kardus tersebut sebagai alas tidur. Kardus lambaran tersebut akhirnya hanya saya sandarkan ke salah satu tiang masjid Si Kecil merasa lebih nyaman duduk atau tiduran dipangku oleh sang ayah sambil menikmati suasana sekitar.

“Assalamu’alaikum warahmatullah, assalamu’alaikum warahamatullah”, istri mengucap salam sambil menoleh, ke kanan dan ke kiri tandanya istri sudah selesai salat dan dilanjutkan dengan beberapa doa singkat. Setelah selesai berdoa, istri langsung mendekat ke arah saya. Dan biasa, salaman setelah salat, berharap segala salah dan dosa yang pernah dilakukan baik disengaja maupun tidak disengaja saling memaafkan dan berharap ampunan dari Allah. Tak lupa istri minta disalami sambil dicium tangannya oleh si kecil dan menciumnya kembali berharap agar kasih sayang selalu tercurah.

Tidak lama berselang, wanita tadi kembali mendekat. Kali ini dia membawa sesuatu yang berbeda. Dia membawakan 1 bungkus jipang untuk diberikan kepada si kecil. Dia langsung menyodorkan kepada si kecil. Lagi-lagi, pada sesuatu yang asing, si kecil tidak serta merta mau langsung menerima, walaupun saya paham kalau si kecil sebenarnya suka dengan jenis makanan tersebut. Akhirnya saya terima langsung dengan mengucapkan terima kasih kepada wanita tersebut. Tidak lupa saya juga mengajari si kecil untuk mengucapkan terima kasih. Setelah memberikan jipang tersebut, wanita itu langsung kembali ke tempatnya.

Karena istri sudah selesai salat, kami melanjutkan perjalanan kembali agar bisa sampai rumah sebelum tengah malam. Kawatir kalau sudah melewati pukul 00.00 WIB, gerbang kompleks perumahan biasanya sudah digembok. Di tengah-tengah perjalanan, saya berdiskusi dengan istri tentang apa yang kami alami dan kami rasakan barusan di masjid. Tentang orang-orang yang tidur di masjid, tentang wanita muda yang bertato, tentang kardus lambaran, tentang sikap si kecil yang semuanya itu memiliki hikmah pelajaran yang berharga jika kita mau memikirkannya.

Hanya saja ada satu hal yang membuat kami sedikit berpikir tentang diri kami sendiri. Apakah tadi di masjid, kami juga terlihat seperti orang yang mau bermalam menunggu pagi di masjid tersebut. Ditambah lagi karena pakaian yang kami kenakan terlihat sedikit kucel setelah perjalanan jauh. Sehingga pada akhirnya kami disodori beberapa lembar kardus lambaran untuk dijadikan alas tidur.

Kami tiba di depan gerbang kompleks perumahan sekitar pukul 00.00 dan gerbang kompleks perumahan belum digembok. Warga yang jaga juga masih tetap di tempat yang kami biasa nongkrong di situ kalau jaga malam. Dan sebelumnya, ketika dalam perjalanan pulang, saya memang sudah menghubungi Pak RT, minta tolong agar gembok gerbang tidak dikunci terlebih dahulu. Dan akhirnya tiba di rumah dan bisa istirahat sejenak untuk menunggu pagi melanjutkan lembaran-lembaran kehidupan.



Semarang, 09 November 2019
Edisi belajar menulis esai. Apakah tulisan seperti ini bisa dikatakan sebagai esai?
Share:

‘HARAP-CEMAS’ PENDIDIKAN KITA (Republika, Jumat, 25 Oktober 2019)


Oleh: Dr. Adian Husaini
(Ketua Program Doktor Pendidikan Islam –
Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Begitu Nadiem Makarim (35 tahun) diumumkan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dunia warganet heboh. Ini kejutan luar biasa! Meskipun banyak kritikan, tapi ada juga beberapa warganet berharap, Menteri Nadiem melakukan ‘sesuatu’ yang tidak biasa-biasa saja untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia.

Toh, Kabinet sudah diumumkan. Bahasa agamanya, itu sudah takdir! Mungkin, Nadiem pun tak pernah bermimpi menduduki pos Menteri Pendidikan, yang biasanya termasuk ‘kursi elite’ dalam jajaran kabinet di banyak negara. 

Bagi orang Islam, suatu peristiwa pasti ada hikmahnya. Mungkin, siapa tahu, lewat ‘tangan’ Nadiem Makarim, dunia pendidikan Indonesia akan dipaksa untuk berpikir serius, lalu berubah secara mendasar! Itu mungkin! Bisa terjadi, bisa juga tidak!

Dan memang, faktanya, pendidikan Indonesia kini perlu perubahan mendasar, dalam berbagai aspeknya. Pertama, fokus utama pada tujuan pendidikan akhlak!  UUD 1945 pasal 31 (3) mengamanahkan, pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa!
Itu amanah konstitusi. Itu pula amanah UU Sisdiknas No 20/2003 dan UU Perguruan Tinggi No 12/2012. Orang muslim sangat akrab dengan misi utama Nabi Muhammad saw, yakni beliau diutus untuk  ‘menyempurnakan akhlak manusia’ (buitstu li-utammima makarim al-akhlaq).

Misi penyempurnaan akhlak peserta didik inilah yang sepatutnya menjadi perhatian utama Menteri Nadiem. Nabi Muhammad saw menyebutkan, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. Orang yang berakhlak mulia, pasti menjadi orang hebat dan berguna!
Nabi mengajarkan suatu doa: “Ya Allah, hindarkan aku dari sifat malas dan lemah!” Nabi mengajar dan memberi contoh, bagaimana menjadi orang jujur, pekerja keras, terpercaya, rendah hati, penyayang, peduli kebersihan, tidak sombong, tidak pendengki, tidak pesimis apalagi putus asa!
Jangan sampai dunia pendidikan Indonesia melahirkan manusia-manusia yang pintar cari makan, tetapi jahat, serakah, dan tidak peduli pada sesama insan. Apalagi, melahirkan manusia tidak professional, tidak berguna, dan buruk pula akhlaknya. Na’udzubillah!

Pakar pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir (77 tahun), beberapa kali menceritakan kepada saya, bahwa sejak era 1980-an, beliau ingatkan pemerintah, agar pendidikan kita berbasis kepada pendidikan Akhlak Mulia, bukan kepada sains dan teknologi! Menurut Ahmad Tafsir, jika tidak punya teknologi, kita masih bisa beli. Tapi, kalau tidak punya akhlak, kemana membelinya? Dan pemikiran itu logis, sebab bangsa rusak, karena akhlak rusak.

Kedua,  reformasi sistem dan kurikulum pendidikan. Dalam buku “Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi” (YPI at-Taqwa:2019), saya mengisahkan hasil dialog saya dengan Prof. Nanang Fattah (68 tahun), guru besar UPI Bandung, pada 28 Januari 2019. Penulis menikmati ide-ide segar Prof. Nanang Fattah tentang reformasi pendidikan.

Salah satu yang menarik adalah gagasannya tentang standar pendidikan. Menurutnya, pendidikan sebaiknya berpegang pada satu standar kompetensi, yaitu standar kompetensi lulusan. “Pendidikan itu based on result, bukan based on process,” katanya.

Bahkan, pada awal reformasi, beliau sudah usulkan, agar pendidikan tingkat SD cukup 4 tahun, SMP 2 tahun, dan SMA 2 tahun! Tapi, kurikulumnya harus bersifat dinamis, mengikuti dinamika sosial.  Gagasan Prof. Nanang Fattah ini, menarik, rasional, dan kontekstual.

Saat berbicara dalam satu seminar oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), bersama Dr. Yudi Latif dan Dr. Marzuki Ali, saya pernah sampaikan, agar ada perubahan mendasar dalam sistem dan kurikulum Pendidikan Tinggi. Contoh, menurut penulis, untuk menjadi wartawan profesional, tidak perlu pendidikan tingkat S-1 sampai 4 tahun. Begitu juga untuk menjadi guru TK, perawat, dan sebagainya! Profesionalisme tidak diukur dari berapa lama dan berapa banyak materi kuliah yang ia pelajari. Tapi, kompetensi apa yang ia sudah kuasai!

Pada 17 Oktober 2019, melalui akun instagramnya, cendekiawan Indonesia,  Yudi Latif menulis, bahwa banyak negara kini telah mengubah kurikulum pembelajaran dari spesialisasi menuju penyiapan pembelajar generalis yang mampu berpikir independen dan inovatif. Ia merujuk pada buku berjudul Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, karya David Epstein (2019).

