Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

~ InspirAzis ~

Menulis dengan Hati, Menyeru dengan Hikmah

Selangkah Demi Selangkah

Lama rasanya tidak menulis lagi di blog kesayanganku ini. Munkin karena akhir-akhir ini aku rasanya disibukkan dengan berbagai urusan. mulai dari urusan pribadi, keluarga, organisasi, kuliah, pertungan bahkan urusan pekerjaan padahal sudah beberap minggu yang lalu aku minta resign. Ah, sebenarnya dibilang sibuk juga tidak, karena aku terkadang masih sempat tiduran di sela-sela mengerjakan tugas-tugas kuliah, tapi mungkin karena aku yang tidak pandai mengatur waktu. sampai-sampai my inspirazone sempat terabaikan. 

Ada satu moment yang aku alami di bulan ini yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. momen tersebut terasa indah di satu sisi, tapi hambar di sisi lain. Yaitu tentang pertunanganku. siap yang tidak bahagia ketika ia sedang bertunangan dengan kekasih hatinya karena hanya menunggu waktu ia akan menyempurnakan agamanya dengan menikah dengan mengharap ridho Allah SWT terutama dalam menghindari fitnah yaitu cobaan dari Allah tentang hubungan dua keturunan adam yang berbeda jenis kelamin. Karena jika seorang laki-laki dan perempuan sudah kasmaran maka tidak sedikit yang tidak dapat menahan diri untuk tidak terjerumus pada perbuatan maksiat.

Hari Senin tanggal 11 Juni 2012 lalu, aku berusaha mengindari fitnah itu semua dengan melamar seorang gadis yang selama ini aku sayangi. Lamaran terseut dilaksanakan sore hari seusai sholat Ashar dan berakhir sebelum sholat Maghrib. Dari lamaran tersebut aku berharap aku akan bisa berfikir lurus tanpa memikirkan jodoh dan melirik ke sana-kemari karena aku sudah ada yang punya. tinggal menunggu waktu akad nikah yang insya Allah juga akan diadakan di tahun ini yaitu sekutar bulan Dzulhijjah / Oktober.

Dalam lamaran tersebut aku ditemani oleh kakakku tersayang, Sulasteri, yang jauh-jauh datang dari Binjai, SUmatera Utara mewakili keluarga. Tapi aku tidak ditemani Ayah dan Ibu karena bereka berencana akan datang bertepatan dengan akad nikah. Sebenarnya aku ada kakak kandung yang ada di Semarang juga, tapi karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan akhirnya dia tidak bisa menemani apalagi selama ini dan mungkin selamanya dia tidak akan merestui hubunganku dengan tunanganku karena baginya tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan selama ini. Apalagi keinginanku untuk menikah sebelum lulus kuliah dan belum bisa membahagiakan orang tua sepenuhnya, hal ini juga menjadi salah satu penentangannya jika aku menikah sekarang. Ya, aku berfikir apa yang dilakukan itu memang masuk akal apalagi aku memang belum benar-benar mapan bahkan belum pernah mengirimi uang ayah di ibu sepeserpun. aku berharap semoga Allah akan membukakan jalan bagiku untuk bisa berbakti lagi kepada orang tua dan membuka pintu hati kakakku tersebut sehingga ia bisa menerima hubunganku dan sang tuangan.

Alhamdulillah, dalam kesempatan tunangan tersebut aku masih bisa ditemani oleh sahabatku Muh. Khairul Anam juga ayahnya yang sudah aku anggap sebagai orang tua, ditambah lagi Putri, sahabat dekat Anam juga Ibundanya.

Pada saat lamaran ayah dari Anam berperan sebagai juru bicara dari keluarga saya yang menyampaikan hajatan kami untuk melamar Anny Riwayati, putri dari Pak Wahib yang beralamat di daerah Kendal, Jawa Tengah. Kami disambut dengan senang hati dan diterima langsung oleh calon mertua. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Jawa. Hal ini membuat kakanda Sulasteri tidak paham betul apa yang dibicarakan oleh ayah dari Anam dengan Keluarga tunanganku sehingga terjadi sedikit miss comunikasi. di pihak Kak Sulasteri terutama dalam penentuan hari pernikahan.

Memang belum ditentukan kapan tanggalnya. namun pesan dari Ayahanda di ruamah agar dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah atau Dzulqo'dah. Padahal dari pihak perempuan menginginkan akad nikah dilangsungkan pada bulan Syawwal. Aku tidak banyak berkomentar dalam hal ini karena bagiku semua bulan sama saja, semuanya adalah bulan baik. Namun aku ngikut sesuai dengan kesepakatan orang tua saja. Akhirnya jalan tengah yang diambila adalah bulan Dzulhijjah karena di bulan Dzulqo'dah tidak umum orang melangsungkan akad nikah di daerah Jawa. 

Keesokan harinya, tanggal 12 Juni 2012, Kak Sulaster pulang ke Medan. Dia amat terburu-buru dan belum sempat jalan-jalan di sekitar Kota Semarang. Kak Sulasteri sepertinya tidak terlalu tertarik untuk melihat-lihat kota Semarang karena memang beliau sudah pernah juga ke Semarang Sebelumnya. Apalagi beliau memang sedang banyak urusan di Binjai untuk mengurusi Apotik yang ia kelola sehingga ia perlu cepat-cepat pulang. Tapi aku senang karena bisa mengantarnya ke Bandara Ahmad Yani Semarang bersama tunanganku Anny Riwayati. Di sana kami banyak bercerita dan berbagi. Ada segudang pesan yang disampaikan kepada kami berdua untuk bahu membahu menjalani hidup ini dan meminta kami setelah kuliah agar tinggal di Medan saja karena ada banyak hal yang perlu dibangun di sana terutama dalam membangun agama ini. Apalagi di tanah kelahiranku mayoritas adalah Nasrani dan tidak sedikit orang yang murtad dari agam Islam.

Akhirnya aku ucapkan terima kasih, semoga Allah membalas segala kebaikan dan pengorbanan kak Sulasteri  telah memberikan yang terbaik buat adiknya ini. Kepada kak Nurlela juga sama, meskipun Kakak belum merestui hubunganku bersama Anny, semoga suatu saat Allah akan menunjukkan jalan kebaikan kepada kita semua. Buat Anam dan Ayahanda, Putri dan Ibunda, jazakumullah khairan katsiran - semoga Allah memberi imbalan atas dukungan moril yang kalian berikan sehingga aku tegar dalam melangkah dan menatap masa depan.  

Akhirnya selangkah demi selangkah, aku menapaki perjalanan hidup ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk mengangkat kaki menyelusuri jalan panjang hidup ini. Allahummah Sahhil Umurana. Ya Allah, mudahkan urusan kami. Amin.
Share:

2 Comments:

  1. cerita yang menggetarkan, mas Azis..

    btw, kemarin An mampir ke Medan selama empat hari.. wah, kotanya lumayan sibuk ternyata.. bertemu sahabat lama di sana :)

    http://www.aniamaharani.blogspot.com/2012/12/medan-magnet-medan-part-1.html

    http://aniamaharani.blogspot.com/2012/12/medan-magnet-medan-part-2-end.html

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah langkah berikutnya juga dah terlaksana..
    Jalan-jalan ke Medan.. jadi kangen kampung halaman..

    BalasHapus