Tahun 2017, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menerbitkan buku berjudul “Era Disrupsi: Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia”. Buku ini mengingatkan dunia Perguruan Tinggi untuk berubah secara mendasar dalam model pendidikannya, karena mulai merebaknya MOOCs (Massive Open Online Courses). Juga, perlunya penyiapan model pembelajaran yang multi dan interdisiplin, bukan lagi bersifat linier.

Itulah sedikit diantara masalah besar dunia pendidikan kita. Masih banyak yang lainnya! Salah satunya, peningkatan kualitas guru. Dalam acara Rountable Discussion di Lembaga Pengkajian MPR, 24 Oktober 2017, mantan Dirjen Dikti, Satryo Soemantri Brodjonegoro, menulis makalah berjudul: “Mempertanyakan Cetak Biru Pendidikan Indonesia”.  Prof. Satryo termasuk diantara pakar dan praktisi pendidikan yang prihatin dan mengkhawatirkan masa depan pendidikan kita.

Jadi, bagaimana masa depan pendidikan kita di era Menteri Nadiem? Silakan cemas, tapi jangan putus asa! Harapan dan peluang perbaikan itu selalu ada! Siapa pun menterinya! Apalagi, sebagian besar lembaga pendidikan kita tidak bergantung kepada pemerintah. Wallahu A’lam bish-shawab! (Opini Harian Republika, 25 Oktober 2019).
Share:

Sosok yang Mengusulkan MERAH PUTIH sebagai Warna Bendera Indonesia

Habib Idrus Salim Al Jufri
Kita pasti sudah terbiasa dgn Merah Putih, warna bendera Indonesia. Sejak kecil hingga dewasa, kita menyaksikan Merah Putih berkibar. Namun, tahukah kamu jika pemilihan warna bendera Indonesia, ternyata memiliki sejarah yg sangat dekat dgn Islam? Semua berawal dari Ulama besar, Habib Idrus Salim Al Jufri. Dialah sosok yg pertama kali mengusulkan Merah Putih menjadi warna bendera Indonesia.

Usulan ini tidak mentah2 ia layangkan, melainkan berdasarkan pesan dari Rasulullah dalam mimpinya, yakni jika Indonesia merdeka, maka warna benderanya adalah Merah Putih. Pendiri Al Khairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah ini juga adik kelas dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari.

Pada Muktamar NU tahun 1937 silam, Mbah Hasyim Asyari mengusulkan Merah Putih untuk menjadi warna bendera Indonesia, dan Soekarno adalah pemimpinnya, sesuai pesan yg disampaikan oleh Habib Idrus Salim Al Jufri kepadanya.

Dikenal dgn Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri ini lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892. Dan saat usianya masih 12 tahun, ia telah berhasil menghafal Alquran, 30 Juz. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969, tepatnya di usia 77 tahun.

Habib Idrus merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah, dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ia juga akrab disapa Guru Tua, dan dikenal sbg sosok yg sangat cinta ilmu.

Hal ini terlihat jelas saat ia mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat, sebagai tanda kasih nyata Habib Idrus, kepada Islam. Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, saat usia Habib Idrus menginjak 41 tahun.

Ia juga yg menginspirasi terbentuknya sekolah di berbagai jenis serta tingkatan di Sulawesi Tengah, yg dinaungi organisasi Alkhairaat. Dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

Habib Idrus merupakan keturunan Rasulullah dgn silsilah sebagai berikut: As-Sayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW.

Inilah Syiar Kemerdekaan Republik Indonesia yg disusun oleh Al Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, ketika menyambut Proklamasi, 17 Agustus 1945:

Bendera kemuliaan berkibar di angkasa, hijau daratan dan gunung-gunungnya
Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan, orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan, muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

Wahai Sukarno! Telah kau jadikan hidup kami bahagia, dengan obat darimu hilang sudah penyakit kami
Wahai Presiden yang penuh berkah bagi kami, engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul, telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak, demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan, tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan, dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual, buktikan kepada masyarakat bahwa engkau mampu
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu, dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh...
Share:

7 Tips Langkah Awal Buat Kamu yang Lagi Belajar Menulis

Oleh:
Just an ordinary girl who writes perfect moments at perfect time

"Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go." -E.L. Doctorow-
 
Menulis merupakan suatu aktivitas yang dianggap membosankan oleh sebagian orang. Tapi ketika kamu sudah terjun dalam dunia ini, kamu akan merasakan betapa asyiknya menuangkan ide dan pengalamanmu dalam tinta. Dengan menulis, kamu juga bisa memperkaya pengetahuanmu dan memberikan informasi kepada banyak orang. Nah, bagi kamu yang tertarik dan ingin belajar menulis, kamu bisa mengikuti tujuh langkah di bawah ini:

1. Pilih topik yang kamu kuasai

Kunci ketika kita belajar menulis untuk pertama kalinya ialah pilih topik yang kita kuasai. Misalnya saja kamu suka memasak. Tulislah tips dan resep-resep yang pernah kamu coba di rumah. Bagi kamu yang suka membaca, kamu bisa menuliskan resensi buku terbaru yang menarik dan bermanfaat. Kamu suka bersepeda atau hiking? Rekomendasikan lokasi hiking pilihanmu melalui tulisan. Ya, menuliskan hal-hal yang kita sukai atau kuasai akan membuat kita semakin menikmati proses tulis menulis. Kita jadi lebih bersemangat karena kita menuangkan pengetahuan kita secara langsung dalam tulisan.

2. Tulislah kerangka tulisan

Setelah memilih topik, kamu bisa langsung menuliskan kerangka tulisanmu. Kerangka tulisan adalah bagian dari perencanaan untuk eksekusi tulisanmu nantinya. Catat kira-kira apa saja yang ingin kamu tuliskan.
Contoh: Kamu ingin menulis tentang tempat-tempat wisata di Banyuwangi. Dalam paragraf pertama, kamu ingin membahas tentang lokasi Banyuwangi dan berapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana. Lalu di paragraf kedua, kamu ingin membahas tentang pantai A. Lakukan seterusnya hingga paragraf terakhir tulisan.
Menuliskan kerangka tulisan akan banyak membantumu dalam mengingat apa saja yang ingin kamu tuangkan. Kamu juga bisa menggunakan kerangka untuk mengumpulkan data yang akan melengkapi tulisanmu nantinya.

3. Cari data

Tulisan tanpa data sama seperti sayur tanpa garam. Tanpa data, kita nggak akan bisa membuat tulisan yang kredibel. Padahal, informasi yang kita berikan nantinya bakal dibaca banyak orang. Nah, kalau datanya nggak bener gimana dong? Kita bisa menyesatkan pembaca dengan tulisan kita. Oleh karena itulah, data menjadi salah satu unsur terpenting dalam tulisan.
Terdapat dua jenis data yang bisa kamu temukan untuk melengkapi tulisanmu. Pertama yakni data primer. Data primer diperoleh dari narasumber secara langsung. Untuk memperoleh data primer, tentunya kamu harus melalui proses wawancara dengan narasumber. Kedua yakni data sekunder. Data sekunder bisa kamu peroleh dari literatur seperti buku, jurnal online, surat kabar, majalah atau media online. Jangan lupa tuliskan body note dan daftar pustaka jika kamu mengambil data sekunder dan mencantumkannya dalam tulisanmu. Apabila data sekundermu berbentuk gambar atau foto, cantumkan sumber dokumentasi gambar tersebut beserta nama situsnya. Mencantumkan sumber akan melatih kamu menjadi penulis profesional dan kamu nggak akan dicap plagiasi karya orang.
Lanjutkan membaca artikel di bawah

4. Tuangkan tulisanmu

Setelah semua data terkumpul, kini saatnya kamu menulis! Temukan tempat yang tenang di mana kamu bisa menggali ide dengan optimal. Manfaatkan kembali kerangka tulisan yang telah kamu buat. Jangan terburu-buru. Apabila kamu lagi blank alias kehilangan inspirasi, berhentilah sejenak dan lakukan aktivitas ringan seperti mendengarkan musik, ngemil, main game atau nonton satu episode drama kesayanganmu di layar laptop (hehe...). Setelah rileks, kamu bisa kembali melanjutkan tulisanmu.

5. Saatnya menjadi editor!

Salah satu bagian terasyik dalam proses tulis menulis adalah saat kamu menjadi editor untuk karyamu sendiri. Setelah kamu selesai menulis, baca ulang tulisanmu dari awal hingga akhir. Perhatikan penempatan tanda baca, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), margin, penggunaan kalimat majemuk, penulisan body note, footnote, daftar pustaka dan cara penulisan kata-kata asing yang harus dimiringkan (italic). Kamu bisa menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk membantu mengecek EYD dalam tulisanmu.
Perhatikan juga kesinambungan antar kalimat. Apakah kalimat pertama sudah nyambung dengan kalimat kedua atau justru meloncat dari topik di kalimat pertama? Apakah tulisanmu sudah sistematis sehingga mudah dibaca dan dimengerti? Jangan sampai tulisanmu justru membuat pembaca kebingungan dengan apa yang ingin kamu sampaikan. Nah, dengan mengecek semua hal di atas, kamu akan semakin paham tentang tata cara penulisan sesuai EYD serta bagaimana cara menulis yang baik dan sistematis.

6. Pilihlah media yang tepat

Menjadi penulis membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, manfaatkanlah media-media di sekitarmu untuk membantu kamu menyebarluaskan tulisan yang telah kamu buat. Kamu bisa memanfaatkan blog media nasional khusus citizen journalism atau membuat blogmu sendiri. Kamu juga bisa memanfaatkan situs-situs yang membuka kesempatan bagi para penulis untuk memasukkan karya-karyanya. Nah, banyak banget ‘kan? Yang terpenting adalah tetap tekun, rajin dan selalu berusaha memberikan tulisan terbaikmu!

7. Bagikan tulisanmu via media sosial

Langkah terakhir setelah kamu menuangkan tulisan melalui media yang kamu pilih adalah membagikan (share) tulisanmu melalui media sosial. Kamu bisa memanfaatkan Facebook, Line, Instagram, BBM, Twitter atau bahkan Path untuk membuat orang lain ingin membaca tulisanmu. Sederhana tapi dijamin manjur karena hampir semua orang aktif menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi. Membagikan tulisan lewat media sosial juga bisa membuka kritik dan saran dari para pembaca sehingga kamu bisa belajar lebih jauh tentang kekuranganmu dalam proses tulis menulis.
Tujuh langkah di atas bisa kamu terapkan setiap kali kamu ingin kembali menulis. Dan tentunya, langkah-langkah di atas harus terus didukung dengan kemauan kita untuk menulis dan tekun berlatih. Semakin sering kita berlatih, kita akan semakin terdorong untuk menghasilkan tulisan terbaik dan terus belajar dari kekurangan kita sebagai penulis. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa dalam tulisan saya berikutnya! (cyn)

Sumber tulisan klik di: https://www.idntimes.com/life/inspiration/irene-cynthia-hadi-1/7-langkah-awal-buat-kamu-yang-lagi-belajar-menulis-c1c2/full 
Share:

Khutbah Jum’at: Tiga Ciri Orang yang Dicintai Allah




Khutbah Pertama:
الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ta’ala. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dengan senantiasa mengingat Allah dalam banyak kesempatan.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Di dalam sebuah hadits yang shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ
“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka telah Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah diluar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari).
Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Lantas bagaimana Allah mencintai hamba-Nya? Adakalanya, seseorang sering melakukan kemaksiatan, namun rezekinya lapang. Ia lalu beranggapan bahwa Allah tidak murka kepadanya, Allah tidak marah kepadanya. Allah masih mencintainya karena Allah masih melapangkan rezekinya.
Al-Hakim dalam Mustadraknya yang disetujui oleh Imam Adz-dzahabi akan kesahihannya, menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”.
Orang seperti itu mirip dengan orang kafir yang Allah sebut dalam surat Ar-Rum:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Lantas apa ciri-ciri orang yang dicintai Allah? Pertama, dia dibimbing oleh Allah. Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka hamba tersebut akan berada dalam tuntunan Allah Ta’ala. Allah Arahkan dia dalam kebaikan. Allah tidak ridho langkahnya menuju hal yang dibenci Allah. Allah tidak Ridho matanya melihat apa yang dibenci oleh Allah. Allah tidak Ridha pendengarannya mendengar apa yang dibenci Allah ta’ala. Apakah artinya dia maksum?
Dia tidak maksum. Dosa adalah sebuah keniscayaan, tetapi orang yang dicintai oleh Allah ketika melakukan perbuatan dosa, dengan tuntunan Allah yang baik, kepadanya diarahkan kepada kebaikan, maka dia dipercepat. Dia akan dibimbing oleh Allah untuk mudah sadar dan kembali kepada-Nya dengan bertobat.
Lihatlah Bagaimana Allah ta’ala menjaga sahabat Ma’iz radiallahu anhu, sahabat yang dia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia mengatakan, “Ya Rasulullah sucikan aku!” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menanyakan kepada para sahabat apakah sahabat Maiz sudah gila? Para sahabat mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia dalam keadaan waras.”
Ma’iz disuruh pulang, namun hari berikutnya datang kembali kepada Rasulullah seraya mengatakan “Ya Rasulullah, sucikan aku.” Ia berkata begitu karena telah melakukan perbuatan zina. Rasulullah masih belum yakin dan memastikan apakah ia berbicara secara sadar.
Setelah tiga kali datang dan dipastikan, maka Ma’iz dihukum rajam. Setelah kematiannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لقد تاب توبة لو قسمت بين أمة لوسعتهم
“Maiz betul-betul telah bertaubat yang sempurna. Seandainya taubat Maiz dapat dibagi-bagikan di tengah-tengah ummat niscaya mencukupi buat mereka”.
Jadi, ciri pertama adalah dibimbing oleh Allah pada kebaikan. Ketika berbuat dosa, ia tidak kebablasan, tetapi dibimbing untuk sadar dan bertobat kepada-Nya.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah 
Kemudian ciri yang kedua dari orang yang dicintai Allah ta’ala adalah Allah Ta’ala akan mengumpulkannya dengan orang yang mencintai dirinya karena Allah dan dia mencintai mereka karena Allah Ta’ala
Cinta karena Allah Ta’ala adalah faktor yang menyebabkan kecintaan Allah kepada seseorang. Oleh karena itu hati yang dipadu cinta bersama saudaranya karena Allah Ta’ala, akan mudah melekat. Seiring dengan berjalannya waktu dia akan tetap melekat. berbeda dengan kecintaan yang dibangun bukan atas dasar Allah ta’ala. Oleh karena itu dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan antipati karena Allah, serta cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabarani)
Contoh dalam masalah ini adalah Saad bin Muadz Radiallahu anhu. Ibnu Al Jauzi mengisahkan ketika Saad bin Muadz sedang menderita sakit, maka beliau menangis karena melihat banyak temannya yang dekat dengan dirinya tidak menjenguk, sehingga kemudian dia bertanya kepada pembantunya, “Ada apa dengan teman-temanku ini? kenapa mereka tidak menjengukku?”
Maka pembantunya diminta untuk mencari sebabnya. Kemudian diketahui bahwa mereka tidak menjenguk Saad bin Muadz Karena mereka malu akibat memiliki hutang kepadanya. Maka Saad bin Muadz mengatakan, “Sungguh dunia telah memisahkan antara diriku dan para sahabatku yang membangun cinta karena Allah Ta’ala.”
Saat kemudian memerintahkan pembantunya untuk mengumpulkan kantong sebanyak orang yang berhutang kepadanya, kemudian kantong itu diisi dinar dan dirham. Kantong-kantong itu kemudian dibagikan kepada orang yang berhutang kepadanya dan dia mengatakan semua utang mereka bebas karena Allah Ta’ala.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Kecintaan karena Allah Ta’ala tidak akan pudar dan sesungguhnya kecintaan kepada Allah Ta’ala akan menyebabkan kecintaan dari Allah Azza wa Jalla. Kemudian ciri berikutnya di antara tanda cinta Allah kepada hamba, yaitu diberi ujian oleh Allah.
Jangan memandang ujian sebagai hal yang negatif, karena ada di antara ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya itu baik untuk dirinya. Ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya merupakan bagian dari cara Allah menunjukkan rasa cintanya.
Oleh karena itu Ibnu Qayyim menyebutkan sesungguhnya dari sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta dan cemburu. Allah cemburu jika hambanya sibuk jangan dunia sehingga fokusnya hanya pada dunia saja, dan lupa kepada Allah ta’ala. Kecemburuan Allah ini ditunjukkan dengan Allah memberikan ujian kepada-Nya, agar dia tahu ke mana dia pulang.
Dalam hal ini, para Nabi adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena mereka diberikan banyak ujian oleh Allah ta’ala. Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyatakan kepada para sahabat bahwa beliau adalah orang yang paling besar ujiannya di antara mereka.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Di khutbah kedua ini, marilah kita berdoa kepada Allah, agar selalu diberi kesadaran atas setiap dosa, sehingga kita menjadi orang yang bersegera untuk bertobat kepada-Nya. Semoga kita didekatkan dengan orang-orang yang saleh dan berteman dengan mereka, sehingga kita kelak dibangkitkan bersama mereka. Dan semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk sabar menghadapi setiap ujian, sehingga kita tetap di jalan-Nya dan menjadi orang-orang yang dicintai-Nya.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ :
(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ))
Naskah ditranskrip dari khotbah Ust. Muhajirin, Lc. oleh Azzam.
Editor: Salem
Sumber Tulisan Klik https://www.kiblat.net/2017/11/09/khutbah-jumat-tiga-ciri-orang-yang-dicintai-allah/

Rekomendasi:
Khutbah Jumat: Mengapa Kita Harus Menegakkan Syariat

Share:

Pengantar Ilmu Tafsir

Pengantar Ilmu Tafsir
Oleh Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MA

Tafsir berasal dari kata al fusru yang mempunyai arti al-ibanah wa al-kasyf (menjelaskan dan menyingkap sesuatu). Makna ini sesuai dengan surat Al Furqan ayat 33, “wa laa ya’ tuunuka bimatsalin illa ji’ naaka bil haqqi wa ahsana tafsiirin.”
Menurut pengertian terminologi, seperti dinukil Al-Hafizh As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi, tafsir ialah ilmu untuk memahami kitab Allah subhaanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menjelaskan makna-maknanya, menyimpulkan hikmah dan hukum-hukumnya.

Urgensi Tafsir Al Qur’an dalam Islam
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. Didalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syari’at, asas-asas perilaku, menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Namun, Allah subhaanahu wa ta’ala tidak memberi perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir, apalagi sering menggunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Untuk itulah, diperlukan penjelasan berupa tafsir Al-Qur’an.

Sejarah Tafsir Al-Qur’an
Sejarah ini diawali pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika masih hidup. Seringkali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Untuk itu, mereka dapat langsung menanyakannya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara garis besar, ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu:
  1. Al-Qur’an itu sendiri, terkadang satu masalah yang dijelaskan secara global disatu tempat, dijelaskan secara lebih terperinci diayat lain.
  2. Disaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, para sahabat dapat bertanya langsung kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tentang makna suatu ayat yang tidak mereka pahami, atau mereka berselisih paham tentangnya.
  3. Ijtihad dan pemahaman mereka sendiri, karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat memahami makna perkataan dan mengetahui aspek kebahasaannya. Tafsir yang berasal dari para sahabat, dinilai mempunyai nilai tersendiri menurut jumhur ulama karena disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terutama pada masalah azbabun nuzul. Sedangkan pada hal yang dapat dimasuki ra’yi, maka statusnya terhenti pada sahabat itu sendiri selama tidak disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al Qur’an antara lain: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair. Pada masa ini belum terdapat satu pun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadits.
Setelah generasi sahabat, datanglah generasi tabi’in yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing masing. Ada tiga kota utama sebagai pusat pengajaran Al Qur’an yang masing-masing melahirkan madrasah atau madzhab tersendiri seperti Mekkah dengan madrasah Ibnu Abbas dengan murid-murid antara lain: Mujahid bin Jabir, Atha bin Abi Rabbah, Ikrimah, Thawus bin Kaisan Al Yamani, dan Said bin Jabir. Madinah, dengan madrasah Ubay bin Ka’ab, dengan murid-murid: Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhi, Abu Al-Aliyah Ar riyahi dan Zaid bin Aslam, dan Irak dengan madrasah Ibnu Mas’ud, dengan murid-murid: Al-Hasan Al Bashri, Masruq bin Al-Ajda, Qatadah bin Di’amah As Saduusi, dan Murrah Al-Hamdani.

Pada masa ini, tafsir masih bagian dari hadits, namun masing-masing madrasah meriwayatkan dari guru-guru mereka sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadits, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri, namun belum sistematis hingga masa dipisahkannya antara hadits dan tafsir menjadi kitab tersendiri. Usaha ini dilakukan oleh para ulama seperti Ibnu Majah, Ibnu Jarir Ath Thabari, Abu Bakr bin Al Munzir An Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut tafsir bi Al-Matsur.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metode tafsir dengan memasukkan unsur ijtihad yang lebih besar. Meskipun begitu, mereka tetap berpegang pada tafsir bi Al-Matsur, dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut. Hal ini melahirkan tafsir bi Al-Ra’yi dimana ruang lingkup ijtihad lebih luas dibandingkan masa sebelumnya.

Bentuk Tafsir Al-Qur’an
Ada berbagai bentuk tafsir Al-Qur’an, namun bentuk yang paling penting untuk dikenal ada dua, yaitu:

Tafsir bi Al-Ma’tsur
Dinamai dengan nama ini (dari kata “atsar” yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran, seorang mufasir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya, hingga kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tafsir bi Al-Ma’tsur adalah tafsir berdasar pada kutipan-kutipan yang shahih, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an; Al Qur’an dengan sunnah, karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah; dengan perkataan sahabat, karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah; dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in, karena mereka pada umumnya menerimanya dari sahabat. Contoh tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an seperti “wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khathil aswadi minal fajri..” (QS. Al-Baqarah: 187).
Kata “minal fajri” adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat “al khaitil abyadhi”.
Contoh tafsir Al-Qur’an dengan sunnah seperti “Alladzina amanuu lam yalbisu iimaanahum bizhulmin.” (QS. Al An’am: 82).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkannya dengan mengacu pada ayat, “innasy syirka lazhul mun ‘azhiim.” (QS. Luqman: 13).
Dengan itu, beliau menafsirkan makna “zhalim” dengan syirik. Tafsir bi Al-Ma’tsur yang terkenal antara lain: tafsir Ibnu Jarir, tafsir Abu Laits As Samarkandy, tafsir Ad Durul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur (karya Jalaluddin As Suyuthi), tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al Baghawy, dan tafsir Baqy bin Makhlad.

Tafsir bi Ar-Ra’yi
Perkembangan zaman menuntut pengembangan metode tafsir yang disebabkan tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah, maka ilmu tafsir membutuhkan peran ijtihad yang lebih besar dibandingkan dengan tafsir bi Al-Matsur. Dengan bantuan ilmu bahasa Arab, ilmu qira’ah, ilmu Al-Qur’an, ilmu hadits, ushul fiqh, dan ilmu-ilmu lain, seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menjelaskan dan mengembangkan maksud ayat dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Namun, tidak semua hasil tafsir yang mereka tulis bisa diterima karena merupakan hasil ijtihad yang berpeluang untuk benar dan salah.
Beberapa tafsir bi Ra’yi yang terkenal antara lain: tafsir Al Fakhrur Razy, tafsir Abu Suud, tafsir Al-Khazin.

Metodologi tafsir Al Qur’an
Metodologi tafsir dibagi menjadi empat macam, yaitu metode tahlili, ijmali, muqaron, dan maudlu’i.

Metode Tahlili (analitik)
Metode tahlili adalah metode tafsir Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur’an dengan mengurai berbagai sisinya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al Qur’an. Metode ini merupakan metode yang paling tua dan sering digunakan.
Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat, kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqh, dalil syar’I, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, dan lain sebagainya.

Metode Ijmali (global)
Metode ini berusaha menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili, namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh tiap lapisan dan tingkatan ilmu kaum muslimin.

Metode Muqarran
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir, dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.

Metode Maudhui (tematik)
Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.

Dikutip dari Buletin An-Naba’ Edisi 11 Tahun ke-2

Sumber tulisan ada di: https://belajarislam.com/alquran/pengantar-ilmu-tafsir/
Share:

Mengenal Tokoh dan Warisan Peradaban Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sejarah peradaban Islam selama lebih kurang delapan abad mengalami masa kejayaan, banyak penemuan yang berhasil dilakukan oleh ilmuwan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, di antara sebagai berikut.

Ilmu filsafat
Tokohnya antara lain Al-Kindi (194-260 H/809-873 M), Al-Farabi (w 390 H/961 M), Ibnu Bajah (w 523 H), Ibnu Thufail (w 581 H), dan Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M). Ibnu Sina, selain dikenal ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai bapak kedokteran Islam. Ia banyak menulis karya, seperti Qanun fi Thib, Asy-Syifa, dan lainnya.
Selain nama di atas, tokoh lainnya adalah Al-Ghazali (450-505 H/1058-1101 M). Beberapa karyanya adalah Ihya Ulum Al-Din, Tahafut al-Falasifah, dan al-Munqizh Minadl Dhalal.
Kemudian, ada Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M). Karangannya adalah Mabdiul Falasifah, Kasyful Afillah, dan Al-Hawi dalam bidang kedokteran.



Ilmu kedokteran
Selain Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, tokoh lainnya adalah Jabir bin Hayyan (w 161 H/778 M), Hunain bin Ishaq (194-264 H/810-878 M), Thabib bin Qurra (w 901 M), dan Ar-Razi (251-313 H/809-873 M).

Ilmu matematika
Dua orang tokohnya antara lain adalah Umar Al-Farukhan (arsitek pembangunan Kota Baghdad) dan Al-Khawarizmi (pengarang kitab Al-Jabar yang juga menemukan angka nol (0)). Sedangkan, angka 1-9 berasal dari India yang dikembangkan oleh Islam. Karena itu, angka 1-9 disebut pula dengan angka Arab. Namun, setelah ditemukan orang Latin, namanya pun disebut dengan angka Latin.

Bidang Astronomi
Tokoh perbintangan atau ilmuwan islam dalam bidang ini adalah Al-Fazari, Al-Battani, Abu Wafak dan Al-Farghoni.

Bidang Seni Ukir
Dalam bidang ini, umat Islam cukup terkenbal dengan hasil seni pada botol tinta, papan catur, payung, pas bunga, burung-burungan dan pohon-pohonan. Tokohnya antara lain Al-Badr dan Al-Tariff sekitar tahun 961-976 M. Seni ukir yang dikembangkan tidak hanya pada kayu tapi juga pada logam, emas, perak, marmer, mata uang, dan porselin.

Sumber Tulisan di https://khazanah.republika.co.id/berita/pz6o2x313/mengenal-tokoh-dan-warisan-peradaban-islam
Share:

Pengertian Ghazwul Fikri

Perang salib dalam arti peperangan fisik mungkin sudah berakhir. Namun, satu hal yang harus disadari oleh kaum muslimin, peperangan yang bersifat non fisik sejatinya masih terus berlangsung hingga saat ini. Peperangan inilah yang kemudian disebut dengan istilah al-ghazwul fikri.
Secara Bahasa, ghazwul fikri terdiri dari dua suku kata yaitu ghazwah dan fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan fikr berarti pemikiran. Jadi, secara bahasa ghazwul fikri diartikan sebagai invansi pemikiran.[1]

Sebagian orang menyebut ghazwul fikr dengan istilah perang ideologi, perang budaya, perang urat syaraf, dan perang peradaban. Intinya, ia adalah peperangan dengan format yang berbeda, yaitu penyerangan yang senjatanya berupa pemikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, propaganda, dialog dan perdebatan.

Konon, orang yang pertama kali menyadari pentingnya metode baru dalam menaklukkan Islam adalah Raja Louis IX. Setelah ditawan oleh pasukan muslim di Al-Manshuriyah Mesir pada perang salib ke VII[2], di dalam memoarnya ia menulis: “Setelah melalui perjalanan panjang, segalanya menjadi jelas bagi kita. Kehancuran kaum muslimin dengan jalan konvensional (perang fisik) adalah mustahil. Karena mereka memiliki metode yang jelas dan tegas diatas konsep jihad fii sabilillah.

Dengan metode ini, mereka tidak pernah mengalami kekalahan militer.” Ia melanjutkan: “Barat harus menempuh jalan lain (bukan militer). Yaitu jalan ideologi dengan mencabut akar ajaran itu dan mengosongkannya dari kekuatan, kenekatan dan keberanian. Caranya tidak lain adalah dengan menghancurkan konsep-konsep dasar Islam dengan berbagai penafsiran dan keragu-raguan.”[3]

Dalam artikel berjudul: Serial Perang Salib Modern #3: Perang Salib, Benarkah?” disebutkan bahwa Raja Louis IX berkata: ”Tidak mungkin meraih kemenangan atas umat Islam melalui peperangan. Kita hanya akan bisa mengalahkan mereka, dengan cara sebagai berikut: (a) menimbulkan perpecahan di kalangan pemimpin umat Islam. Jika sudah terjadi, perluaslah ruangnya sehingga perselisihan ini menjadi faktor yang melemahkan umat Islam. (b) Tidak memberi peluang berkuasanya seorang penguasa yang shalih di negeri-negeri Islam dan Arab. (c) merusak pemerintahan di negara-negara Islam dengan suap, kerusakan dan wanita sehingga fondasi bangunan terpisah dengan puncak bangunan. (d) mencegah munculnya tentara yang meyakini hak atas tanah airnya, rela berkorban demi membela prinsip tanah airnya. (e) mencegah terbentuknya persatuan bangsa Arab di kawasan Arab. (f) Membuat sebuah negara Barat di tengah kawasan Arab, mulai dari Ghaza di sebelah selatan, sampai Antokia di sebelah utara, kemudian ke arah timur, terus memanjang sampai ke Barat.[4]

Sebelum menyimpulkan pengertian ghazwul fikri, perlu kita ketahui empat kata kunci dan target dari ghazwul fikri ini.
  1. Ifsadul akhlak (merusak akhlak), yaitu memporak-porandakan etika dan moral kaum muslimin sehingga tidak lagi berakhlak sesuai etika dan moral ajaran Islam. Kaum muslimin diserbu dengan budaya permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham memburu kelezatan materi), gemar bersenang-senang, melepaskan insting tanpa kendali, berlebih-lebihan dalam memuaskan kesenangan perut, mencabut nilai-nilai kesopanan, kesantunan, dan rasa malu dari kalangan pria maupun wanita.
  2. Tahthimul fikrah (menghancurkan pemikiran), yaitu mengacaukan pemahaman kaum muslimin dengan memunculkan berbagai macam isme-isme yang asing dan bertentangan dengan ajaran Islam, seperti: atheisme, materialisme, komunisme, liberalisme, dan lain-lain.
  3. Idzabatus syakhshiyyah (melarutkan kepribadiaan), yaitu menggoyahkan sikap hidup kaum muslimin sehingga enggan beramar ma’ruf nahi munkar dan bahkan bersikap mujamalah (basa-basi), toleran atau ikut-ikutan kepada orang-orang yang menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Misalnya dengan dalih HAM, tidak sedikit kaum muslimin ikut-ikutan mentolerir, bahkan melegalkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Contoh: lesbian, gay, biseksual, dan transgander (LGBT).
  4. Ar-Riddah (murtad), yaitu melepaskan kewajiban agama, mengingkarinya, bahkan keluar dari agama.
Target dari ghazwul fikri ini adalah berubahnya pribadi-pribadi muslim sehingga menjadi orang-orang yang memberikan al-wala-u lil kafirin (loyalitas, kesetiaan, dan kecintaan kepada orang-orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala).
Menurut Ali Abdul Halim Mahmud[5], ghazwul fikri merupakan suatu upaya untuk menjadikan:
  1. Bangsa yang lemah atau sedang berkembang, tunduk kepada negara penyerbu.
  2. Semua negara, negara Islam khususnya, agar selalu menjadi pengekor setia negara-negara maju, sehingga terjadi ketergantungan di segala bidang.
  3. Semua bangsa, bangsa Islam khususnya, mengadopsi ideologi dan pemikiran kafir secara membabi buta dan serampangan, berpaling dari manhaj Islam, Al Quran dan Sunnah.
  4. Bangsa-bangsa mengambil sistem pendidikan dan pengajaran negara-negara penyerbu.
  5. Umat Islam terputus hubungannya dengan sejarah masa lalu, sirah nabinya dan salafus saleh.
  6. Bangsa-bangsa atau negara-negara yang diserbu menggunakan bahasa penyerbu.
  7. Ghazwul fikri adalah upaya melembagakan moral, tradisi, dan adat-istiadat bangsa penyerbu di negara yang diserbunya.
Sejak awal, Islam telah memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap orang-orang kafir dan munafik yang selalu berupaya menyesatkan mereka,

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. An-Nisa, 4: 89)
*****
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan pengertian ghazwul fikri adalah serangan pemikiran, ide, budaya, dan propaganda yang dilancarkan suatu bangsa/peradaban kepada bangsa/peradaban lain sehingga mengalami kelemahan mental dan dapat dikuasai untuk kepentingan mereka.
Wallahu A’lam.
Besambung ke materi selanjutnya, silahkan klik:
  1. Marahilul Ghazwil Fikri (Bag. 1)
  2. Marahilul Ghazwil Fikri (Bag. 2)
  3. Wasailul Ghazwil Fikri
  4. Adhrarul Ghazwil Fikri (Bahaya-bahaya Ghazwul Fikri)

Catatan Kaki:

[1] Dikutip dari tulisan Bahron Ansori: http://www.mirajnews.com/id/ghazwul-fikri-dan-kelompok-penebar-permusuhan/74746
[2] Dalam perang di Al-Manshurah, sekitar 30.000 tentara Perancis gugur, tidak sedikit pula yang ditawan. Sementara Raja Louis berhasil ditangkap dan dipenjara di rumah Ibnu Luqman. Setelah membayar uang tebusan 10 juta Frank, Louis beserta sisa-sisa keluarga dan pasukannya dibebaskan (Lihat: Buku Pintar Sejarah Islam, Qasim A. Ibrahim & Muhammad A. Saleh, Penerbit: Serambi)
[3] Ibid. Penyusun sampai saat ini belum menemukan buku rujukan asli yang menyebutkan tentang hal ini.
[4] Lihat: https://www.arrahmah.com/read/2012/06/12/20462-serial-perang-salib-modern-3-perang-salib-benarkah.html
[5] Dr.Ali Abdul Halim Mahmud, Al – Ghazwul -Fikri wat –TiyaratulMuadiyah Lil- Islam


Sumber tulisan: https://tarbawiyah.com/2018/01/20/tarif-ghazwul-fikri-pengertian-ghazwul-fikri/
Share:

Unsur Terpenting dalam Pendidikan (Bagian I)

Kalau Anda ditanya, hal apa yang menurut Anda penting dalam dunia pendidikan. Apa kira-kira jawaban yang terbayang dalam benak Anda. Saya yakin setiap orang pasti akan berbeda jawabannya sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya masing-masing, Barangkali ada yang menjawab gedung tempat belajar, tenaga pengajar, buku-buku pelajaran, alat-tulis, biaya operasional, kurikulum, sarana-prasarana, murid dan lain sebagainya. Jawaban tersebut tidak lah salah. Hanya saja saya ingin mengerucutkan pada tiga hal penting yang menurut saya harus ada dalam dunia pendidikan yaitu murid, guru, dan kurikulum.

Ketiga hal tersebut haruslah hadir dalam proses pendidikan. Salah satu saja tidak ada maka tidak akan terjadi proses pendidikan atau pengajaran. Murid harus ada, guru harus ada, juga kurikulum yang mau disampaikan pastinya juga ada. Bisa dibayangkan kalau ada guru dan materi, tetapi murid tidak ada, maka mau diajarkan kepada siapa materi tersebut. Demikian juga ketika ada guru dan murid, tetapi tidak ada materinya maka guru dan murid akan sama-sama membisu. Dan yang terakhir ada materi dan murid tetapi tidak ada guru yang mengajarkan, maka tidak akan bisa ada proses pembelajaran.

Ketiga hal tersebut juga berlaku secara umum dan luas, tidak hanya dalam proses pembelajaran seperti dalam kelas tetapi juga proses pembelajaran yang sifatnya informal. Misalnya dalam ceramah-ceramah. Tentu harus ada penceramah, orang yang diceramahi, dan materi yang mau disampaikan. Ketika tidak ada salah satu, maka tidak akan terjadi proses pembelajaran.

Berbeda dengan hal-hal yang lain, yang ketika tidak ada, proses pembelajaran masih akan tetap bisa berjalan. Sebutlah misalnya buku-buku pelajaran. Maka guru yang cerdas cukup hanya menggunakan pengetahuan yang tersimpan dalam dirinya, dia bisa memberikan pembelajaran kepada murid-muridnya. Hanya saja hari ini, di lapangan terkadang masih ada guru-guru yang ilmu tidak ada dalam dirinya, tetapi adanya hanya di buku-buku, di laptop-laptop atau di Hand Phone-nya masing-masing. Mereka tidak bisa mengajar kecuali membawa buku, laptop, atau HP. Kalau membawa buku masih dipancang cukup baik karena buku juga masih identik dengan ilmu pengetahuan. Dibandingkan dengan laptop atau HP, maka yang terbayang dalam benak sisa adalah alat kerja dan sarana komunikasi.

Misal yang lain yang juga tidak harus ada adalah gedung tempat belajar. Meskipun tidak ada gedung, proses pembelajaran pastinya masih bisa berjalan. Jangan sampai para guru tidak semangat belajar hanya karena gedung tempat belajar yang kurang megah. Sungguh kalau belajar meskipun hanya di bawah pohon pembelajaran pastinya masih tetap bisa berjalan. Dan kondisi tempat sendiri bahkan bisa menjadi pembelajaran. Karena para guru tidak boleh mengeluh hanya karena merasa tempat belajar yang kurang layak. Bahkan gedung itu sifatnya hanyalah aksesoris dalam proses pembelajaran. Tidak sedikit sekolah hari ini yang menjadikan gedung sekolah sebagai sarana promosi.

Oleh karena itu perlu dipahami tiga hal terpenting tadi yang harus ada dalam proses pembelajaran. Jika salah satu tidak ada, maka tidak akan terjadi proses pembelajaran. Hal ini bisa dianalogikan seperti halnya orang yang bertepuk sebelah tangan, pastinya tidak akan menghasilkan bunyi. Atau seperti orang yang mau menyalakan kompor sedangkan bahan bakar tidak ada, atau seperti orang yang mau menikah tapi tidak ada pengantinnya.

Namun yang juga perlu diperhatikan dalam tiga unsur tersebut adalah kualitas. Guru, kurikulum, murid harus berkualitas. Jika kualitasnya baik, maka hasil pendidikannya juga akan baik. Guru haruslah berkualitas sehingga mampu menanamkan nilai-nilai pembelajaran dengan baik kepada murid-muridnya. Kurikulum haruslah berkualitas sehingga bisa benar-benar dapat diaplikasikan, tidak membingungkan, serta memberikan manfaat kebaikan. Demikian juga murid, harus berkualitas sehingga hasil benar-benar mampu menjadi generasi gemilang dan berkualitas. Generasi yang dengan ilmunya, dia mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan tidak menjadi beban bagi masyarakat.



*Bersambung insyaAllah dengan judul yang sama, bagian 2*
Share:

Resensi "Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010"




Judul : Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010Editor : Suyitno Ethexs
Kurator : Chamim Kohari-Saiful Bakri-Umi Salama
Desain cover : warung grafis indonesia
Lukisan cover : Putu Sutawijaya, Sangkring Art Space, Yogyakarta
Foto lukisan cover : oleh Wahyu Wiedy Tantra
Layout : kang madrim
Cetakan pertama : Oktober 2010
ISBN : 978-602-97907-1-9
Tebal : xx + 689 halaman
Harga : Rp 100.000,-



Penerbit:
Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto
Jl. Jayanegara 4
Kabupaten Mojokerto 61361
e-mail: dewankeseniankabmojokerto@gmail.com



CERPEN DI GAPURA CANDI WRINGIN LAWANG
Sebuah Pengantar
Sungguh, kami harus tahu diri, dan kami mencoba meyakinkan bahwa tugas kurator yang hendak diamanatkan kepada kami sebenarnya salah alamat, dan kami menyodorkan beberapa nama yang layak mengemban tugas itu, tetapi ditolak dengan alasan bahwa nama-nama yang dimaksud memang layak, tetapi dianggap tidak "steeril" dari virus-virus "Primodialisme komunitas" yang justru akan menjadi "beban" bagi niat baik diselenggarakannya "Festival Bulan Purnama Majapahit", memang selama ini jarang ada yang berani menerbitkan antologi puisi atau cerpen di luar "klik"nya.

Tugas kurator itu akhirnya tetap diamanatkan kepada kami yang "wong ndeso" yang dianggap belum terkontaminasi oleh "primordialisme komunitas" dan hirukpikuk sastra di media massa. Terus terang dengan "tergagap-gagap" kami terima amanat itu, dan betul setelah kami baca karya-karya sastra yang telah dikirim, dan kami buka lembaran-lembaran kertas yang menumpuk sekitar 7 rim, yang di dalamnya masih campur antara karya puisi dan karya cerpen, ternyata terdapat banyak nama-nama "beken" yang sudah terkenal di jagad sastra Indonesia, nyali kami menjadi semakin "mungkret", tetapi dengan kesabaran dan keberanian yang diberani-beranikan, kami terus membenamkan diri dalam kubangan cerpen-cerpen dan puisi-puisi, ternyata semakin dalam kami menyelam semakin asyik.

Membaca cerpen yang bertebaran di dalam antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sungguh sangat mendebarkan, kami semacam menapaki "Cahaya Tajalli" yang berjajar panjang penuh pesona, kami betul-betul diajak melayari aneka pelangi warna-warni keindahan Nusantara. Dari cerpen yang paling sederhana dan pendek seperti "Aku dan dia ada di sana" karya Alfi Laila, seorang pelajar yang masih duduk di kelas VII, sampai dengan cerpen yang "sufistik" dan panjang seperti "Montel" karya Fahruddin Nasrulloh, seorang cerpenis yang karya-karyanya sudah banyak dimuat di media massa dan buku-buku kumpulan cerpen Indonesia, dimana untuk memahaminya kami harus "mengeryitkan kening" membaca berulang-ulang dengan menggunakan bashar dan bashirah (mata kepala dan mata hati) ditambah dengan menggunakan imajinasi yang rangkap, sampai-sampai muncul kekuatiran, jangan-jangan cerpen seperti itulah yang bisa menjadikan masyarakat Indonesia semakin menjauhi sastra. Pada hal Guy de Maupassant, seorang pengarang dari Perancis mengatakan bahwa "Kekuatan cerpen bukan terletak pada panjang-pendeknya cerita, tetapi bagaimana pengarang yang hanya berada dalam satu ruang terbatas mampu menyajikan suatu dunia, yang unik dan penuh dengan berbagai kemungkinan". Dalam cerpen "Montel", Fahruddin sepertinya sengaja mencoba keluar dari "tradisi" kepenulisan cerpen, atau ia sedang "bergenit-genit" atau barangkali itu hanya sebagai "strategi literer" untuk menjadikan pembaca agar terbelalak dan geleng-geleng.

Pada umumnya cerpen yang masuk dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, menggunakan ragam bahasa intimed (bahasa pergaulan sehari-hari) tetapi ada juga yang menggunakan bahasa baku seperti cerpen "Bila rindu itu datang" karya Masduri AS (Sumenep). Lain lagi dengan Anna Noor (Tangerang), cerpen karyanya yang berjudul "Kenduri Cinta" mampu menggambarkan setting dengan apik dan memasukkan unsur ekstrinsik sosio kulutural masyarakat Jawa Tengah, sehingga cerpennya lebih menarik. Termasuk cerpenis Yusri Fajar (Malang) dengan judul karyanya "Perempuan yang bercengkerama dengan anjing" juga berhasil menggambarkan setting dengan baik, sehingga mampu memindahkan pembaca dari tempatnya, seakan-akan pembaca seperti berada di Frankfurt Jerman. Khoirul Umam (Sumenep) dengan cerpen "Mayat"nya juga berhasil mengurai alur cerita sehingga asyik dinikmati, Begitu juga Mochammad Asrori (Mojokerto) dengan karyanya yang berjudul "Lalat", tema ceritanya mengarah ke aliran seni simbolis. Cerpenis Suhairi dengan karyanya yang berjudul "Penggusuran mayat" sedikit ironi, seakan-akan Indonesia itu sempit, sampai-sampai makam pun harus digusur. Wahyudi Zie dengan karyanya yang berjudul "Wanita yang dipasung di bawah pohon beringin" menyadarkan kepada kita sebenarnya yang gila itu siapa, dan masih banyak lagi cerpen-cerpen menarik lainnya.

Di saat sedang suntuk-suntuknya menikmati karya-karya itu, tiba-tiba kami teringat dengan Budi Darma, yang menyatakan "Bila seorang pengarang hanya mampu melihat obyek luarnya saja, maka itu hanya akan menjadi dongeng. Dan begitu habis pengalaman pengarang, maka habis pulalah kemampuan pengarang untuk mendongeng. Tentu saja pengarang yang baik tidak tabu mengangkat realitas harafiah ke dalam novelnya ---termasuk cerpen--- selama yang menjadi tumpuan baginya bukan fakta semata-mata. Pengarang mempunyai imajinasi dan aspirasi. Dengan imajinasinya dia dapat menciptakan realitas yang bukan harafiah, meskipun yang diangkatnya adalah realitas harafiah. Setelah menjadi novel realitas harafiah ini sudah mengalami metamorphose melalui kekuatan imajinasi pengarangnya". (Harmonium 1975 : 74). Paling tidak Budi Darma mengingatkan kepada para cerpenis agar tidak terjebak pada realitas semata, sebab hasilnya akan bisa menjadi seperti karya jurnalistik.

Dari Gapura Candi Wringin Lawang Trowulan Mojokerto, kami dan masyarakat sastra menggantungkan harapan, semoga Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, meskipun kami sadar bahwa hal itu seperti mimpi, tidak mudah dan memerlukan kerja besar dari semua pihak.

Akhirnya, dari semua naskah cerpen yang dikirimkan sebanyak 170 judul, dan hanya 94 judul cerpen yang kami anggap layak ditampilkan di Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit tahun 2010 ini, dan selebihnya yang 76 cerpen yang tidak lolos kami mohon maaf.

Dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mohon maaf atas keterbatasan kami, kami yakin tiada gading yang tak retak, karena itu tegur sapa dan sumbang saran dari semua pihak sangat diharapkan.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Mojokerto, 20 Oktober 2010
Kurator,

1. Chamim Kohari
2. Umi Salama
3. Saiful Bakri


Share:

Resensi "Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010"




Judul: Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010
Editor: Suyitno Ethexs
Kurator: Chamim Kohari-Saiful Bakri-Umi Salama
Desain cover: warung grafis indonesia
Lukisan cover: Joni Ramlan, Mojosari, Mojokerto
Layout: kang madrim
Cetakan pertama:Oktober 2010
ISBN: 978-602-97907-0-2
Tebal: 829 + xxxviii halaman
Penerbit: Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto Jl. Jayanegara 4 Kabupaten Mojokerto 61361

email : dewankeseniankabmojokerto@gmail.com, Hak cipta ada pada masing-masing penulis
Berikut catatan kurator:

PUISI DI GAPURA CANDI WRINGIN LAWANG

Sebuah Pengantar

“Ia tidak menulis untuk dibaca tetapi untuk didengar; nia tidak menghidangkan teka-teki, tetapi menulis untuk dimengerti” ( A. Teeuw ).

“Pikiran merubah kapas menjadi kain emas dan merubah batu menjadi cermin terang, namun penyair dengan pesona sajak yang dilakukan memerah minuman bermadu dari sengat kehidupan” (Iqbal, Tulip dari Sinai)

”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata, dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”. (Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227)

Sungguh, kami harus tahu diri, dan kami mencoba meyakinkan bahwa tugas kurator yang hendak diamanatkan kepada kami sebenarnya salah alamat, dan kami menyodorkan beberapa nama yang layak mengemban tugas itu, tetapi ditolak dengan alasan bahwa nama-nama yang dimaksud memang layak, tetapi dianggap tidak “steeril” dari virus-virus “Primodialisme komunitas” yang justru akan menjadi “beban” bagi niat baik diselenggarakannya “Festival Bulan Purnama Majapahit”, memang selama ini jarang ada yang berani menerbitkan antologi puisi atau cerpen di luar “klik”nya.

Tugas kurator itu akhirnya tetap diamanatkan kepada kami yang “wong ndeso” yang dianggap belum terkontaminasi oleh “primordialisme komunitas” dan hirukpikuk sastra di media massa. Terus terang dengan “tergagap-gagap” kami terima amanat itu, dan betul setelah kami baca karya-karya sastra yang telah dikirim, dan kami buka lembaran-lembaran kertas yang menumpuk sekitar 7 rim, yang di dalamnya masih campur antara karya puisi dan karya cerpen, ternyata terdapat banyak nama-nama “beken” yang sudah terkenal di jagad sastra Indonesia, nyali kami menjadi semakin “mungkret”, tetapi dengan kesabaran dan keberanian yang diberani-beranikan, kami terus membenamkan diri dalam kubangan puisi-puisi dan cerpen-cerpen, ternyata semakin dalam kami menyelam semakin asyik.

Membaca puisi dan cerpen yang bertebaran dan yang hendak dikumpulkan dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sungguh sangat mendebarkan, kami semacam menapaki “Cahaya Tajalli” yang berjajar panjang penuh pesona, kami betul-betul diajak melayari aneka pelangi warna-warni keindahan Nusantara. Dari “puisi terang” sampai “puisi gelap”. Dari penyair yang sudah terkenal seperti Ahmadun Yosi Herfanda, sampai yang baru muncul seperti Mas Hikmatul Azimah yang lulusan setingkat Kejar Paket B, mereka semua berusaha menyuguhkan karya-karyanya yang terbaik, mereka telah “ijtihad” untuk melahirkan karya-karyanya dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya kedalam “bentuk” dan “isi” puisi, tentu dengan caranya sendiri-sendiri. Meski sangat heterogin tetapi belum ada yang ingin “merusak” konvensi bahasa, dan ia juga tidak beranjak lebih jauh, tak ada keinginan dari para penyair itu untuk menyimpang, sebagaimana disinyalir oleh Cassier, yang pada umumnya menimpa para seniman. Mereka para penyair yang mengirimkan karya-karyanya belum ada yang berani menggunakan hak “licentia poetica” nya.

Berbeda dengan Chairil Anwar, atau setidak-tidaknya Sutardji Calzoum Bachri yang berani menentukan dan membuat jalannya sendiri, sehingga ia layak dijadikan pemimpin madzhab perpuisian di Indonesia, meski kami yakin suatu saat kelak akan lahir mujaddid (pembaharu) perpuisian di Indonesia. Kami berharap dari Gapura Wringin Lawang, Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, hingga melahirkan sastrawan-sastrawan terbaik Indonesia, walau pun Budi Darma menyatakan “Angkatan dalam sastra tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan dalam sastra itu sendiri. Suatu angkatan dalam sastra dapat ada, apa bila ada gejolak yang bersambung-gayung dengan dunia pemikiran”

Secara sederhana, menulis puisi itu mudah, apa bila hal itu dilihat dari persoalan teknis yang bisa dipelajari dan dilakukan oleh siapa pun. Menurut Afrizal Malna “apa sulitnya menulis puisi, tetapi menjadi seorang penyair seringkali lahir dari konstruksi kondisi-kondisi tertentu. Penghormatan terhadap puisi dan penyair justru berlangsung dalam ketegangan-ketegangan ini, karena itu tidak semua orang bisa menjadi penyair”.

Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sengaja memberi ruang kepada siapa pun yang intens menulis karya sastra, sebuah ruang yang sangat luas untuk mereka-mereka yang sudah “tercemar” mau pun yang “terhambat” atau bahkan yang “terlempar” dari mass media, komunitas-komunitas, dan klik-klik sastra tertentu. Dan biarlah karya-karya puisi yang ada dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, hidup bebas berdiri dan berbicara sendiri dengan eksistensi dan esensinya masing-masing. Sebagai kurator kami tidak ingin menghakimi. Para penyair dan puisi-puisinya yang lolos masuk dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, semoga tidak hanya “kebetulan” atau hanya sekedar “numpang beken”, atau sekedar latah biar disebut penyair. Dan kami tidak ingin menggurui, sebab hidup adalah pilihan-pilihan nurani, yang demi kehormatan harus diseriusi, bila tidak, maka cap “pecundang” akan menempel terus dan menjadi bayang-bayang yang dapat menghantui di setiap langkahnya. Penyair romantik John Keats (1795-1821) mengatakan “Sebab utama kegagalan seniman, baik dalam menggarap obyek umum maupun obyek yang sudah dikenal identitas keindahannya adalah karena kurangnya intensitas pada diri senimannya”.

Harga diri dan eksistensi penyair terdapat pada karya dan kecintaannya terhadap apa yang digelutinya, tetapi kata D. Zawai Imron “Banyak penyair yang pada akhirnya tidak setia dengan kepenyairannya. Semula menggebu-gebu menulis puisi namun dengan mudahnya meninggalkan puisi begitu saja”

Dari Gapura Candi Wringin Lawang Trowulan Mojokerto, kami dan masyarakat sastra menggantungkan harapan, semoga Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, meskipun kami sadar bahwa hal itu seperti mimpi, tidak mudah dan memerlukan kerja besar dari semua pihak.

Akhirnya, dari 1.524 judul puisi yang dikirimkan oleh 310 penyair, hanya 620 judul puisi yang dinyatakan lolos dan dapat ditampilkan di Antologi Puisi Festifal Bulan Purnama Majapahit tahun 2010 ini, dan selebihnya yang 1.214 judul puisi dinyatakan tidak lolos, bukan karena tidak baik, tetapi hanya persoalan keterbatasan tempat saja.

Dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mohon maaf atas keterbatasan kami, kami yakin tiada gading yang tak retak, karena itu tegur sapa dan sumbang saran dari semua pihak sangat diharapkan.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Mojokerto, 20 Oktober 2010

Kurator, (1. Chamim Kohari , 2. Umi Salama, 3. Saiful Bakri)
Share:

Antologi Cerpen "Sekolah Kolong Langit"



“Jalan meraih mimpi memang tidak pernah mudah. Akan selalu ada
onak dan duri yang menghalangi. Namun semangat, harapan, kerja
keras, dan doa akan bisa mengatasi itu semua. Buku ini menulis
tentang itu semua, sebagian ceritanya begitu menyentuh dan layak
diapresiasi.”
Habiburrahman El Shirazy
Novelis, Sarjana Al Azhar University, Cairo, Mesir
Penulis Novel Fenomenal Ayat Ayat Cinta–
.
Telah terbit Buku “Sekolah Kolong Langit” karya 23 Penulis Muda Indonesia yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Ngaliyan – Semarang.  Buku antologi kedua setelah “Imazonation” yang terbit tahun lalu.  Semoga membawa keberkahan dan memberikan manfaat, walau sedikit.  Bersemangatlah dalam menulis karena ada janji pahala di setiap huruf-huruf yang menggoreskan kebaikan.
.
TENTANG BUKU
Judul                   :  Sekolah Kolong Langit
Edisi/Cetakan  :  I / Cetakan 1, Maret 2011
Tebal                    :  224+xii halaman
Penerbit             :  pm-publisher Semarang
Harga                   :  Rp 30.000,-
.
Kumpulan cerpen inspiratif
dan Penuh Pencerahan
25 Penulis Muda Indonesia
Oliphia Olive, Nurfita Kusuma Dewi, Syah Azis Nangin, Agus
Qoribul Akhwan, Silvia Dyah Puspitasari, Alvi Darojaturrois, Azhifah Zafitri, Edy Arif Tirtana, Muhammad Khoirul Anam, Eva Nuriatul Fajr, Mulipah, Raddy Wicaks al-Jihadi, Rizal Mubit, Hanifah Dian, Fajriatul Mubarokah, Adi Seno, Ahmad Khairul Anam el-Mughnie, Na’imah Awan Nur, Rofiq Hidayat, Nur Ariyanto, Winas Nazula Fajrin Maulia, R Fahra Nisa, Ali Margosim Chaniago
Share:

Antologi Esai "Islam dan Terorisme"



Judul Buku : Islam dan Terorisme
Nama Pengarang : Bernando J. Sujibto M., Abdullah Badri, Wahyu Choerul Cahyadi, dkk.
Penerbit : STAIN Purwokerto Press dan Grafindo
Jumlah Halaman :352 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp 15.000,-


Spesifikasi khusus :
Buku ini adalah hasil lomba Cipta Esai Mahasiswa Tingkat Nasional 2010 yang diselenggarakan oleh LPM OBSESI dan Dewan Eksekutif Mahasiswa STAIN Purwokerto.
Tahun 2010, terorime begitu hangatnya di penjuru dunia. STAIN Purwokerto Press dan LPM OBSESI serta DEMA STAIN Purwokerto menghadirkan buku dalam rangka menjawab permasalahan tersebut. Namun buku ini asyik dibaca hingga sekarang sebagai referensi toleransi keagamaan yang masih perlu ditingkatkan
Share:

Antologi "Kekuasaan dan Agama"




Judul Buku : Kekuasaan dan Agama
Nama Pengarang : Gugun El Guyanie, Ardiyansyah, Muhammad Ismalel, dkk
Penerbit : OBSESI Press dan Grafindo
Jumlah Halaman : 298 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp 15.000,-


Spesifikasi khusus :
Buku ini adalah hasil lomba Cipta Esai Mahasiswa Tingkat Nasional 2009 yang diselenggarakan oleh LPM OBSESI dan Dewan Eksekutif Mahasiswa STAIN Purwokerto.
Share: